Review Esok Tanpa Ibu, AI dan Ibu itu Beda!

Adiyasa PrahendaFilm Indonesia4 months ago464 Views

Layar.id – Sebenarnya apakah AI ini bisa membantu kehidupan kita? Jawabannya iya tapi bisa jadi masalah dalam hubungan antara keluarga. Sebenarnya apa sih emosional dan juga hubungan antara ayah dan anak remaja serta peran Ibu dalam membangun sisi emosional yang terjadi selama ini? Simak berikut Review Esok Tanpa Ibu.

Review Esok Tanpa Ibu

Ceritanya Rama lebih dekat dengan Ibu dan cerita soal apapun ke Ibu dan Ayah selalu saja gunakan berbagai macam hal yang mungkin enggan atau sulit komunikasikan. Karena itulah, cerita di Esok Tanpa Ibu ini beneran menyentuh sekaligus perlihatkan bagaimana komunikasi anak remaja di masa saat ini.

Development Cerita Penuh Haru

Ini sebenarnya bangun cerita dengan penuh haru. Kemungkinan membawa kisah antara ibu dengan anak. Tapi akhirnya berpisah, tapi mencoba untuk bangkitkan semua kenangan melalui sebuah aplikasi AI bernama i-Bu. Sebenarnya, ini pertama kalinya kita terbawa oleh kisah yang runut dan penuh dengan emosi. Mulai dari serunya bonding antara Rama dan Ibunya serta panggilan sayang Cimot-nya itu begitu terasa sekali.

Kemudian hubungan ayah dengan Rama pun ceritanya juga bisa terjalin rapih meskipun belum tahu kenapa Ayah selalu emosi dan kenapa ia enggan mengerti itu sepertinya butuh penjelasan lebih. Soalnya masalah komunikasi Rama dan ayahnya itu jelas di awal Film. Tapi motifnya apa belum jelas.

Tapi ya, semua ini tergambarkan di setiap babak dan AI i-Bu sendiri malah jadi alarm keras kalau kita pun tidak bisa bergantung dengan sebuah teknologi.

Akting Memukau Ali Fikri

Ali Fikri seperti membuktikan kalau memang di masa peralihan atau Remaja inilah akting sesungguhnya malah terlihat jelas. Emosional sebagai anak remaja dekat dengan ibunya pun terpampang jelas. Kemudian, bantuan dari Dian Sastro sebagai Ibu yang jembatani emosi dan Ayah dari Ringgo jelas berikan ruang lebih besar bagi Ali Fikri.

Begitu juga Ringgo dan Dian Sastro berikan chemistry sebagai orang tua namun satu sisi pancingan tepat untuk Ali Fikri keluarkan semua range emosi yang menjadikan film ini sama dengan apa yang sering terjadi dalam komunikasi keluarga dan anak remaja.

Bahkan peran pembantu seperti Nura Datau dan Bima Sena pun jadi teman yang supportif sekali. Tidak heran, kalau Film ini beneran bisa kasih rasa senang sekaligus emosional di dalamnya.

Sinematografi Apik Sekali

Sebenarnya dari segi sinematografi mah bagus banget. Pemandangan Kebun Teh dan masih banyak lagi desain unik terutama UI dan UX dari AI sendiri beneran minimalis tapi penuh dengan pesan. Mungkin sih jadi film dengan tone paling warm kali ini.

Secara film pun, rasanya ini film paling heartwarming dan beneran cocok untuk tontonan film bersama keluarga dan anak remaja. Reviewnya berapa sih? Kita kasih nilai 8/10 deh.

Karya yang dimuat ini adalah tanggung jawab penulis seperti yang tertera, dan tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi layar.id.

Loading Next Post...
Follow
Sidebar Search Trending
Popular Now
Loading

Signing-in 3 seconds...

Signing-up 3 seconds...