Review Para Perasuk (Levitating), Pesona Budaya Kesurupan

Adiyasa PrahendaFilm Indonesia1 month ago1.9K Views

Layar.id – Para Perasuk bisa dibilang sebagai salah satu film Wregas Bhanutedja yang paling estetik dan paling terasa “Wregas”. Setelah Lemantun, Prenjak, hingga Budi Pekerti, film ini terasa seperti pertemuan antara pengalaman personal sang sutradara dengan budaya yang kini semakin jarang dibicarakan, jatilan dan praktik kerasukan. Mungkin, inilah review Para Perasuk (Levitating).

Dari premisnya saja, Para Perasuk sudah menarik perhatian. Film ini tidak hanya mengandalkan elemen supernatural, tetapi juga memanfaatkan kerasukan sebagai pintu masuk untuk membicarakan ego, trauma, relasi keluarga, dan luka masa lalu yang belum benar-benar sembuh. Hasilnya adalah sebuah cerita yang terasa ganjil, intens, dan sesekali menohok.

Penasaran seperti apa ceritanya? Simak ulasannya di bawah ini.

Babak Ketiga Jadi Kunci Utama

Kalau banyak bertanya bagian mana yang paling penting di film ini, jawabannya ada di babak ketiga. Di sanalah Para Perasuk mulai memperjelas bahwa cerita ini bukan semata soal kerasukan atau dunia spiritual, melainkan tentang egoisme yang tumbuh di dalam keluarga, relasi antarsaudara, dan luka yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Ada banyak lapisan yang Wregas bawa ke film ini. Hubungan orang tua dan anak, konflik kakak-adik, sampai cara kuasa bekerja di dalam komunitas desa. Semua itu tidak tersaji dengan cara yang terlalu terang-terangan, tetapi cukup terasa lewat perkembangan Bayu dan Laksmi sebagai pusat emosional cerita.

Bayu mungkin punya ambisi untuk menjadi perasuk utama di desanya, tetapi Laksmi justru hadir sebagai pengingat bahwa konflik terbesar manusia sering kali bukan pada roh yang merasuki tubuh, melainkan pada ego yang sulit mereka kendalikan. Di titik ini, film ini bekerja cukup efektif saat menunjukkan bahwa trauma bisa melahirkan keinginan untuk menguasai, mengalahkan, atau dipahami secara sepihak.

Para Pemain Tampil Total

Salah satu kekuatan terbesar film ini ada pada para pemainnya. Dengan jumlah karakter yang cukup banyak dan sebagian besar berada dalam kondisi kerasukan, para aktor sendiri harus bisa tampil meyakinkan tanpa jatuh ke overacting. Secara umum, film ini berhasil menjaga keseimbangan itu.

Bryan Domani dan Chicco Kurniawan tampil cukup berani keluar dari zona nyaman mereka. Anggun juga mengejutkan, karena kehadirannya terasa mencuri perhatian di beberapa momen penting. Ini menjadi pembuka yang menarik untuk kemampuan aktingnya di layar lebar, terutama setelah lebih dikenal sebagai penyanyi.

Angga Yunanda sebagai Bayu juga membawa energi yang pas untuk karakter utama yang penuh beban batin. Di film ini, ia terlihat lebih lepas dan lebih organik bila bandingkan beberapa perannya sebelumnya. Sementara itu, Maudy Ayunda sebagai Laksmi memperlihatkan sisi yang berbeda, lebih dingin tetapi tetap menyimpan lapisan emosi.

Visual yang Indah, Tapi Tetap Perlu Pegangan Emosi

Wregas kembali menunjukkan kemampuannya memadukan dunia nyata dan dunia yang berada di ambang spiritual dengan gaya visual yang kuat. Adegan-adegan kerasukan pun mereka buat tidak sekadar menyeramkan, tetapi juga punya daya pikat visual yang cukup memikat.

Yang menarik, film ini tidak terlalu larut dalam ambiguitas. Penonton yang tidak akrab dengan konteks budaya yang diangkat tetap diberi cukup ruang untuk memahami apa yang sedang terjadi. Di sini terlihat bahwa Wregas tidak hanya ingin membuat film yang indah, tetapi juga film yang bisa dibaca.

Meski begitu, ada kalanya film ini terasa lebih sibuk membangun atmosfer daripada mengikat emosi penonton secara penuh. Beberapa lapisan temanya memang kuat, tetapi tidak semuanya mendapat porsi yang sama. Akibatnya, ada momen ketika film terasa seperti lebih fokus pada gagasan besar ketimbang kedekatan emosional yang konsisten.

Kesimpulan

Para Perasuk adalah film yang ambisius, indah, dan penuh lapisan makna. Wregas Bhanutedja kembali menunjukkan bahwa ia bukan sutradara yang puas dengan cerita lurus-lurus saja. Ia mengolah budaya, trauma, dan relasi keluarga menjadi satu pengalaman sinematik yang kuat.

Namun, justru karena ambisinya besar, film ini juga sesekali terasa padat dan agak berat untuk diurai. Tidak semua simbolnya langsung mudah ditangkap, dan itu bisa jadi kekuatan sekaligus kelemahan.

Tetap saja, Para Perasuk layak mendapatkan apresiasi sebagai salah satu karya Wregas yang paling menarik secara visual dan tematik. Bukan film yang nyaman, tapi justru di situlah daya tariknya. Skor Review Para Perasuk (Levitating) 8/10.

Karya yang dimuat ini adalah tanggung jawab penulis seperti yang tertera, dan tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi layar.id.

Loading Next Post...
Follow
Sidebar Search Trending
Popular Now
Loading

Signing-in 3 seconds...

Signing-up 3 seconds...