Review Angkara Murka, Satu Demi Satu Arahnya adalah Serakah!

Adiyasa PrahendaFilm Indonesia1 year ago4.4K Views

layar.id – Kalau saja setiap orang itu bisa bersyukur mungkin tidak ada namanya serakah apalagi bunuh orang. Begitulah kisah dari Angkara Murka ketika para penambang batu dan pasir mencari untung ataupun sekedar ingin berusaha mencari tujuan. Namun di atas sendiri masih saja saling sikut maupun berusaha perkaya diri mereka. Itulah yang terjadi di Angkara Murka. Okelah, Review Angkara Murka kali ini kita angkat lebih detail.

Sebenarnya Angkara Murka sendiri apakah memang jadi film dengan nuansa Jawa ataukah ada subliminal message yang mau mereka sampaikan? Begitulah yang terjadi dengan kisah dari Angkara Murka kali ini.

Cerita Kita Percayakan Eden Junjung

Angkara Murka

Eden Junjung mungkin segelintir dari beberapa penulis sekaligus sutradara yang punya visi serupa. Keresahan akan kekuasaan dan rakusnya orang di atas membuat rakyat jelata pun harus menerima nasib sama. Entahlah begitu juga dengan perlawanan sesama rakyat itu sendiri.

Alhasil kekuatan rakyat yang tertindas itulah yang membuat Eden Junjung berusaha angkat di kisah Angkara Murka. Pasalnya, bagaimana Eden Junjung mengangkat persoalan rakyat jelata ini tidak terlalu menggurui. Coba kita simak deh, bagaimana Ambar mencari keberadaan suaminya dan ternyata ia dibunuh. Kemudian para penambang mencari keuntungan dengan cara mencuri permata.

Eden pun bisa ceritakan secara runut dan penuh dengan simbolik. Meskipun dari dialognya gunakan bahasa jawa masih terasa sekali campur aduk dengan bahasa Indonesia. Tetap saja, Eden tidak kehilangan esensi pesan yang mau dibawa olehnya, tentang keserakahan dan juga pemerasan rakyat kecil.

Seharusnya, Eden bisa memoles cerita dari Angkara Murka ini lebih flawless tanpa harus bermain Semiotika tingkat tinggi. Alih-alih bisa membawa arti tentang keserakahan malah mendorong ke sebuah perspektif kalau Angkara Murka itu adalah film Folklore menyeramkan.

Namun, yang membuat film ini berbeda adalah membawa dimensi pesan yang unik sekaligus kritik pedas ke pemerintah sekarang. Okelah Review Angkara Murka untuk cerita kita kasih nilai 8/10!

Akting Raihaanun Juara!

Akting raihanuun sendiri memang jadi juaranya. Satu sisi, sosok Ambar dan Raihaanun inilah yang berikan kesan berbeda. Itulah yang membuat Raihanuun sendiri kembali lagi berakting, setelah vakum lama dari dunia film.

Kemudian Simhala Avadana terkenal sebagai vokalis NuMata pun tampil apik. Jelas, karena dia berperan sebagai Lukman jadi lebih baik.

Tapi, Whani Darmawan sendiri adalah tokoh sentral dengan karakter yang lebih wah dan aktingnya beneran bikin kita agak bagaimana gitu. Entah kenapa beliau representasikan seseorang yang sekarang jadi pemimpin negara dengan tampilan sedikit jumawa dan arogan. Benar-benar penggambaran sangat nyata meskipun frame time sangat sedikit untuk sosok sentral seperti beliau.

Satu sisi, Rukman Rosadi menunjukkan akting dan pengalamannya. Tanpa dialog panjang pun rasanya sudah pasti Rukman Rosadi adalah satu dari beberapa nama yang sepatutnya ada dan membimbing setiap perjalanan akting dari seluruh film ini.

Kemudian Aksara Dena dan Alex Suhendra malah menunjukkan kelas akting paling atas. Bagaimana tidak, sebuah kenikmatan yang tidak dapat digantikan oleh siapapun. Alex Suhendra pun kami rasa punya andil besar sebagai Bogel dan kekuatannya ini membuat cerita malah lebih runut.

Belum lagi Aksara Dena sebagai Jarot malah menambah kesan kalau dia adalah sosok yang selama ini kita cari di film thriller. Tidak terlalu intimidasi tapi menambah kesan mistis di tengah tambang pasir tersebut. Sebenarnya Jarot itu kunci utama dari cerita ini. Jarot adalah saksi mahkota sekaligus korban dari tamaknya manusia demi sebongkah berlian.

Bagaimana soal Akting? Kita kasih angka 8.5/10!

Baca Juga: Angkara Murka, Eksperimen Ifan Isfansyah Buat Film Horor

Sinematografi Sudah Tentu Bagus

Ifan Isfansyah sendiri punya andil besar. Memang, Film ini dibawah tangan dari Forka Films namun Falcon Pictures ada sedikit andil meskipun kendali ada di Ifan Isfansyah. Tentu saja, semua kreativitas sendiri ada di tangan Eden Junjung. Mungkin inilah gambaran kalau pasangan ini bisa punya sinergi pas untuk berikan nuansa seram namun gambaran kelam dari namanya Raja Kecil di Indonesia.

Bisa bilang Angkara Murka masih punya karakter sinematografi yang terlihat jelas. Mulai dari suasana tone abu-abu ke gelap. Terus suasana desa di kaki gunung Merapi dan masih banyak lagi. Semua ini terpampang jelas di film tersebut.

Belum lagi shoot-nya beneran cuma dua tempat, tempat penambangan pasir dan rumah Ambar. Semua itu jadi lebih fokus dan tidak bikin orang pusing. Lantas apalagi ya? Pokoknya nyaris tanpa cela buat ukuran kita. Nilainya adalah 9/10!

Kesimpulannya sih Angkara Murka berani tunjukkan seperti apa kemelut raja kecil di Indonesia. Dan itu semua memang  beneran masih ada. Bahkan mereka gunkaan kekuasannya untuk lakukan segala cara. Hanya untuk mendapatkan sebuah jabatan yang sebenarnya tidak perlu namun langgengkan kekuasaan dan uang untuk anak dan cucu sampai generasi selanjutnya!

Karya yang dimuat ini adalah tanggung jawab penulis seperti yang tertera, dan tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi layar.id.

Loading Next Post...
Follow
Sidebar Search Trending
Popular Now
Loading

Signing-in 3 seconds...

Signing-up 3 seconds...