
Layar.id – Tidak ada yang lebih ajaib dari imajinasi anak-anak. Tapi, gimana kalau imajinasi itu bukan hanya bayangan semata, melainkan benar-benar terjadi di realita? Agaknya, ada sedikit rasa “iri” yang menyenangkan ketika menonton film The Magic Faraway Tree dan menyaksikan karakter utamanya, Fran, bertualang di tengah hutan dalam sebuah pohon ajaib. Pengen ikutan!
Film The Magic Faraway Tree adalah sebuah film petualangan fantasi yang mengadaptasi series buku karya Enid Blyton, The Faraway Tree. Mengisahkan keluarga Thompson yang baru pindah rumah dari kota ke pedesaan, film ini mengikuti petualangan anak-anak Thompson di sebuah pohon raksasa yang mengarah pada tangga ke berbagai negeri unik.
Berikut review NON SPOILER untuk film The Magic Faraway Tree dari Layardotid.

Nicaola Coughlan dan Jessica Gunning di The Magic Faraway Tree (sumber: Vertical)
Hal paling menarik dari The Magic Faraway Tree ada di cara film ini membangun dunia fantasinya. Pohon ajaibnya tampil cantik dan penuh warna. Di ujung tangga langit Pohon Nun Jauh, berbagai negeri muncul silih berganti.
Ada beberapa negeri yang disambangi oleh anak-anak Thompson. Misalkan seperti Negeri Manisan yang berisi banyak sekali cemilan manis, terutama cokelat dan jelly. Semuanya berukuran lebih besar dari kepala anak-anak!
Senang sekali melihat karakter-karakter eksentrik seperti Moonface, seorang pria berambut bulan, Silky sang peri hutan cantik berbaju daun hijau, Saucepan Man yang nyeleneh dengan panci-panci di tubuhnya, Mr. Watzisname yang selalu lupa nama aslinya, dan Dame Washalot yang gemar mencuci.
Pertemuan anak-anak Thompson, Fran, Beth, dan Joe, dengan orang-orang di Pohon Nun Jauh rupanya bukanlah sesuatu yang kebetulan. Ada imajinasi yang membawa mereka ke sana, dan dekat sekali dengan sosok di keluarga Thomspon sendiri.

Billie Gadson, Phoenix Laroche, dan Delilah Bennet-Cardy di The Magic Faraway Tree (sumber: Vertical)
Sayangnya, film The Magic Faraway Tree sedikit-banyak terkesan “hilang arah” dari segi ceritanya. Visual yang cantik seolah menjadi plester akan plotnya yang merenggang. Konflik yang dihadirkan juga terkesan nanggung, membuat beberapa bagian seolah diada-adain.
Meski begitu, perlu diingat bahwa film ini memang lebih menitikberatkan pada imajinasi anak-anak Thompson dan destinasi petualangan mereka di Pohon Nun Jauh. Perbedaan pandangan konflik orang dewasa dengan anak-anak tentunya memberikan kesan menonton yang berbeda.
Di banding sisi fantasi di Pohon Nun Jauh, plot cerita lebih terasa dekat dan menyentuh ketika anak-anak Thompson berada di lingkungan keluarga dan rumahnya. Jujur, setiap keluarga Thompson berkumpul di sejumlah adegan, rasanya hangat sekali melihat kebersamaan yang dibagi.
Bagian ini memberikan kesan pendewasan pada anak-anak Thompson ketika mereka di hutan versus mereka di rumah. Khususnya bagi Beth, anak pertama Thompson yang selalu menggerutu.

Dustin Demri-Burns dan Nonso Anozie di The Magic Faraway Tree (sumber: Vertical)
Layardotid memberikan skor 7/10 untuk film The Magic Faraway Tree. Mungkin ada baiknya untuk sedikit menurunkan ekspektasi sebelum menonton film ini.






