Review Saat Aku Bersuara, Pesannya Menohok!

Layar.id — Melihat kasus kekerasan seksual terhadap perempuan di Indonesia memang selalu menyisakan rasa geram sekaligus sedih. Banyak kasus yang muncul ke permukaan justru menunjukkan bahwa sistem masih belum cukup kuat untuk menahan perilaku bejat para pelaku. Semua keresahan itu terasa jelas dalam Review Saat Aku Bersuara kali ini.

Film ini mengikuti perjalanan Nadia, seorang pengacara muda cerdas yang diperankan Marshanda. Hidupnya mendadak runtuh tepat menjelang pernikahan. Dari titik terendah itulah, Nadia bangkit dan mendedikasikan dirinya untuk membantu para penyintas kekerasan seksual agar berani bersuara dan mencari keadilan.

Cerita yang Penting, Tapi Tidak Sepenuhnya Solid

Secara ide, film ini punya fondasi yang kuat. Kasus-kasus kekerasan seksual yang tampil pun terasa relevan dan dekat dengan realitas. Beberapa adegan bahkan cukup berani karena memperlihatkan proses yang biasanya hanya jadi sebuah pembicaraan di ruang publik, termasuk rekonstruksi kejadian yang membuat penonton ikut merasakan beratnya pengalaman para korban.

Masalahnya, kekuatan itu tidak imbangin dengan fokus narasi yang cukup rapi. Di tengah banyaknya kasus yang tampil, perjalanan pribadi Nadia justru terasa kurang jelas. Motif, arah konflik, dan tujuan emosional karakternya tidak tergali sekuat tema besarnya. Sehingga, ada lubang kecil yang akan jadi pertanyaan serius oleh penonton.

Akibatnya, film ini maunya membahas terlalu banyak hal termasuk kasus kekerasan seksual secara keseluruhan. Bukannya semakin kuat, pesan yang ingin mereka sampaikan malah terasa tersebar ke mana-mana. Padahal, jika film ini memilih satu atau dua kasus utama untuk digarap lebih dalam, dampaknya bisa jauh lebih menghantam.

Ada satu hal lain yang juga terasa janggal. Karena film ini produksi saat pandemi Covid-19, seharusnya ada ruang untuk memasukkan kasus-kasus yang saat itu sedang ramai jadi bahan pembicaraan publik. Banyak peristiwa kekerasan seksual dan KDRT justru menguat karena viral di media sosial, terutama Twitter yang sekarang menjadi X. Namun, sisi ini justru tidak terasa hadir dan terganti denan pendekatan lain yang kurang sekuat potensi aslinya.

Akting yang Mengangkat Film Ini

Kalau ada hal yang benar-benar menyelamatkan film ini, jawabannya ada pada akting. Marshanda tampil solid sebagai Nadia, sementara Teuku Rifnu Wikana memberi bobot emosional yang kuat. Kehadiran Ibnu Jamil juga ikut memperkaya dinamika emosi film.

Para pemain utama ini berhasil menutupi sebagian kelemahan struktur cerita. Mereka membuat film ini tetap terasa hidup, tetap punya nyawa, dan tetap layak diikuti sampai akhir. Tanpa performa para aktor, film ini bisa terasa jauh lebih datar.

Kesimpulan

Saat Aku Bersuara adalah film dengan niat yang benar dan pesan yang sangat penting. Ia ingin bicara soal keberanian, trauma, dan perjuangan penyintas untuk mendapat keadilan. Sayangnya, eksekusinya belum setajam gagasannya.

Ada potensi besar di sini, tapi film ini belum sepenuhnya mampu menggigit sekuat isu yang diangkat. Meski begitu, berkat akting yang kuat dan tema yang relevan, film ini tetap layak mendapat perhatian.

Karya yang dimuat ini adalah tanggung jawab penulis seperti yang tertera, dan tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi layar.id.

0 Votes: 0 Upvotes, 0 Downvotes (0 Points)

Loading Next Post...
Follow
Sidebar Search Trending
Popular Now
Loading

Signing-in 3 seconds...

Signing-up 3 seconds...