
Layar.id – “Kadang rasa sakit dan luka itu harus dirayakan supaya kita bisa menjadi orang yang lebih baik.” Film Perayaan Mati Rasa yang tayang di 29 Januari 2025 telah menggelar Gala Premiere-nya di 23 Januari 2025 lalu. Dan kali ini, tim Layar.id akan memberikan review plot dan karakter film Perayaan Mati Rasa.
Fyi, film ini adalah film ketiga yang disutradarai dan diproduseri oleh Umay Shahab bareng Sinemaku Pictures. Kali ini, Umay ngajak Prilly Latuconsina dan Iqbaal Ramadhan yang debut jadi produser di film Perayaan Mati Rasa. Nggak cuma itu, ketiganya ikut bergabung di film lho!~
Anyway, this is gonna be a long review. Demi kebutuhan review, artikel ini akan mengandung spoiler ya!
Salah satu poin terunik di film Perayaan Mati Rasa adalah kaitannya dengan laut. Laut yang muncul di judul lagu, pekerjaan orangtua Ian sebagai seorang pelaut, bahkan pembagian babak film berdasarkan zona kedalaman laut. Match banget sama Epicentrum XXI yang kemarin jadi biru-biru bak samudra pas gala premiere-nya Perayaan Mati Rasa.

Zona laut di kedalaman 4.000 meter. Nggak ada cahaya matahari yang masuk di zona ini. Sama seperti posisi Ian (Iqbaal Ramadhan) yang udah mati rasa. Tertekan, gelap, tenggelam di kepalanya sendiri. Ian adalah anak pertama dari dua bersaudara dengan orangtua yang harmonis. Tapi, hubungan Ian sama orangtuanya nggak begitu manis.
Karakter Ian mungkin jadi penggambaran keras bagi karakter anak pertama atau tunggal laki-laki yang dapet banyak ekspektasi dari keluarga. Lama kelamaan, upaya buat menyuarakan perasaan sendiri semakin dipendem dan membuat sang anak jadi mati rasa. Ian nggak akur sama Uta (Umay Shahab). Kekhawatiran Papa dan Mamanya (Dwi Sasono dan Unique Priscilla) juga nggak digubris sama sekali. Efeknya? Ian semakin menjauh dari keluarga, egois, dan juga ambis.

Ambisnya Ian ini nggak jadi oksigen yang baik bagi Ian. Malah, banyak nyesekinnya. Karier Ian di band Midnight Serenade juga cukup membawa kepusingan bagi si karakter (dan penonton). Ya namanya juga band yang baru merintis, cari gig dimana-mana pun sulit. Sudah tertekan di rumah, tertekan juga di kariernya. Pas banget sama posisi Ian yang saat ini ada di “zona abisal”.
Zona laut di kealaman 200 sampai 2.500 meter. Apa ada kehidupan di zona ini? Mungkin. Cahaya matahari nggak begitu terang di zona batial, tapi nggak sebuta zona abisal yang lebih dalam. Di sini, Ian mulai mengambang ke permukaan, tapi masih di antara kedalaman yang nekan perasaannya.

Good news, Ian dan bandnya, Midnight Serenade, dapet tawaran kontrak dari major label. Harusnya kalau dari kalimat itu, berarti Ian mulai dapet secercah harapan, ya. Well, memang. Tapi tentu saja, ada harga yang harus dibayar demi kesuksesan band Midnight Serenade. Hal ini berkaitan sama private life-nya Ian, yang ngebuat doi ada di ambang terang dan gelap.
Hubungan Ian dan Uta sedikit terbuka karena request-an Papa yang minta mereka kerjasama di satu proyek. Tapi, lagi-lagi masalah keluarga datang saat Mama masuk rumah sakit, sedangkan Papa pergi nun jauh di laut. Nyesek banget. Bayangin lo yang sebelumya jauh dari keluarga, sekalinya hubungan kalian mulai membaik- keluarga kalian malah kena masalah besar.

Khusus di babak ini, saya ngerasa emosional banget sama pov-nya Ian. Oh ya, buat masalah editing (musik, audio, sampe sound effect) film ini bener-bener JUARA. Penonton akan ngerasa gimana efek dari tekanan-tekanan “laut” di kepala Ian. Pusingnya, pengapnya, bahkan budeg-nya yang menggambarkan “mati rasa”.
Zona di kedalaman 200 sampai 1.000 meter. Area kehidupan laut yang selama ini bisa dilihat sama manusia. Pada babak ini, Ian mulai mengambang di permukaan. Semua masalah yang neken Ian satu per satu dapet closure dan ending-nya.
Di babak terakhir, saya mulai mendengar senat-senutan hidung dari penonton-penonton di sekitar saya. Bahkan penonton berjarak dua kursi dari sisi kanan saya sudah mulai mengeluarkan tisu dari dalam tas.

