Film Indonesia

Ini Alasan Film Teman Tapi Menikah Rilis Lebih Awal

TTM
Like
Like Love Haha Wow Sad Angry

Yuk, intip alasan film Teman Tapi Menikah dijadwalkan tayang sehari lebih awal, 28 Maret 2018.

Produser Falcon Pictures, Frederica mengatakan bahwa alasan perubahan jadwal tayang Teman Tapi Mesra lantaran tanggal 29 Maret 2018 bertepatan dengan libur panjang, Jumat Agung, memperingati wafatnya Isa Almasih pada 30 Maret 2018.

“Karena bertepatan dengan libur panjang. Jadi kami meminta pihak bioskop untuk memajukan tanggal tayang film Teman Tapi Menikah. Yang awalnya tanggal 29 menjadi 28 Maret 2018,” kata Frederica.

Teman Tapi Menikah

Teman Tapi Menikah

Frederica pun berharap agar film yang diadaptasi dari novel berjudul sama ini diapresiasi oleh masyarakat Indonesia.

“Mudah-mudahan dengan tayang lebih awal, kita bisa menghibur banyak penonton,” harapnya.

Pembuktian Vanesha Prescilla di Dunia Akting

Imej Vanesha memang sudah lekat dengan tokoh Milea. Namun, baginya Teman Tapi Mesra menjadi pembuktiannya dalam berakting.

“Aku ingin buktikan bisa. Makanya jalani proses dari awal ada reading. Buat pendalaman karakter aku banyak ngobrol sama Ayudia. Aku juga nerima masukan dia gimana meranin karakternya,” kata Vanesha.

“Film Teman Tapi Menikah jadi pembuktian aku. Bagaimana mengeksplore akting aku. Bukan konsen keluar dari Milea, tapi mencoba masuk ke karakter Ayu,” lanjutnya.

Begini Ekspetasi Vanesha Prescilla dan Adipati Dolken

Vanesha mengatakan bahwa dirinya memang berharap agar penonton dapat menerima dengan baik film keduanya setelah Dilan 1990 ini. Namun, mengingat banyak penonton yang terlanjur menyukainya sebagai Milea, Vanesha tidak dapat memaksa.

“Kemarin sudah selesai dan sekarang tanggung jawab aku di sini dan kalau kita mau memenuhi ekspetasi mereka semua ya nggak bisa. Aku harap mereka paham,” katanya.

Teman Tapi Mesra

Adipati Dolken dan Vanesha Prescilla

Vanesha mengatakan jika karakter Ayu berbeda dengan perannya sebagai Milea.

“Karakter Ayu itu secuek itu dan bisa sebodo amat dan tomboy. Kalau ketemu sama Dito bisa lepas dan senyaman itu dan dia tau bahwa dia memang butuh Dito,” ungkap Vanesha.

Mengingat film Teman Tapi Menikah diadaptasi dari novel, pasti banyak perbandingan antara versi novel dan film nantinya, Adipati hanya berharap agar karakter barunya dapat diterima oleh penonton karena ia tidak bisa menyenangkan semua penonton yang menginginkan dirinya harus begini, harus begitu.

“Pasti pemain sedih kalau mereka hanya nyangkut di satu karakter. Kita mau menyenangkan semua penonton, kita punya niat dan usaha. Semoga bisa diterima masyarakat luas juga apa yang kita hadirkan. Kalau dijawab komentar mereka ya nggak akan selesai. Kalau buat kita sebagai pemain ya kita kasih yang terbaik aja lewat peran kita,” kata Adipati.

Teman Tapi Menikah

Keluarga Besar Teman Tapi Menikah

Adipati pun mengatakan bahwa bermain sebagai Dito adalah hal yang menyenangkan.

“Setiap karakter punya tingkat kesulitannya masing-masing. Segi cerita beda, di sini juga beda cerita bagaimana harus menahan hasrat gua harus suka sama Ayu dan ini lebih fun. Yang sebelumnya (Posesif) kan lebih serius gitu,” katanya.

Adipati menilai bahwa Dito merupakan sosok yang hebat karena sanggup menahan perasaannya terhadap Ayu selama belasan tahun.

“Dito itu, ya dia sabar bisa menahan emosi selama 12 tahun untu Ayu. Dia se-fun itu, ngocol juga, lepas juga sama kayak Ayu, tapi dibalik itu semua Dito memililiki perasaan lebih ke Ayu sebagai sahabatnya.”

Tantangan Sutradara Teman Tapi Menikah

Sutradara Rako Prijanto mengatakan bahwa bukan hanya pemeran yang mengalami kesulitan karena dirinya pun mengalami hal yang sama.

“Buat seorang sutradara, bikin film tuh kayak masuk ruangan berbeda-beda. Biopik, sekarang cerita anak SMA, kita pekerja seni harus bisa memahami itu semua,” katanya.

TTM

Novel Bestseller Teman Tapi Menikah

Untuk mendalami setiap karakter dan cara mengarahkan filmnya dengan tepat, Rako pun mengaku sempat membaca novel Teman Tapi Mesra.

“Ya kita baca novelnya, duduk bareng, dan bicarakan mau dibawa ke mana. Buku kan literature sastra yang beda banget dan diangkat ke film, mau di bawa ke mana,” ungkapnya.

Ia pun mengungkap tantangan menggarap film Teman Tapi Mesra.

“Tantangan saya adalah bagaimana ketika mengangkat point of view Dito yang 80 persen tiba-tiba berubah ke point of view Ayu. Kita bahas juga tentang perspektif dari mana harus kita tarik. Judulnya aja Teman Tapi Menikah, dari teman dan ujungnya menikah ya kita harus tahu mengalirkan ceritanya,” beber Rako.

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top