Connect with us

Hi, what are you looking for?

Film Indonesia

Kontras Rilis Film Dokumenter Novum, Tentang Kisah Yusman

Yusman

Komisi untuk Orang Hilang dan Tindak Kekerasan (Kontras) merilis sebuah film dokumenter “Novum” tentang kisah pemuda asal Nias, Sumatera Utara, Yusman Telaumbanua. Yusman merupakan korban rekayasa kasus. Ia sempat divonis dengan hukuman mati oleh Pengadilan Negeri Gunung Sitoli. Yusman dituduh sebagai pelaku dalam kasus pembunuhan berencana.

Kontras mengatakan bahwa dengan dirilisnya Novum akan menjadi wadah pembelajaran agar kelak tidak ada lagi kasus serupa di mana terjadi kesalahan hukum dalam menetapkan tersangka kejahatan.

“Jangan sampai ada Yusman lainnya lagi yang sebenarnya tidak terkait dengan kasus, tapi divonis mati,” kata Kepala Divisi Hak Sipil dan Politik Kontras, Putri Kanesia.

Dengan adanya film tersebut, Novum diharapkan menjadi sarana pembelajaran warga agar lebih melek hukum.

Yusman Sudah Menghirup Udara Bebas

Butuh perjuangan panjang bai seorang Yusman untuk mendapatkan kembali kebebasannya. Putusan hakim yang menetapkan hukuman mati pada tahun 2012 silam telah ditolak oleh Mahkamah Agung pada Januari 2017 lalu. Dengan putusan tersebut, Yusman hanya diganjar hukuman 5 tahun penjara.

Pada Agustus 2017 lalu, Yusman kembali mereguk kebebasannya tepat di HUT Republik Indonesia. Lantas seperti apa perasaan Yusman mengenai film dokumenter tersebut?

“Sedih lihat filmnya. Keluar dari penjara tepat ketemu orang tua terdapat semangatnya. Sesudah terdapat movie semakin semangat,” kata Yusman.

Yusman

Yusman mengatakan bahwa film Novum menggambarkan perjalanan dirinya saat divonis hingga hari-hari yang dijalaninya selama mendekam di penjara. Yusman pun menceritakan bahwa dirinya sempat bertemu dengan John Kei. John Kei yang merupakan pelaku pembunuhan di gereja terkejut saat mengetahui bahwa Yusman dihukum mati.

“Dia (John kei) bilang, saya kasus pembunuhan orang juga, tetapi saya cuma dihukum 12 tahun. Sahabat anak kecil kok hukumannya tidak hidup (mati),” terang Yusman.

Tak hanya bertemu John Kei, Yusman juga mengaku mendapatkan dukungan dan semangat dari mantan Ketua KPK Antasati Azhar.

“Jadi bila PK itu harapannya bebas. Jadi bila PK sahabat diterima sahabat bebas, tetapi bila sahabat tidak diterima nanti sahabat diskusi, dia bilang gitu. Jadi sahabat tidak usah khawatir,” jelas Yusman perihal nasihat yang diberikan Antasari Azhar.

Kelebihan dan Harapan Film Novum

Dengan adanya film ini, Putri berharap agar masyrakat menjadi lebih paham dan melihat kejanggalan yang ada dalam kasus tersebut.

“Kita harus lihat banyak kehanggalan terjadi. Yusman disiksa, disuruh bohong soal umurnya. Film ini sangat baik untuk menambah pengetahuan kita bahwa mereka yang dijadikan terdakwa belum pasti salah,” kata Putri.

Putri pun berharap agar kedepannya siapapun berani untuk mengawal kasus kejahatan dan pengawasan agar tidak terjadi kasus yang serupa dengan yang dialami Yusman.

“Masyarakat harus aktif melakukan pengawasan untuk mencegah kasus Yusman terjadi kepada orang lainnya. Khusunya bagi mereka yang masih di bawah umur. Manusia punya hak hidup bahkan saat dia terdakwa juga punya hak yang harus dipenuhi negara.”

Kasus Yusman Hadir dalam Film Dokumenter Berjudul Novum

Kasus pembunuhan ini terjadi pada tahun 2012 silam, tepatnya di tanggal 24 April. Saat kejadian Yusman masih berada di bawah umur. Kala itu usianya baru 16 tahun, tetapi Yusman dipaksa untuk mengaku bahwa usianya telah cukup menanggung hukuman mati.

Yusman

Yusman berharap agar film  dokumenter tentang dirinya yang hanya berdurasi kurang dari setengah jam tersebut dapat membersihkan nama baik dirinya dan kakaknya yang dituduh sebagai pelaku kejahatan. Padahal Yusman memastikan ia dan kakaknya sama sekali tidak terlibat dalam kasus tersebut.

Kemalangan Yusman tak berhenti sampai disitu sebab pria yang mengaku buta huruf dan sulit berbahasa Indonesia ini harus merasakan pahitnya di penjara. Ia pernah disiksa oleh polisi dan berbagai hal buruk lainnya.

Film Novum Buka Mata Publik Soal Hukum

Staf Biro Kampanye dan Jaringan Kontras dan produser film Novum, Nisrima Nadhifah menekankan bahwa film Novum dibuat bukan untuk mendebat pro kontra hukum di Indonesia, melainkan untuk sarana bagi masyarakat tentang kasus janggal yang dialami Yusman.

“Tujuan kita ke depan adalah fokus bagaimana menjadikan kasus Yusman menjadi bentuk pembelajaran bagi banyak orang soal adanya hal-hal janggal dalam proses penegakan hukum kita, terutama ketika seseorang dijatuhi hukuman mati,” kata Nisrima.

 

Karya yang dimuat ini adalah tanggungjawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi layar.id.
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Advertisement
Advertisement

Baca Juga

Film

Layar.id – Bagi para pecinta film di Tanah Air, perlu diketahui bahwa Dedy Arliansyah Siregar bersama Lima Sembilan Vision siap mempersemahkan film komedi Indonesia...

Film Indonesia

Layar.id – Siapa sih yang tidak tahu Film Kejar Mimpi Gaspol? Pasti tahu kan? Yaps! Film Kerja Mimpi Gaspol ini berkisah dari seorang single...

Film Indonesia

Layar.id – Sinopsis ini diadaptasi dari novel “Sarcophagus Onrust” yang dituli oleh Astryd Diana Savitri. Hadirnya film tersebut sebagai salah satu bentuk pengembangan bisnis...

Film Indonesia

Layar.id – Film Indonesia tidak kalah sukses dari film-film luar. Apalagi Netflix menjadi platform streaming yang banyak diminati oleh penonton. Nah, di awal minggu...