Connect with us

Entertainment

Dunia Perfilman Mengalami Rugi Besar Akibat Covid-19, Apa Solusinya?

Dampak dari covid-19 banyak sekali merugikan masyakarat hingga ke berbagai daerah, bahkan negara. Hingga, hampir pada segala penjuru bidang merasakan kerugian akibat dampak virus ini. Industri film merupakan salah satu bagian yang terkena dampak covid-19. Bioskop di sejumlah wilayah terpaksa harus ditutup oleh pemerintah setelah adanya larangan aktivitas di luar rumah dengan tujuan memutus mata rantai penyebaran covid-19. Hal itu turut membuat industri perfilman melemah hingga merugi besar-besaran.

 

Jika dilihat secara global, dampak penyebaran covid-19 diperkirakan membuat industri perfilman global merugi hingga sebesar US$5 miliar atau setara dengan Rp.71,2 triliun. Salah satu seorang produser film tanah air, Chand Parwez Servia sempat mengatakan situasi pandemi ini sangat berdampak bagi industri perfilman Indonesia. Ia memprediksi dari 60 juta penonton di tahun 2020, saat ini hanya baru terealisasi kurang dari 20%nya saja. Sehingga kerugian diperkirakan mencapai triliunan rupiah.

Tak berkecil hati, Parwez berharap kepada banyak para pekerja dan para kreator film agar dapat mensiasati dampak permasalahan kerugian dengan berbagai cara salah satunya yaitu paling tidak dengan tetap melakukan pemutaran film secara online.

Di tahun 2019 lalu, terdapat 200 film yang berhasil diputar di layar lebar, dimana sekitar 127 film merupakan karya anak bangsa. Namun berbeda dengan tahun ini, dunia perfilman mengalami keterpurukan karena kehilangan banyak penonton hingga banyak berbagai film yang tidak dapat tayang di tahun ini. Jika dibayangkan, sama saja hal nya ketika seharusnya satu produser mengeluarkan sepuluh film, kini mungkin hanya dapat merilis tiga film dalam setahun. Bagaimana tidak rugi? Setengahnya pun tidak ada. Bahkan, tak sedikit para penggemar film yang beralih ke flatform online berbayar seperti Netflix, Viu, Iflix, dan lain-lain. Mereka rela membayar demi melanjutkan hobi menonton mereka hingga mengisi waktu luangnya selama berada dalam masa karantina diri. Hal ini juga menjadi sebuah alasan kerugian para pembuat film karena beralihnya para penonton pada flatfrorm film online. [may/ech]

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Popular

Story of Kale, Kisah Toxic Relationship?

Film

Jefri Nichol Hadir Kembali dalam Film Romantis “Seperti Hujan yang Turun ke Bumi”

Film

Film “Perempuan Tanah Jahanam” Terus Terpilih Dalam Festival-Festival Internasional

Film

Kisah Persahabatan Anjing dan Manusia Yang Manis, Segera Tayang di Bioskop!

Film

Advertisement
Connect
Newsletter Signup