
Layar.id – Bagaimana jadinya jika seorang aktor papan atas Korea tiba-tiba kehilangan semua privilese yang ia miliki saat berada di negeri orang? Inilah Review Love Barista.
Premis itulah yang ditawarkan Love Barista. Kang Joon-woo (Lee Kwang Soo), seorang aktor yang tengah mengalami penurunan karier. Mendadak terlantar di Ho Chi Minh City, Vietnam, tanpa uang maupun paspor. Pertemuannya dengan Thao (Hoang Ha), seorang barista berbakat yang pernah menjuarai kompetisi dunia, perlahan mengubah cara pandangnya terhadap hidup sekaligus membuka jalan menuju kisah romansa yang sederhana.

Sayangnya, ide tersebut tidak berkembang jadi sesuatu yang benar-benar baru. Alih-alih mengeksplorasi benturan budaya, perbedaan status sosial, atau perjalanan emosional dua karakter dari latar belakang berbeda, Love Barista lebih memilih jalur drama komedi romantis yang aman. Alur ceritanya mudah ditebak dan konflik yang hadir tidak pernah benar-benar memberikan kejutan.
Hal yang cukup mengganggu justru datang dari penggunaan bahasa. Kang Joon-woo berbicara menggunakan bahasa Korea, sementara Thao bergantian menggunakan bahasa Vietnam dan Inggris. Meski film menjelaskan bahwa Thao fasih berbahasa Inggris, beberapa percakapan tetap terasa terlalu mulus sehingga logika komunikasi antar karakter terasa kurang konsisten. Akibatnya, ada beberapa momen yang justru membuat penonton bertanya-tanya bagaimana mereka bisa saling memahami dengan begitu mudah.

Beruntung, kekuatan terbesar film ini datang dari Lee Kwang Soo. Aktor yang selama ini terkenal lewat kemampuan komedinya kembali menunjukkan bahwa ia mampu membuat penonton tertawa hanya lewat ekspresi wajah, gerak tubuh, dan timing reaksinya. Hampir setiap momen canggung yang Kang Joon-woo alami terasa menghibur tanpa harus terpaksa.
Saat film mulai memasuki sisi dramatis, Kwang Soo tetap mampu menghadirkan emosi, meski persona komedinya yang begitu melekat membuat beberapa adegan sedih tidak sepenuhnya menghantam perasaan penonton.
Dari sisi lain, Hoang Ha tampil cukup natural sebagai Thao. Karakternya memang tertulis sebagai sosok yang lembut dan tenang, tetapi pendekatan tersebut membuat ekspresinya cenderung datar di banyak adegan. Chemistry keduanya tetap terasa hangat berkat interaksi sehari-hari yang sederhana, namun secara keseluruhan Lee Kwang Soo tetap menjadi pusat perhatian dan tampil jauh lebih dominan.

Selain chemistry kedua pemainnya, aspek visual menjadi kekuatan lain yang ada di Love Barista. Film ini memanfaatkan Ho Chi Minh City bukan sekadar sebagai lokasi syuting, melainkan bagian dari identitas cerita. Berbagai sudut kota, kehidupan jalanan, deretan coffee shop, hingga atmosfer perkotaannya ditampilkan dengan visual yang hangat dan nyaman dipandang.
Menariknya, film juga memperkenalkan kultur kopi Vietnam sebagai bagian penting dalam cerita. Lewat karakter Thao yang berprofesi sebagai barista sekaligus pernah menjuarai kompetisi dunia, Love Barista menunjukkan bahwa kopi bukan hanya pelengkap cerita. Tetapi menjadi bagian dari identitas budaya yang membentuk perjalanan kedua karakter. Pendekatan ini membuat Ho Chi Minh City terasa hidup dan memiliki peran tersendiri di dalam film.
Review Love Barista memang bukan rom-com yang menawarkan sesuatu yang revolusioner. Ceritanya berjalan aman dengan konflik yang cukup mudah ketebak. Sementara inkonsistensi penggunaan bahasa sesekali mengganggu pengalaman menonton.
Namun, chemistry Lee Kwang Soo dan Hoang Ha, komedi khas yang dibawakan Kwang Soo, serta visual Ho Chi Minh City yang berhasil mengangkat kultur kopi Vietnam menjadi alasan yang cukup kuat untuk menikmati film ini sebagai tontonan ringan.
Rating: 3,5/5






