Video

Resensi Film: A Quiet Place, Malapetaka Dalam Kesunyian

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
1

Diam adalah emas, itulah satu kalimat pepatah yang sepertinya sangat cocok di implementasikan kedalam film A Quiet Place ini. Dalam film ini juga mampu menciptakan malapetaka meski tanpa kata-kata.

Jakarta, Layar.id – Film A Quiet Place ini berkisah tentang perjalanan hidup keluarga Abbott di penghujung dunia. Penduduk bumi mulai punah karena diburu oleh sekelompok makhluk asing pemakan manusia.

Meskipun memiliki kebutaan dalam penglihatan mahluk tersebut akan tetapi sangat peka terhadap suara. Kesunyian menjadi kunci umat manusia jika ingin bertahan hidup. Apapun aktivitasnya semua manusia harus tidak menimbulkan suara sedikit pun atau seminal mungkin tidak bersuara keras.

Namun perjuangan Lee Abbott (John Krasinski) menjaga keluarganya lebih sulit dari itu. Selain tidak berbicara, dia juga harus menjaga tiga anaknya yang masih kecil, yang begitu sulit diatur.

Istri Lee, Evelyn Abbott (Emily Blunt), sedang dalam keadaan hamil dan dirinya melahirkan di tengah kepungan makhluk pemakan manusia yang sensitif terhadap suara, jadi awal petaka keluarga Abbott. Film ini begitu apik memanfaatkan kesunyian untuk menimbulkan kengerian. Detail-detail kecil tak dilupakan dalam penggambaran suasana dunia yang mulai sunyi.

Pada adegan pembuka, A Quiet Place sudah mengenalkan aura ketakutan secara jelas. Penonton akan mudah merasakan betapa mencekamnya hidup dalam kesunyian. Penjelasan tentang umat manusia yang hampir punah, lalu kemunculan makhluk asing, serta suara sebagai ‘sumber penglihatan’ makhluk itu dijelaskan lewat detail seperti headline surat kabar dan kosongnya jalanan.

Film ini juga menampilkan ‘simulasi’ pembunuhan dalam adegan pembuka untuk menjelaskan hal yang bisa terjadi jika seseorang terlalu berisik. Konflik yang dihadirkan juga sederhana karena mengambil fokus pada kehidupan sebuah keluarga. Pertentangan emosional antara ayah yang ingin menjaga keluarganya dan anak yang merasa terkekang, jadi adegan yang menarik.

Keputusan untuk menggunakan bahasa isyarat juga tidak bisa dianggap remeh. Di era film modern seperti sekarang, dialog tentu jadi ujung tombak sineas merangkai cerita. Namun tak berlaku di film ini. Hanya dua scene dari film A Quiet Place yang menampilkan pembicaraan lewat pengucapan kata. Selebihnya, gerak tangan dan ekspresi muka jadi sarana penyampai pesan.

Meski ada sulih bahasa di setiap kode isyarat yang disampaikan, sineas A Quiet Place berhasil merangkai cerita utuh yang disertai ketegangan nyaris tanpa dialog, dan itu mengesankan. Emosi penonton diincar agar tak perlu membuat takut bioskop dengan efek-efek kejutan layaknya film horor lain.

Alih-alih penuh teriakan ketakutan, bioskop justru turut hening karena penonton terbawa suasana. Meski begitu, film ini tidak menyuguhkan akhir cerita yang klimaks dengan kengeriannya seakan tak sampai ke puncak. Sampai film berakhir, tingkat kengerian cenderung sama dari awal sampai akhir.

Namun begitu, film ini mampu merajai Box Office dengan menggeser film Ready Player One. A Quiet Place sudah bisa disaksikan di bioskop di Indonesia sejak 3 April 2018.

COMMENT
Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
1
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top