Connect with us

TV Series

Tampilkan Adegan Seks Penculik & Korban “365 Days” Dihujat

Jakarta, Layar.id- Film 365 Days atau yang biasa dikenal dengan 365 Dni menceritakan tentang seorang wanita yang jatuh cinta kepada seorang mafia. Berawal dari kehidupan Massimo Torricelli yang berubah 180 derajat setelah ayahnya dibunuh oleh lawan bisnisnya dan kemudian ia mengambil alih seluruh bisnis mafia keluarganya di Sisilia, Italia. Massimo adalah anggota mafia yang divisualkan seorang pemuda dan juga tampan. Film inipun dikenal sebagai film yang menyerupai 50 Shade of Grey dan bergenre thriller erotis. Meski pada situs rating IMDb film ini mendapatkan rating 3,7/10 namun film ini sangat populer sejak tayang 7 Juni 2020.

Bermula ketika Massimo melihat Laura lima tahun lalu sebelum keduanya benar-benar bertemu. Saat itu, Massimo kagum dengan kecantikan Laura. Namun Massimo dan ayahnya telah menjadi korban dari persaingan mafia dan Laura pun hanya menjadi bayang-bayang dalam mimpi Massimo. Laura hidup dalam hubungan asmara yang membosankan dengan seorang pria bernama Martin (Mateusz Lasowski). Hubungan intim yang cenderung dingin setiap harinya dengan Martin, meski pria itu melakukan hal tersebut demi kesehatan Laura yang memiliki jantung lemah. Hingga suatu hari, Laura dan Martin bersama teman-teman mereka pergi berlibur ke Sisilia. Di pulau dan resort yang mewah itulah, Laura bertemu dengan Morrone yang mempunyai karakter kasar dan beringas. Marrone yang kemudian menculik Laura dan menyekap  perempuan di salah satu kastil yang sangat besar. Alasan Morrone menculik Laura adalah untuk membuat Laura jatuh cinta dalam 356 hari. Jika dalam 356 hari Laura tidak jatuh cinta kepada mafia tersebut maka perempuan Polandia itu akan dibebaskan. Ya, film ini mengandung sindrom atau genre Stockholm. Sebagai informasi Stockholm syndrom adalah respons psikologis yang muncul pada sandera penculikan di mana mereka menunjukkan kesetiaan pada penyanderaan tanpa memperdulikan bahaya atau risiko yang ada.

Dilain sisi banyak netizen yang setelah menonton film tersebut memberikan respon negatif atau menjadi bahan pembicaraan karena menampilkan adegan seks antara korban dan penculik pada film ini.  Ada pula yang menyebutkan film tersebut sangatlah payah dan mirip dengan film-film porno karena hanya menjual sensualitas dan adegan ranjang saja. Jadi menurut kalian gimana pelayar, sudah nonton belum filmnya? [lil/ech]

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Popular

Netflix Tambahkan Fitur Layanan “Parental Controls” Netflix Tambahkan Fitur Layanan “Parental Controls”

Film-Film Terbaru yang Akan Tayang di Netflix Bulan Juli

Film

Kerja Sama Tayangkan Dokumenter Netflix di TVRI, Kemendikbud Dikritik DPR!

TV Series

Pemenang Oscar, Barry Jenkins Bersama dengan Leonardo DiCaprio Membuat Ulang Film Dokumenter ‘Virunga’ untuk Netflix

Film

Telkomsel Resmi Buka Blokirnya untuk Netflix!

Berita Hiburan

Advertisement
Connect
Newsletter Signup