Connect with us

Hi, what are you looking for?

Film

3 Film Ini Wakili Indonesia di BIFF 2017

Acara tahunan Busan International Film Festival (BIFF) 2017 yang digelar di Busan Cinema Center, Korea Selatan merupakan salah satu festival yang memberikan ruang bagi film independen di Asia.

BIFF 2017 sendiri dimulai pada Kamis (12/10/2017) dan akan berakhir pada Sabtu (21/10/2017) mendatang. Beberapa sineas dunia seperti Oliver Stone, John Woo, Hirokazu Koreeda dan Jia Zhangke pun turut hadir dalam BIFF 2017.

Acara ini dibuka dengan pemutaran film Glass Garden besutan Shin Su Won dan Love Education karya Sylvia Chang. Meski sempat bermasalah dan menjadi skandal besar yang melibatkan ketua BIFF sebelumnya yakni Lee Young Kwan di tahun 2014 lalu lantaran menayangkan film kontroversial Diving Bell: The Truth Shall Not Sink with Sewol, gelaran BIFF 2017 terbilang stabil.

Dalam festival ini ada 75 negara yang ikut serta dan menyumbangkan film-film yang berkualitas, tak terkecuali Indonesia. Dari 300 film yang akan disumbangkan ada 3 film karya sineas Indonesia.

Lantas film mana saja kah yang mewakili Indonesia dalam BIFF 2017 kali ini?

                                 

Film yang disutradarai oleh Kamila Andini ini menjadi satu-satunya wakil dari Asia yang tayang di Toronto International Film Festival 2017. Film besutan studio Tweewater Production dan Fourcolours Films ini dinilai tepat untuk mewakili Indonesia dalam BIFF 2017.

Hal tersebut bukan tanpa alasan sebab film ini dibuat secara serius bahkan telah menghabiskan waktu selama 5 tahun. Kisahnya sendiri tentang anak kembar laki-laki dan perempuan atau yang kerap disebut kembang buncing dalam masyarakat Bali.

The Seen and Unseen wakili Indonesia di BIFF 2017

The Seen and Unseen menampilkan unsur-unsur holistik, budaya, kesederhanaan, imajinasi dan kreativitas serta hal magis. Tak heran bila film ini menuai banyak pujian setelah pemutaran perdananya.

Kamila mengungkap bahwa dalam filmnya ini ia ingin menonjolkan hal yang berbeda dari film yang pernah ada.

“Anak-anak selalu memiliki paradigmnya sendiri dan melepas paradigm itu menjadi hal menarik yang ingin saya eksplor. Kematian dan jam malam adalah 2 topik yang asing dengan anak-anak. Keasingan inilah yang ingin saya gambarkan dalam bentuk berbeda.”

The Carousel Never Stops Turning

Film ini masuk dalam nominasi Kim Jiseok Award dan bersaing dengan 9 film lainnya yang berasal dari Taiwan, India, Nepal, Tiongkok dan lainnya.

Film ini bercerita tentang warna-warni kisah kehidupan manusia. Ada beberapa kisah yang digambarkan dalam film ini seperti cerita tentang akuntan yang gagal move on dari mendiang istrinya. Ada juga kisah pelacur yang berusaha keras untuk melarikan diri sampai kisah petani korban penggusuran dan wanita yang mencari-cari pembunuh ibunya.

The Carousel Never Stop Turning akan ditayangkan di BIFF 2017

Ismail Basbeth mengatakan bahwa The Carousel Never Stop Turning merupakan kisah yang diilhami dari kejadian di sekitar.

“Film ini menampilkan sekelumit persoalan Indonesia saat ini yang terpaut dengan begitu banyak persoalan-persoalan di masa lampau yang tidak juga selesai dan terus menghantui. Sejarah panjang kekerasan politik dan ekspoitasi sumber daya manusia dan ekonomi yang begitu merugikan rakyat banyak dan dinikmati segelintir orang saja,” bebernya.

Marlina the Murderer in Four Acts

Film yang dibintangi Marsha Timothy ini telah ditayangkan di berbagai festival film dunia bahkan direncanakan tayang di bioskop Kanada di tahun 2018 mendatang.

Michael Paszt perwakilan distributor di Kanada mengatakan bahwa film Marlina the Murderer in Four Acts ini merupakan karya yang sangat bagus sehingga pihaknya tertarik untuk mendistribusikannya.

“Mouly Surya telah membuat sebuah film yang luar biasa tentang tokoh perempuan feminis. Kami berharap dapat membawanya ke teater di Kanada,” kata Michael.

Marsha Timothy dalam film Marlina the Murderer in Four Acts

Filmnya sendiri bercerita tentang Marlina, seorang janda asal Sumba yang berani menghabisi nyawa sekawanan perampok yang hendak merampas barang-barang di rumahnya. Marlina kemudian membawa kepala Markus ke kantor polisi.

Mouly mengatakan bahwa ia mempersembahkan film Marlina ini pada kaum hawa.

“Saya menyebut karya saya yang satu ini sebagai celebration of feminism. Film ini nggak serius-serius banget. Marlina itu fun, quirky dan menyenangkan dan mewakili banyak perempuan,” ungkap Mouly.

Nah itulah 3 judul film karya anak bangsa yang mewakili Indonesia dalam BIFF 2017 di Busan. Dunia perfilman Indonesia semakin keren ya!

 

 

 

Karya yang dimuat ini adalah tanggungjawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi layar.id.
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Advertisement
Advertisement

Baca Juga

Film Indonesia

Layar.id – Industri perfilman Indonesia telah banyak melahirkan genre dan alur cerita yang menarik dengan topik yang beragam. Sebagai contoh banyak film yang mengangkat tema...

Film Indonesia

Layar.id – Amazon Prime Video telah memutuskan untuk terus mendukung industri konten lokal dengan mengumumkan rencana peluncuran delapan film Indonesia baru. Dua di antaranya,...

Amazon Prime Video

Layar.id – Penuh inspirasi, salah satu film indonesia genre drama laga yang berjudul Pengejar Angin ini wajib sobat tonton. Apalagi Qausar Harta Yudana sebagai...

Berita Hiburan

Layar.id – Sebuah film menjadi populer tidak lepas dari dukungan soundtracknya. Hal ini salah satu elemen yang penting untuk membuat sebuah karya film dan...