Review FINAL DESTINATION: BLOODLINES (2025)

Isaura SalsabillaFilm Barat1 year ago4.9K Views

Review Final Destination Bloodlines

Layar.id – Instalasi keenam dari serial fenomenal Final Destination rilis dengan judul yang berbeda dari film-film sebelumnya. Final Destination: Bloodlines jadi satu-satunya film Final Destination yang ngambil premis cerita berbeda. Di sini, semua kematiannya menyangkup di satu garis keluarga! Jadi, inilah Review Final Destination Bloodlines.

Film Final Destination: Bloodlines udah rilis sejak 14 Mei 2025. Kali ini, tim Layar.id akan memberikan review untuk Final Destination: Bloodlines. Spoiler alert! Artikel ini akan mengandung spoiler demi kebutuhan review, ya.

A Deadly Blood Chain

Sesuai judulnya, “Bloodlines” yang artinya garis darah atau keturunan, film keenam dari Final Destination ini mengambil premis yang lumayan unik. Ceritanya menggambarkan bagaimana Iris Campbell, seorang perempuan dewasa yang dapet penglihatan akan kematian orang-orang termasuk dirinya.

Tapi, lewat kematian itu, Iris justru berhasil menyelamatkan ratusan nyawa di tahun 1968. Nyawa-nyawa yang harusnya nggak hidup lebih lama lagi!

Namun, gerakan Iris justru membawa malapetaka yang jauh lebih besar bagi orang-orang yang selamat dari tragedy di tahun 1968. Orang-orang itu dan keturunan mereka. Yup, termasuk keturunannya Iris sendiri.

Penglihatan Iris menurun ke salah satu cucunya, Stefani Reyes, yang sering mimpi buruk tentang kematian Iris. Di momen yang sama, Irisnya belum mati, Gengs. Jadilah pertemuan Iris dan Stefani membuka semua fakta dan kemungkinan buruk yang akan terjadi pada keluarga mereka.

Kembali ke Masa Lalu… Kinda?

Uniknya, Final Destination: Bloodlines sekaligus ngejelasin makna dari “garis darah” itu sendiri. Contohnya, Iris punya sebuah buku yang berisikan sejumlah rekapan kasus-kasus kematian tragis dan misterius yang berhubungan dengan orang-orang dari tahun 1968.

Nah, semua kasus yang dikumpulin sama Iris itu menyenggol sejumlah film-film Final Destination sebelumnya!

Ada gambar pesawat yang meledak di film Final Destination pertama, yang saat itu ceritanya berfokus pada Alex Browning yang mau ke Paris. Ada juga gambar-gambar yang berkaitan dengan kasus dari film Final Destination 3—yang terkenal banget karena scene tanning bed dan rollercoaster. Bahkan sampe rel kereta vs mobil yang jadi ketakutan universal sejagat raya.

Namun, yang paling gruesome adalah keterlibatan the infamous truk kayu di film Final Destination: Bloodlines.

Yang Kureng-Kurengnya

Meski premisnya oke banget, kekurangan di film Final Destination: Bloodlines justru berada di segi kesadisan dan storyline-nya. Untuk berbagai macam “gaya kematian” yang ada di film ini, masih patut kita kasih jempol. Bikin ngilu banget meski agak konyol.

Chemistry antara Stefani dan adik serta sepupu-sepupunya: Charlie, Erik, Bobby, dan Julia juga serasa nanggung. Terutama karakter Julia yang agak ngambang dan tahu-tahu udah kekejar Death aja.

Nggak ada bayangan trauma atau kesedihan yang berarti setelah kematian sadis baru aja terjadi di tengah-tengah keluarga mereka. Mereka memang menangis, tapi tiba-tiba kepikiran untuk nge-cheat kematian tuh, agak tidak natural ya, Say.

Review Final Destination Bloodlines

Kurangnya emosi dan empati dari para karakter (terutama karakter sepupu) membuat storyline Bloodlines kerasa kayak cerita yang ditulis cepet-cepet dan langsung acc dosen. There’s so much to unpack yet everyone dies already.

Atau mungkin memang sesuai sama konsepnya: dikejar-kejar malaikat maut? Apakah malaikat maut-nya adalah JB? Tapi ada quote menarik dari JB (John Bludworth),  tentang arti hidup dan bagaimana bisa menikmati detik demi detik tanpa harus berpikir kematian akan menjemput seperti apa.

Erik Deserves Better

Review Final Destination Bloodlines

Di antara semua karakter, Erik Campbell adalah karakter dengan development terbaik! Erik, yang awalnya muncul dengan gaya slengean dan rada nyebelin, somehow berubah jadi sosok sepupu yang perhatian. Tampang boleh emo, hati tetep Hello Kitty.

Sebenernya, Erik punya rasa simpati-empati yang besar. Rasa itu terlihat dari cara Erik ngelindungin sodara-sodaranya. Cuma, ya.. eksekusinya agak konyol aja. Lu sih, Rik, pake main-main sama kematian! Hadeeeh…

Karena ngidenya sendiri pun, Erik harus menjalani sejumlah adegan yang bikin kita ngeliat doang udah serasa pengen kretekin badan. Punggung lebih tepatnya, sih. Ner bener senjata makan tuan.

Overall Review

Film Final Destination: Bloodlines adalah seri keenam dari franchise Final Destination yang agaknya menjadi akhir dari franchise ini. Hal ini berhubungan dengan bagian ending Bloodlines. Beberapa penggemar turut menyebutkan kalau Bloodlines adalah film penutup yang tereksekusi dengan cermat sekaligus membungkus keseluruhan franchise Final Destination.

Tim Layar.id memberikan skor 8/10 untuk Review Final Destination: Bloodlines. Banyak banget misteri dari keturunan Iris Campbell yang bisa kita kupas dari Final Destination: Bloodlines. Terutama tentang kasus-kasus tragis yang tersebar di seluruh dunia dari tahun 1968.

Yang pasti, kalo ada truk kayu tiba-tiba meleng, jangan lari ke depan truknya, deh. Atau dengerin lagu Without You yak!

Karya yang dimuat ini adalah tanggung jawab penulis seperti yang tertera, dan tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi layar.id.

Loading Next Post...
Follow
Sidebar Search Trending
Popular Now
Loading

Signing-in 3 seconds...

Signing-up 3 seconds...