
Layar.id – Film horor Filipina Bahay na Pula (Red House) hadir sebagai tontonan yang tidak hanya mengandalkan teror, tetapi juga memuat luka sejarah yang jarang dibahas secara terbuka. Disutradarai oleh Brillante Mendoza, film ini dibintangi Julia Barretto dan Xian Lim.
Berbeda dari film horor pada umumnya, Bahay na Pula menggabungkan elemen thriller dan supernatural dengan isu sensitif tentang perempuan Filipina yang menjadi korban kekerasan seksual selama pendudukan Jepang di Perang Dunia II.

Bahay na Pula – Red House
Brillante Mendoza dikenal sebagai sineas yang kerap mengangkat realitas pahit dalam karyanya. Sebelumnya, ia menuai pengakuan internasional lewat film Lola, yang bahkan mendapat sambutan kuat di Jepang.
Dalam Bahay na Pula, Mendoza terinspirasi dari kisah nyata sebuah rumah yang dikenal sebagai “Red House”, yang disebut berada di San Ildefonso, Bulacan. Rumah tersebut dipercaya menjadi lokasi penyekapan, penyiksaan, hingga pembunuhan perempuan Filipina yang dipaksa menjadi “wanita penghibur” oleh tentara Jepang. Sebagian bangunan rumah itu bahkan dikabarkan masih berdiri hingga kini.
Pendekatan ini membuat Bahay na Pula terasa lebih dari sekadar film horor, melainkan refleksi trauma kolektif yang diwariskan lintas generasi.

Xian Lim dan Julia Barretto dalam Bahay na Pula (sumber: VIVA Films)
Film Bahay na Pula menceritakan tentang pasangan muda bernama Raffy dan Jane yang ditugaskan untuk menyelesaikan seluruh persyaratan penjualan rumah leluhur keluarga mereka di kota Pola. Rumah tersebut telah dijual oleh ibu Raffy kepada sebuah perusahaan yang berencana mengalihfungsikannya menjadi resor wisata.
Namun proses penjualan itu tidak berjalan mulus. Masalah muncul ketika wali kota setempat menegaskan bahwa rumah leluhur tersebut memiliki nilai sejarah penting dan tidak boleh dihancurkan atau dipindahkan.
Di tengah konflik tersebut, Jane mulai mengalami mimpi-mimpi yang terasa sangat nyata. Mimpi itu perlahan mengungkap masa lalu kelam rumah tersebut, sekaligus membuka rahasia sejarah yang selama ini tersembunyi. Teror yang muncul tidak hanya bersifat supernatural, tetapi juga berakar pada tragedi kemanusiaan di masa lalu.

Julia Barretto (sumber: VIVA Films)

Xian Lim (sumber: VIVA Films)
Bahay na Pula menempatkan horor sebagai alat, bukan tujuan akhir. Teror yang dihadirkan tidak selalu berupa jump scare, melainkan rasa tidak nyaman yang tumbuh perlahan, seiring terungkapnya sejarah kekerasan terhadap perempuan.
Film ini mengajak penonton untuk tidak melupakan luka lama, sekaligus mempertanyakan bagaimana sejarah diperlakukan di era modern, terutama ketika berhadapan dengan kepentingan ekonomi dan pariwisata.
Bahay na Pula mulai streaming pada 25 Februari 2022 di Vivamax. (Elisa/Cris)






