Connect with us

Hi, what are you looking for?

Film Indonesia

Film Kerja Sama Indonesia-Swiss, Satu Hari Nanti Sasar Penonton Usia Dewasa

Satu Hari Nanti
Pemeran Utama Satu Hari Nanti

Jelang tayang pada awal Desember mendatang, film Satu Hari Nanti dikabarkan menyasar penonton berusia 21 tahun ke atas. Dengan kata lain film yang ditulis oleh Salman Aristo ini hanya dapat dikonsumsi oleh penonton dewasa.

Lantas apa yang menjadi pertimbangan Salman menyasar penonton dewasa?

Salman mengatakan bahwa sedari awal pihaknya memang mendaftarkan film Satu Hari Nanti ke LSF sebagai film dewasa karena banyak adegan yang kurang cocok dikonsumsi penonton di bawah usia 21 tahun.

“Pilihan rating memang sengaja. Bahkan saat kita submut ke LSF, kita minta untuk 21+ karena secara konten untuk usia sekitar itu. Tidak bisa dikonsumsi untuk 21 tahun di bawah. Kalau dianalogikan kita nggak akan mungkin membicarakan obrolan anak SMA di depan anak SD,” kata Salman.

Satu Hari Nanti

Para pemain Satu Hari Nanti

Alasan lain, Salman tak ingin setengah-setengah dalam menggarap film Satu Hari Nanti. Sehingga dalam menulis naskahnya, Salman tak sedikitpun memberikan celah untuk penonton remaja seperti kebanyakan film lainnya.

“Karena kalau kita membuat agar bisa disasar segmen remaja, filmnya jadi nanggung. Makanya kita garap pasar dewasa ini. Bicara betul-betul tentang mereka, jangan terpancing untuk meleset,” kata Salman.

Sebelum Menentukan Rating 21+ Tim Produksi Satu Hari Nanti Lakukan Riset

Dalam melabeli filmnya dengan rating 21+, Salman didukung dengan hasil riset yang dilakukan oleh pihak IKJ pada tahun 2016 silam. Hasil riset tersebut menunjukkan bahwa penonton antara usia 25 hingga 38 tahun berada di posisi kedua setelah rentang usia 18 hingga 25 tahun.

“Sebenarnya pemilihan 21 tahun bukan tanpa visi, justru ceruk pasar berdasar riset penonton Indonesia di tahun 2016, di 16 kota besar, penonton dengan range umur karakter tokoh film ini berada di nomor 2. Beda tipis 2% dengan range 18 sampai 25 tahun di nomor pertama. Jadi ini memiliki pasar yang besar sekali,” jelas Salman.

Film Satu Hari Nanti Hasil Kerjasama Pertama Indonesia dengan Swiss

Dalam proses pembuatan film, kerja sama dengan negara lain adalah hal yang wajar. Namun, bekerja sama dengan Swiss adalah pertama kalinya.

“Jadi Satu Hari Nanti set up 3 tahun lalu. Saya punya kawan di Swiss dan dia membantu buka link. Sampai akhirnya kita ada kerja sama dengan Kedubes. Syuting dikawal dan dibantu sama pemerintahan Swiss,” terang Salman.

Satu Hari Nanti

Poster Satu Hari Nanti

Tak hanya menampilkan keindahan alam Swiss yang menganggumkan, film ini juga mengandeng beberapa aktor asal Swiss. Salman mengatakan bahwa film yang menghabiskan waktu selama 26 hari di Swiss tersebut benar-benar menantang.

“Kerja sama dengan orang sana menantang banget. Kerja sama dengan negara yang tegas, nyaris kaku. Di mana film bukan menjadi industri utama di sana. Karena ketepatan mereka pembuatan film tidak memiliki bargain yang utama sehingga kita mencari celah,” jelasnya.

“Kreatififas dituntut untuk menjawab problem itu. Kalau dengan aktornya sangat menyenangkan saat proses casting, sangat tepat. Mendapatkan pemain yang cukup di atas rata-rata yang bisa ngimbangin mereka semua. Memudahkan saya untuk mengarahkan mereka,” lanjut Salman.

Pengalaman Deva Mahenra dan Ringgo Agus di Film Satu Hari Nanti

Berperan sebagai seorang musisi yang sedang merintis karir di Swiss bukanlah perkara mudah bagi Deva Mahenra karena ia dituntut untuk bisa bernyanyi.

“Pertama kali saya dipercaya tidak hanya berakting, tapi juga sebagai musisi. Bima, musisi yang sempat berkarir di Indonesia, tapi karena dia merasa punya mimpi yang besar dia sampai di Swiss,” kata Deva.

Meski memiliki latar belakang sebagai penyanyi, Deva mengaku bahwa berperan sebagai Bima sangat menantang karena memadukan antara akting dan menyanyi secara bersamaan.

“Tetap butuh keseriusan saat syuting, tapi beruntung kami dibantu sama pemain di sana. Saya nyanyi juga dan mengisi soundtrack juga,” beber Deva.

Satu Hari Nanti

Proses Syuting Satu Hari Nanti

Sementara Ringgo Agus yang berperan sebagai pemandu bernama Din mengaku bahwa kendala utama selama syuting adalah bahasa.

“Kendala utama sih bahasa karena bahasa yang aku pelajari di sini sama pas dipakai di sana beda banget malah orang sana enggak ngerti pas aku ngomong,” kata Ringgo.

“Jadi sampai sana kita belajar lagi, beda sama sebelumnya yang sampai langsung aja syuting karena pas di sana ternyata bahasanya ada percampuran Prancis-Jerman dan itu yang bikin aku sama pemain lain sempat bingung,” imbuhnya.

https://youtu.be/jqOL8PCrIdI

Karya yang dimuat ini adalah tanggungjawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi layar.id.
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Advertisement
Advertisement

Baca Juga

Film

Layar.id – Bagi para pecinta film di Tanah Air, perlu diketahui bahwa Dedy Arliansyah Siregar bersama Lima Sembilan Vision siap mempersemahkan film komedi Indonesia...

Film Indonesia

Layar.id – Siapa sih yang tidak tahu Film Kejar Mimpi Gaspol? Pasti tahu kan? Yaps! Film Kerja Mimpi Gaspol ini berkisah dari seorang single...

Film Indonesia

Layar.id – Sinopsis ini diadaptasi dari novel “Sarcophagus Onrust” yang dituli oleh Astryd Diana Savitri. Hadirnya film tersebut sebagai salah satu bentuk pengembangan bisnis...

Netflix

Layar.id – Film Indonesia tidak kalah sukses dari film-film luar. Apalagi Netflix menjadi platform streaming yang banyak diminati oleh penonton. Nah, di awal minggu...