
Layar.id – Bicara film tentang AI dan masa depan, mungkin banyak sekali ragam dan jenisnya. Kemungkinan ada beberapa film yang bahasannya soal pengadilan dengan AI Robot yang beneran memilih apakah anda bersalah apa tidak? Itulah Review Mercy, sebuah eksperimen yang terasa seperti pertaruhan dan keberanian yang sengaja sekali mempersempit akal dan juga skala ruang pekerjaan di bidang hukum.
Bukan film aksi dengan ledakan di mana-mana, melainkan duel psikologis antara manusia dan sistem. Atau lebih tepatnya, antara satu orang pelaku, Hakim AI dan sebuah ruangan kecil yang siap menghukum mereka antara hidup dan mati. Seperti apa review kita? Simak dulu berikut ini.

Sebenarnya sih, Film ini menempatkan Chris Pratt di posisi yang tidak biasa. Ia bukan pahlawan penuh otot atau karakter sarkastik ringan seperti yang sering kita lihat sebelumnya. Di sini, Pratt menjadi Chris Raven, seorang detektif yang terikat di kursi, sendirian, menghadapi persidangan digital berbasis AI. Hakimnya bukan manusia, melainkan Judge Maddox, suara dingin dan presisi yang diperankan Rebecca Ferguson.
Sejak adegan pembuka, Mercy langsung saja berikan tekanan pada penonton. Tidak ada namanya intor panjang atau eksposisi bertele-tele. Kamera, dialog, dan seluruhnya mendukung kondisi dimana kita rasakan terjebak bersama Raven.
Dua puluh menit pertama nyaris hanya berisi percakapan, namun justru di situlah kekuatannya. Film ini paham betul bahwa ketegangan tidak selalu datang dari kejar-kejaran, tapi dari kata-kata yang dipilih dan jeda yang dibiarkan menggantung.
Narasi maju-mundur disusun lewat rekaman CCTV, potongan video call, dan fragmen memori yang terasa terpisah-pisah. Penonton harus banget aktif menyusun puzzle, bukan sekadar menunggu jawaban disodorkan. Di titik ini, Mercy terasa seperti permainan logika dimana kita harus berpikir inikah pelakunya atau Raven memang pelakunya?
Sayangnya, ritme cepat yang dijaga sejak awal justru membawa konsekuensi. Beberapa momen emosional terasa lewat begitu saja. Selain Pratt dan Ferguson, karakter pendukung tidak diberi cukup ruang untuk meninggalkan kesan. Bahkan ketika film beralih ke adegan aksi, intensitasnya terasa setengah hati. Alih-alih tegang, kita justru lebih tertarik kembali ke ruang sidang digital, mendengar pertukaran argumen daripada melihat proses pengejaran.

Chris Pratt jelas menjadi poros film ini. Gestur tubuhnya, perubahan intonasi, hingga ekspresi kecil di wajahnya membuat karakter Raven tetap hidup meski secara fisik nyaris tidak bergerak. Ini mungkin salah satu pembuktian terkuat bahwa Pratt mampu membawa film sendirian, selama materinya menuntut permainan emosi, bukan sekadar karisma.
Rebecca Ferguson pun mencuri perhatian, terutama di paruh kedua. Awalnya tampil kaku, dingin, hampir menjengkelkan sebagai entitas AI, ia perlahan berubah menjadi sosok yang lebih hangat dan ambigu. Perubahan ini terasa halus, meski sayangnya tidak sepenuhnya dimaksimalkan hingga akhir.

Masalah terbesar Mercy justru ada di penutupnya. Ending yang seharusnya menjadi klimaks emosional dan intelektual terasa terlalu aman. Plot twist yang sudah ada sejak awal akhirnya jatuh tidak bikin orang kaget, malah kesannya ini jadinya cuma penutup belaka tanpa ada kejutan besar dari persidangan tersebut. Malah cenderung tidak ada hal yang memorable.
Secara keseluruhan, Mercy adalah film bertema AI yang cerdas dan intens, dengan konsep yang brilian namun eksekusi yang sedikit menahan diri. Seperti missing tapi harusnya bisa lebih dari itu dan pastinya jauh lebih menarik, karena konsepnya sangat relevan dengan situasi saat ini. Review Mercy kita kasih deh angka 7/10!
Bukan film yang sempurna, tapi cukup berani untuk menunjukkan bahwa ketegangan bisa lahir dari satu ruangan, satu kursi, dan satu suara yang terus bertanya: are you really innocent?






