
Layar.id – Jika membahas Sekawan Limo 2: Gunung Klawih bisa dibilang sekuel ini mencoba melanjutkan formula dari film pertamanya. Namun, di balik alur cerita yang terasa lebih sederhana, kekuatan utama film ini justru datang dari dua karakter, Beni dan Firza.
Alih-alih mengandalkan horor yang intens, film ini lebih nyaman dinikmati sebagai komedi dengan celetukan absurd yang mengalir di sepanjang cerita. Dari pendekatan inilah justru daya tarik utamanya muncul.

(sumber: Starvision, Skak Studios)
Secara garis besar, Sekawan Limo 2 masih menggunakan formula serupa dengan film pertamanya. Bedanya, konflik kali ini lebih berpusat pada Andrew. Sayangnya, pengembangan cerita di sekelilingnya terasa tidak selalu kuat karena sebagian besar justru terisi dinamika Bagas dan kawan-kawan yang kadang terasa seperti filler.
Masalah Andrew sebenarnya cukup menarik untuk menjadi fokus utama. Namun di sisi lain, konflik Bagas dengan Lenni terasa seperti sesuatu yang sebenarnya bisa selesaikan dengan lebih sederhana. Bahkan chemistry kebersamaan seperti di film pertama terasa sedikit berkurang karena karakter-karakternya lebih banyak berjalan dengan urusan masing-masing.
Sementara itu, konflik Bagas sebenarnya punya potensi emosional yang cukup kuat. Darimana Lenni kini sudah lulus dan mulai bekerja, sedangkan Bagas masih terjebak di fase yang sama karena skripsinya belum juga selesai. Ketimpangan ini perlahan menciptakan jarak di antara keduanya.
Sayangnya, konflik tersebut terasa belum tereksplorasi maksimal. Alih-alih menjadi benang merah emosional yang kuat! Malah dinamika Bagas dan Lenni terkadang terasa berjalan sendiri dan kurang menyatu dengan konflik utama Andrew.
Padahal, isu tentang pasangan yang mulai berada di fase hidup berbeda sebenarnya cukup relevan dan dekat dengan banyak penonton. Apabila ini masuk jadi masalah kedua, akan lebih seru dan bisa menutupi masalah jimat pengasihan yang Dicky inginkan.

(sumber: Starvision, Skak Studios)
Di tengah cerita yang terasa biasa tersebut, justru Juna dan Dicky tampil cukup menyegarkan. Kombinasi keduanya membawa energi komedi yang lebih dominan dibanding unsur horornya sendiri. Hasil akhirnya, Sekawan Limo 2 terasa lebih seperti film komedi dengan sentuhan horor ringan.
Mungkin memang itu tujuan utamanya: membuat film yang lebih ramah untuk penonton luas tanpa terlalu mengandalkan rasa takut berlebihan.

(sumber: Starvision, Skak Studios)
Kalau ada alasan utama kenapa film ini tetap terasa menyenangkan, jawabannya ada pada Beni dan Firza.
Beni benar-benar menjadi pusat komedi di film ini. Hampir sepanjang durasi, karakter ini sukses menciptakan kekacauan yang justru mengundang tawa. Timing komedinya terasa pas dan tidak dipaksakan.
Sementara Firza Valaza hadir sebagai tandem yang sama kuatnya. Celetukan-celetukan nyelenehnya berhasil memancing reaksi dari hampir semua karakter lain, termasuk dalam interaksinya bersama Cak Kartolo yang jadi beberapa momen paling menghibur di film.

(sumber: Starvision, Skak Studios)
Sayangnya, Bayu Skak dan Nadya Arina terasa kurang mendapat ruang bermain yang cukup. Padahal keduanya punya potensi untuk memberi dinamika lebih besar pada cerita. Terutama dari segi masalah yang mereka punya itu.
Begitu pula duet Cak Kartolo dan Marwoto yang sebenarnya terasa sayang jika tidak maksimalkan secara penuh. Dua nama besar komedi Jawa Timur ini punya chemistry yang seharusnya bisa kasih porsi lebih banyak, apalagi untuk menarik penonton lintas generasi.

(sumber: Starvision, Skak Studios)
Dari sisi visual, Sekawan Limo 2 terasa lebih terang dan ringan dibanding ekspektasi film horor kebanyakan. Tone visual yang lebih cerah seolah mempertegas bahwa film ini memang lebih mengutamakan unsur hiburan dan rasa fun ketimbang ketegangan murni.
Pilihan ini cukup masuk akal mengingat keseluruhan atmosfer film juga terasa lebih santai dan penuh humor.

(sumber: Starvision, Skak Studios)
Sekawan Limo 2: Gunung Klawih mungkin tidak menawarkan cerita yang benar-benar spesial. Konfliknya terasa cukup standar dan beberapa karakter terasa belum dimanfaatkan maksimal.
Namun satu hal yang membuat film ini tetap bekerja adalah kekuatan komedinya. Beni dan Firza tampil sebagai duo penyelamat yang berhasil menjaga energi film tetap hidup dari awal sampai akhir. Dan seperti biasa, Bayu Skak masih menyimpan kejutan-kejutan kecil yang membuat filmnya tetap punya identitas sendiri.






