Connect with us

Hi, what are you looking for?

Film

NOBAR: Film Drama Kolosal SULTAN AGUNG Tahta, Perjuangan, Cinta 

NOBAR: Film SULTAN AGUNG Tahta, Perjuangan, Cinta 

Last updated on 29 Agustus, 2018

SUDAH TAYANG FILM DRAMA KOLOSAL SULTAN AGUNG DI BIOSKOP TANAH AIR. FILM YANG MENGISAHKAN TENTANG SULTAN AGUNG BESERTA TAHTA, PERJUANGAN DAN CINTA.

Jakarta, Layar.id – Film drama kolosal Sultan Agung: tahta, perjuangan, cinta sudah tayang. Sebuah film besutan Sutradara Hanung Bramantyo kembali dirilis perdana pada Kamis, 23 Agustus 2018 kemarin.

Dalam film terbarunya ini, Hanung mengangkat tokoh Sultan Agung. Ia adalah tokoh yang selama ini digambarkan sebagai sosok penting dalam literatur Belanda. Salah satunya adalah keberanian dan ketegasan Sultan Agung untuk menyerang Batavia.

Film yang mengisahkan sepak terjang Sultan Agung ini bergenre drama kolosal.

Film Sultan Agung: Tahta, Perjuangan, Cinta ini diproduksi oleh Mooryati Soedibyo Cinema.

TENTANG SULTAN AGUNG

NOBAR: Film SULTAN AGUNG Tahta, Perjuangan, Cinta 

Sultan Agung Hanyokrokusuma adalah gelar kebangsawanan yang diterima oleh Raden Mas Rangsang, di saat Ayahandanya yaitu Panembahan Hanyokrowati, wafat.

Bukan perkara mudah baginya untuk menggantikan peran sang ayah memimpin Mataram. Meski berat, dan kala itu ia masih remaja belia, namun amanah tetap harus diemban. Tugas-tugas yang tadinya dilaksanakan oleh Ayahandanya, harus dijalankan.

Sultan Agung memegang tahta dari tahun 1613 – 1645. Ia adalah raja Mataram yang telah diangkat menjadi Pahlawan Nasional. Di bawah kekuasaannya, Mataram menjadi salah satu kerajaan terbesar di Jawa, hingga Nusantara pada saat itu.

Sultan Agung memiliki tugas besar.

Ialah menyatukan para Adipati di tanah Jawa yang tercerai-berai oleh politik VOC di bawah panji Mataram. Kala itu VOC dipimpin Jan Pieterszoon Coen.

Namun, di sisi lain Sultan Agung mengalami pergolakan di dalam hatinya. Ia harus mengorbankan cinta sejati.

Sultan Agung mencintai Lembayung, namun ia harus menikahi wanita trah ningrat yang bukan pilihannya. Sulit bagi Sultan Agung untuk menerima wanita ningrat tersebut di dalam hatinya.

Seperti dilansir filmindonesia.or.id, kemarahan Sultan Agung kepada VOC memuncak. Yaitu saat ia mengetahui bahwa VOC melanggar perjanjian yang sudah disepakati dengan Mataram.

Sultan Agung pun mengibarkan Perang Batavia, sampai akhirnya pimpinan VOC Jan Pieterszoon Coen meninggal, dan benteng VOC runtuh.

Dalam perjuangannya, Sultan Agung harus menghadapi berbagai macam pengkhianatan, termasuk dari orang terdekatnya.

Menjelang akhir hidupnya, Sultan Agung menghidupkan kembali padepokannya. Padepokan itu sebagai tempat belajar dan melestarikan tradisi serta karya budaya Mataram.

Di tahun 1645, Sultan Agung membangun makam kerajaan untuk raja-raja Jawa, di Imogiri, Bantul, selanjutnya sebagai pusat pemakaman Kesultanan Mataram.

AKTOR DAN AKTRIS PENDUKUNGNOBAR: Film SULTAN AGUNG Tahta, Perjuangan, Cinta 

Film berdurasi 148 menit tersebut diperankan sederet aktor dan aktris kenamaan Indonesia.

Mereka adalah Ario Bayu, Marthino Lio, Adinia Wirasati, Putri Marino, Lukman Sardi, Teuku Rifnu, Anindya Putri, Putri Marino dan Christine Hakim.

Aktor yang memerankan tokoh utama dalam film ini, adalah Ario Bayu. Ia pun membaca buku-buku tentang Sultan dan tokoh sejarah berkaitan dengan Sultan. Ini dilakukan agar ia bisa mendalami peran sebagai Sultan Agung.

Seperti yang diungkapkan kepada media, Ario mengaku kagum dengan semangat Sultan Agung. Beliau punya semangat untuk membebaskan diri dari penjajah.

Aktris yang memerankan Lembayung yaitu love interest-nya Sultan Agung adalah Putri Marino.

KHASANAH SEJARAH DAN BUDAYA

Seperti yang dilansir Antara, bahwa sang sutradara Hanung mengungkapkan ada alasan mengapa Sultan Agung harus menyerang Batavia.

Gambaran tentang tokoh Sultan Agung sangat minim, itu sebabnya Sutradara Hanung Bramantyo pun harus mencari banyak literatur demi menampilkan sosok Sultan Agung.

Hanung mengungkapkan, meski menceritakan sosok legenda Tanah Air, film Sultan Agung tidak bisa menjadi rujukan sejarah.

Ia mengatakan bahwa film ini sebatas untuk membantu mengembalikan ingatan anak-anak muda Indonesia akan sejarah tentang perjualan raja besar di pulau Jawa, yaitu Sultan Agung.

Meski tidak bisa menjadi rujukan sejarah, namun setidaknya film ini bisa menambah pengetahuan, dan bisa disaksikan di seluruh jaringan bioskop Tanah Air.

Mengenal sejarah bangsa sendiri adalah hal yang perlu dilakukan oleh generasi muda saat ini. Karena, bangsa yang besar tentu saja adalah bangsa yang menghormati sejarah bangsanya.

Pesan moral lain yang bisa dilakukan oleh generasi muda saat ini adalah mengenal budaya. Budaya adalah salah satu sumber kekuatan bangsa.

Di film Sultan Agung ini, ada banyak sekali nilai-nilai budaya khusus Jawa yang bisa dipelajari.

Contohnya adalah tutur bahasa, posisi duduk ketika menghadap raja, pemakaian batik, keris, dan hal lain-lain yang hanya bisa dipelajari saat menonton film ini.

Supaya tidak penasaran, yuk nonton bareng film Sultan Agung di bioskop kesayangan.

Karya yang dimuat ini adalah tanggungjawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi layar.id.

Baca Juga

Drama Korea

Jakarta, Layar.id – Kim Rae Won bersama Son Ho Jun dan Gong Seung Yeon dipastikan akan menjadi bintang utama dalam drama baru SBS. Drama...

Film Asia

Jakarta, Layar.id – Di antara film-film yang ditayangkan perdana di Sundance Film Festival 2021 adalah One For The Road karya sutradara Thailand Nattawut “Baz”...

Video

Last updated on 24 Januari, 2022 Jakarta, Layar.id – Sebuah film drama terbaru persembahan Falcon Pictures bertajuk Pelangi Tanpa Warna, akan mempertemukan kembali aktor...

Berita Hiburan

Last updated on 24 Januari, 2022 Jakarta, Layar.id – Sutradara Parasite, Bong Joon-ho sedang dalam diskusi untuk proyek film baru, yang kabarnya akan dibintangi...