
Layar.id – Judulnya terasa familiar, seolah mengingatkan pada jargon film komedi tertentu. Tapi Ghost in the Cell jelas bukan sekadar komedi biasa. Film ini menjadi eksplorasi baru dari Joko Anwar dalam menggabungkan thriller, komedi, dan satire sosial ke dalam satu ruang yang sempit, Penjara. Inilah Review Ghost in the Cell!
Premisnya sederhana, namun penuh potensi. Berlatar di Penjara Labuhan Angsana, film ini mengikuti kehidupan para tahanan dengan latar belakang beragam, termasuk seorang wartawan yang harus menjalani hukuman di tengah lingkungan yang keras dan penuh kepentingan. Dari situ, cerita berkembang menjadi refleksi tentang kekuasaan, ketidakadilan, dan bagaimana individu bereaksi saat terjebak dalam sistem yang tidak berpihak.
Sebagai sutradara, Joko Anwar tampak sangat sadar dengan materi yang ia angkat. Ghost in the Cell terasa seperti hasil olahan dari berbagai keresahan publik. Mulai dari kritik sosial, suara netizen, hingga isu korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan.
Film ini secara terang-terangan menyoroti relasi antara pengusaha, pemerintah, dan eksploitasi sumber daya. Namun alih-alih disajikan sebagai drama berat, semuanya dibungkus dalam pendekatan satire yang kadang terasa absurd, kadang juga sangat langsung.

(sumber: Come and See Pictures)
Di titik ini, filmnya bekerja. Ia berani, lugas, dan tidak berusaha menyenangkan semua pihak, termasuk institusi yang terkenal korupsi.
Namun, ambisi tersebut juga membawa konsekuensi. Narasi yang terlalu padat membuat beberapa bagian terasa kurang rapi. Ada plot hole yang cukup terasa, terutama dalam pengembangan karakter wartawan sebagai penggerak cerita. Bahkan dalam konteks satire, inkonsistensi ini tetap terasa mengganggu ritme.
Dialog juga menjadi salah satu titik lemah. Beberapa percakapan terdengar seperti “ditulis untuk menyampaikan pesan”, bukan mengalir secara natural dari karakter. Akibatnya, interaksi antar karakter belum sepenuhnya terasa organik.

Aming di Ghost in the Cell (sumber: Come and See Pictures)
Salah satu kekuatan film ini ada di jajaran pemainnya. Terlihat jelas bahwa para aktor menikmati ruang bermain yang diberikan.
Interaksi antar karakter seringkali menjadi sumber humor utama, terutama dalam adegan-adegan yang terasa improvisasional. Duel komedi antara Morgan Oey dan Abimana menjadi highlight tersendiri—timing mereka solid, dengan energi yang terasa hidup di layar.
Namun di sisi lain, pendekatan yang terlalu santai ini juga berdampak. Beberapa karakter terasa lebih sibuk “melucu” daripada memperkuat narasi. Tone film yang seharusnya seimbang antara thriller dan satire kadang condong terlalu jauh ke komedi.

Dimas Kurniawan di Ghost in the Cell (sumber: Come and See Pictures)
Di antara semua, Aming menjadi salah satu yang paling menonjol. Perannya sebagai Tokek menghadirkan kombinasi antara absurditas dan intensitas yang unik. Ia berhasil menjaga karakter tetap menarik tanpa kehilangan arah, bahkan ketika filmnya sendiri terasa tidak konsisten.

(sumber: Come and See Pictures)
Dari sisi visual, ini adalah salah satu aspek yang paling solid. Joko Anwar kembali menunjukkan kekuatannya dalam membangun atmosfer.
Penjara tidak hanya menjadi latar, tapi juga simbol. Ruang sempit, pencahayaan yang kontras, dan komposisi visual yang terkontrol memperkuat kesan terkurung—baik secara fisik maupun sosial.
Ada juga sentuhan elemen horor yang disisipkan secara halus, menambah lapisan ketegangan tanpa mengganggu identitas utamanya sebagai satire.
Kesimpulan

(sumber: Come and See Pictures)
Ghost in the Cell adalah film yang ambisius, berisik, dan penuh ide. Ia tidak selalu rapi, dan di beberapa bagian terasa terlalu ingin mengatakan banyak hal sekaligus. Namun di saat yang sama, film ini juga menunjukkan keberanian dalam menyampaikan kritik dengan cara yang tidak konvensional.
Ini bukan karya paling solid dari Joko Anwar, tapi jelas salah satu yang paling eksploratif.
Kalau mencari film yang nyaman, ini bukan pilihannya. Tapi kalau ingin sesuatu yang berisik, provokatif, dan sesekali absurd, Ghost in the Cell layak untuk ditonton. Jadi rating Ghost in The Cell berapa? Kasih deh 8/10!






