Review Petaka Gunung Welirang, Konsep Lama Kemasan Baru?

Layar.id – Film horor bertema pendakian gunung bukan lagi sesuatu yang baru di perfilman Indonesia. Formula lima atau enam pendaki yang tersesat, melanggar pantangan, lalu diteror makhluk gaib sudah berkali-kali gunakan. Karena itu, wajar jika Review Petaka Gunung Welirang awalnya terasa seperti akan mengikuti pola yang sama.

Namun, justru di situlah kejutan film ini. Alih-alih hanya mengandalkan teror supranatural, sutradara memilih menempatkan drama persahabatan sebagai fondasi utama cerita. Hasilnya memang belum sempurna, tetapi cukup berhasil membuat film ini terasa berbeda bila membandingkan kebanyakan film horor pendakian.

Film ini mengikuti perjalanan lima sahabat yang merayakan kelulusan dengan mendaki Gunung Welirang. Perjalanan yang awalnya penuh canda berubah menjadi mimpi buruk ketika mereka memasuki kawasan Alas Lali Jiwo. Suara gamelan misterius menjadi awal dari berbagai kejadian ganjil hingga tiga dari mereka terseret ke dalam lingkaran dunia gaib. Pertanyaan mengenai apa yang sebenarnya terjadi kemudian menjadi penggerak utama cerita hingga akhir.

Cerita Masih Familiar, tetapi Penyampaiannya Berbeda

Secara garis besar, Petaka Gunung Welirang memang masih memakai formula yang sudah dikenal. Premisnya mengingatkan pada Pencarian Terakhir, Petaka Gunung Gede, hingga Sekawan Limo. Namun, film ini memilih memberikan porsi lebih besar pada perjuangan karakter dibandingkan sekadar menghadirkan rangkaian jumpscare.

Fokus cerita berada pada Arga, Satria, dan Naya. Ketiganya menjadi pusat emosi film sekaligus alasan mengapa konflik terasa lebih membumi. Saat mereka terjebak di Alas Lali Jiwo, yang terbangun bukan hanya rasa takut, tetapi juga hubungan persahabatan, rasa bersalah, dan perjuangan untuk bertahan hidup.

Karena itulah unsur horor justru tidak menjadi elemen yang paling dominan. Film ini lebih dekat dengan drama bertahan hidup yang dibalut suasana mistis daripada horor murni.

Konflik antara Arga dan Satria menjadi salah satu aspek terkuat film. Naya juga berfungsi cukup baik sebagai penengah di antara keduanya. Sayangnya, Noval dan Tita kurang mendapatkan ruang untuk berkembang sehingga penonton tidak benar-benar memahami karakter mereka ketika mulai terpisah dari kelompok utama.

Memasuki babak ketiga, kemunculan Putri Welirang sebenarnya memiliki potensi memperluas mitologi film. Sayangnya, sosok tersebut hanya muncul sekilas dengan penjelasan yang sangat minim sehingga penyelesaiannya terasa kurang memuaskan.

Meski begitu, penutup film ini terasa cukup realistis untuk ukuran horor drama. Ending-nya tidak memaksakan semua pertanyaan terjawab, tetapi tetap memberikan konsekuensi yang masuk akal bagi para karakternya.

Antonio Blanco Jr. Hidden Gem

Dari sisi akting, Antonio Blanco Jr. menjadi penampilan yang paling menonjol. Ia mampu membawakan karakter Satria dengan emosi yang konsisten, sosok yang terlihat kuat dan berani, tetapi perlahan memperlihatkan sisi rapuh ketika situasi semakin memburuk.

Giulio Parengkuan juga tampil meyakinkan dengan emosi yang terasa menyatu dengan cerita. Sementara itu, Tutus Thomson memberikan dukungan yang cukup baik meski porsi perannya tidak sebesar karakter utama.

Pada akhirnya, Petaka Gunung Welirang memang tidak mengubah formula film horor pendakian secara total. Namun, keberaniannya mengutamakan drama karakter dibanding sekadar teror membuat film ini memiliki identitas yang berbeda. Masih ada beberapa kekurangan, terutama dalam pengembangan karakter pendukung dan pendalaman mitologi Putri Welirang, tetapi secara keseluruhan film ini tetap berhasil menawarkan pengalaman yang lebih emosional daripada sekadar horor pendakian biasa.

Visual Sedikit Bingung

Dari sisi visual, Petaka Gunung Welirang cukup berhasil membedakan dunia nyata dan dunia gaib melalui penggunaan tone warna yang berbeda. Perubahan palet warna membuat penonton langsung menyadari ketika para karakter telah memasuki dimensi lain tanpa perlu banyak penjelasan lewat dialog.

Sayangnya, transisi visual antarlokasi belum sepenuhnya mulus. Perpindahan dari kawasan Alas Lali Jiwo hingga akhirnya berada di air terjun terasa terlalu mendadak sehingga orientasi ruang menjadi kurang jelas. Secara estetika memang menarik, tetapi penyusunan visualnya belum sepenuhnya membantu penonton memahami bagaimana perpindahan tersebut terjadi.

Kesimpulannya

Pada akhirnya, Petaka Gunung Welirang memang tidak berusaha menciptakan ulang formula film horor pendakian. Sebaliknya, film ini menyegarkan formula tersebut dengan memberikan ruang lebih besar bagi drama karakter dan konflik emosional para tokohnya.

Meski pengembangan mitologi, beberapa karakter pendukung, dan transisi visual masih menyisakan kekurangan, film ini tetap menawarkan pengalaman yang berbeda dibanding kebanyakan horor pendakian Indonesia. Bukan film yang merevolusi genre, tetapi cukup berhasil membuktikan bahwa formula lama masih bisa terasa segar jika kemasnya dengan pendekatan yang tepat. Jadi Review Petaka Gunung Welirang adalah 7,5/10

Karya yang dimuat ini adalah tanggung jawab penulis seperti yang tertera, dan tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi layar.id.

0 Votes: 0 Upvotes, 0 Downvotes (0 Points)

Loading Next Post...
Follow
Sidebar Search Trending
Popular Now
Loading

Signing-in 3 seconds...

Signing-up 3 seconds...