Review “Petaka Gunung Gede”, Klimaks Cerita Podcast Maiia Story

Layar.id – Film Petaka Gunung Gede yang mengangkat kisah nyata dari Maiia Azka sudah tayang di bioskop mulai 6 Februari 2025! Sutradara Azhar Kinoi Lubis dan penulis Upi Avianto banyak banget brainstorming bareng Maiia Azka untuk menceritakan kisah pendakian Gunung Gede secara keseluruhan. Buat kalian yang sering mantengin podcast horror, mungkin pernah dengar kisah yang satu ini. Nah, penasaran bukan seperti apa review Petaka Gunung Gede kali ini?

Di tahun 2007 silam, Maiia dan sahabatnya, almarhumah Ita, mendaki Gunung Gede bersama-sama. Namun, banyak banget keanehan yang terjadi di sana sampai membawa nasib buruk pada wafatnya Ita. Cerita dari Maiia ini sudah beredar di berbagai platform sosial media dan mendapat total lebih dari 15 juta viewers di Youtube.

Berikut adalah review dari Layar.id untuk film Petaka Gunung Gede. But spoiler alert! Artikel ini akan mengandung spoiler demi kebutuhan review ya.

Plot Review: Pendakian ke Gunung Gede

Review Petaka Gunung Gede

Dari review Petaka Gunung Gede, sebagai garis besarnya, Petaka Gunung Gede berawal dari dua sahabat bernama Maya dan Ita yang sama-sama berniat mendaki ke Gunung Gede untuk mengisi waktu liburan mereka. Nah, karena mereka sama-sama pemula, Ita dan Maya bergabung bareng kelompok abangnya Maya, Indra, yang udah lebih berpengalaman naik gunung.

Ketika prepare, sebenernya ibunya Ita khawatir banget sama anaknya. Tapi karena bujukan Maya dan bapak Ita, akhirnya Ita dapet izin buat naik gunung. Saat mereka sampai di sana, ternyata Ita menstruasi.

Bisa ditebak ya. Ita tetep ngeyel untuk naik, sedangkan Maya, Indra dan temen-temennya—Ale, Ucup, Akri dan Yadi—nggak bisa maksa mereka untuk balik. Meski berkali-kali Yadi dan Akri terus memaksa Ita untuk turun, tapi pendakian tetep dilanjutin. Jujur agak gemes sih, karena hal ini justru jadi boomerang buat mereka sendiri.

Plus Minusnya: Ngeyel dan Minim Leadership

Review Petaka Gunung Gede

Awalnya, dari kisah yang beredar di sosial media, netizen memang berspekulasi kalau dari menstruasinya Ita adalah titik pertama kesalahan pendakian tersebut. Ya, alasan medisnya sih karena orang yang menstruasi itu bisa jadi kekurangan darah saat pendakian, sama dengan olahraga berat. Kalau dari sisi kepercayaan, naik gunung dalam keadaan haid itu bisa mengundang nasib buruk dari para “penunggu” gunung.

Yang saya lihat dari segi storyline-nya (btw, kata Kak Maiia, kisah aslinya bener-bener sama seperti di film. Jadi nggak ada yang ditambahin atau dikurang-kurangin) adalah nggak ada leadership, meski sebagian dari mereka sudah lebih berpengalaman saat naik gunung. Ini jadi kegregetan tersendiri buat saya.

Tapi sedikit-banyak saya ngerti kenapa Maya dan Ita tetep ngeyel supaya pendakian itu tetep dilanjutin—semata karena mereka pengen banget naik gunung! First timer pula.

Selain itu, proses “penyembuhan” Ita setelah pulang dari gunung juga berhasil terkupas satu per satu dengan apik dan nggak bertele-tele. Rasanya saya terus mempertanyakan, “Ini jadinya gimana?” karena alurnya nggak ketebak. Demi pembaca semua, saya nggak buka apa yang terjadi pada Ita ya. Silakan saksikan sendiri dan cari tahu jawabannya di film Petaka Gunung Gede.

The moral of the story: kalau ada teman sekelompok kalian yang kelihatan nggak kuat jalan waktu lagi liburan, jangan maksa! Selain fisik yang kurang fit, kita juga nggak tahu apa yang bakal terjadi ke depannya.

Memori dan pengalaman memang berharga, tapi kesehatan dan kebugaran adalah sesuatu yang mahal dan HARUS kita jaga saat berlibur. Setuju?

Character Review: Maya, Ita dan Tim Gunung

Karakter favorit saya tentu saja Ita yang diperankan sama Adzana Ashel. Ita adalah gambaran gadis yang periang dan penyayang. Beda sama Maya (Arla Ailani) yang lebih dewasa, karakter Ita tampak lebih kekanakan. Jujur klop banget sama Maya yang lebih calm and collected.

Karakter Maya adalah sosok yang tenang tapi juga perhatian. Maya dan Ita bener-bener ngasih bayangan best friend di kepala saya. Best friend kentel yang bener-bener kayak saudara sendiri! Salah satu scene favorit saya adalah Maya dan Ita nyanyi-nyanyi “Yeay yeay, ke gunung!” dan waktu mereka duduk di bak mobil.

Review Petaka Gunung Gede

Chemistry Maya dan Ita dengan tim Gunung di film dan di real life pun beda banget. Ada Ale yang paling sering naik gunung (FYI, Endy Arfian yang meranin karakter ini aslinya paling pro soal ngedaki di antara all cast!). Lalu ada Indra, kakak Maya yang selalu khawatir sama adik-adiknya. Kalau urusan komedi dan tawa kita serahkan pada karakter Ucup (karakter favorit saya di tim ini). Kalau yang paling rasional, logis dan keras, jelas karakter Akri. Untuk yang lebih kalem, ada di sifat karakter Yadi.

Tim Gunung sendiri menurut saya kurang ter-highlight di film. Mungkin karena filmnya memang lebih pengen menonjolkan ceritanya Ita dan Maya. Tapi, chemistry para cast waktu di media doorstop seolah nunjukin kalau tim mereka adalah tim yang udah berkali-kali liburan bareng!

Overall Review

Oke, dari segi pengambilan gambar, film Petaka Gunung Gede menyajikan sejumlah pemandangan cantik khas Gunung Gede. Nggak bohong, pas nonton saya rada keinget sama film 5 CM. Bedanya yang satu ini bikin saya kaget-kagetan terus sama jumpscare-nya. Tetapi, scene Ita dan Maya di padang bunga bener-bener buat saya terharu sekaligus terpana akan betapa cantiknya Gunung Gede.

Minusnya, karena pemandangannya kelewat cakep dan serbahijau (alias bikin adem mata!) efek horrornya jadi kurang terpancar. Agak jauh dari bayangan “gunung adalah tempat sakral” yang tanpa banyak editan sudah sukses ngasih kesan eerie-nya tersendiri.

Dari segi plot, karakter, dan sinematografi, tim Layar.id memberikan skor 7/10 untuk review Petaka Gunung Gede. Berhubung film ini mengadaptasi kisah nyata yang dialami oleh Maiia Azka dan almarhumah Ita, banyak sekali pelajaran yang bisa dipetik dari film Petaka Gunung Gede.

Emang kalau cerita horror asli, seremnya juga beda, deh!

 

Jangan sampe kelewatan nonton film Petaka Gunung Gede, mulai 6 Februari 2025 di seluruh bioskop Indonesia, ya!

Karya yang dimuat ini adalah tanggung jawab penulis seperti yang tertera, dan tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi layar.id.

Loading Next Post...
Follow
Sidebar Search Trending
Popular Now
Loading

Signing-in 3 seconds...

Signing-up 3 seconds...