Closure Ian bersama Uta, keluarga, Dinda dan Midnight Serenade adalah closure yang sukses membuat pandangan saya kabur sama air mata. Meski saya tidak sebanjir nonton Bolehkah Sekali Saja Kumenangis (film Umay yang sebelumnya), tapi momen emosional di Perayaan Mati Rasa nyangkut banget.
Bahkan sampai press conference setelahnya, perasaan itu masih terbawa saat Prilly (executive producer Perayaan Mati Rasa) menyatakan, “Kadang rasa sakit dan luka itu harus dirayakan supaya kita bisa menjadi orang yang lebih baik.”. Setuju!
Sebagai seorang adik, jujur saya kesel sama karakter Ian. Tapi, dari sini justru saya merasa simpati dengan karakter yang segitu menjaga perasaannya. Perasaan ya, bukan emosi. Karakter Ian keliatan “keras” di mata saya, karena ya.. dia mati rasa. Nggak ada rasa keharmonisan keluarga yang nyantol di kepalanya. Tapi sedikit demi sedikit, saya mulai melihat perspektif Ian saat hubungannya dengan Uta, adiknya, mulai jadi sorotan.

Karakter Uta sebagai anak kedua justru lebih cepet nyantol. Mungkin karena saya juga seorang adik—bedanya, keluarga saya tidak seperti keluarga Antono. Uta adalah sosok yang nurut sama abangnya, dan lebih gemilang secara prestasi. Oh iya, Uta ini kerjanya podcaster yang udah terkenal banget di kalangan anak muda. Tapi, sebenarnya Uta sendiri pengen banget akrab sama abangnya kayak dulu lagi.

Rasanya hangat banget melihat Ian dan Uta mulai saling membahu, terutama waktu Mama sakit sedangkan Papanya nggak ada. Ini relate banget sama hubungan-hubungan antar anak yang kepisah sama abisi, tapi kalau udah soal orangtua pasti mereka bakal bersatu lagi.
Yang nggak keliatan di mata Ian, nyatanya Uta tuh sangat simpati dan kangen sama Ian. Tapi yang nggak dilihat sama Uta adalah jalan pikir Ian yang berubah sejak dirinya mulai nanggung beban-beban ekspektasi sejak lama.
Udah lama banget saya nggak nonton film drama yang karakter orangtuanya keliatan match-made-in-heaven. Dwi Sasono dan Unique Priscilla jago banget ngebangun chemistry sebagai suami-istri yang romantis-tis-tis! Pengandai-andaian Dini, sang istri, menunggu suaminya, Satya, pulang dari laut jadi poin yang emosional banget buat saya.
Saya makin mewek lagi saat adegan-adegan telepon antara Dini dan Satya. Sekaligus greget sama Ian! Lagi lagi, di sini sisi egois Ian mengalah-ngalahkan Uta dan dokter. At some point, saya berharap Uta aja yang ngambil jalan duluan—which he did, tapi gak jadi karena Ian lagi.

Di beberapa adegan, penafsiran saya juga berubah, kayak Ian itu sebenernya nggak segitu tertuntutnya sama orangtua. Tapi karena pembandingan antara Ian sama Uta, Ian sudah tenggelam terlalu jauh sebelum betul-betul ada closure sama orangtuanya—khususnya Papanya.
Terakhir, ada band Midnight Serenade dan karakter Dinda. Menurut saya, karakter Dinda serasa seperti karakter yang ngambang-ngambang. Untuk karakter yang satu ini, ceritanya doi adalah temen kecilnya Ian. Tetangga ya, lebih tepatnya.
Saya melihat karakter Dinda sebagai sisi perempuan dari sosok Ian yang sangat berapi-api. Tapi karena screentime-nya minim, jadi karakter ini kurang exposure yang bikin karakter Dinda lebih mencolok.

Review Perayaan Mati Rasa
Di Midnight Serenade, ada Saka, Dika dan Ray yang jadi bandmates-nya Ian. Dinamika mereka seru, terutama karakter Dika yang kocak abis. Karakter Saka lebih tenang di antara semuanya, sedangkan Ray mengimbangi Ian yang ambis banget.
Dari sisi band, ada juga karakter Beni yang RESE BANGET. Rasanya puas banget ngeliat Ian marah-marah, yang mana itu bikin saya ikutan gertakin gigi. Meski nongolnya sebentar doang, Beni meninggalkan impresi yang super-menyebalkan. Untuk cerita selengkapnya, boleh nonton di film aja, ya.~

Eh, lagu-lagu dari Midnight Serenade beneran ada di Spotify, lho! Saat ini, lagu Laut jadi lagu yang dapet total stream paling banyak dengan jumlah lebih dari 25,000 stream (hmm.. lagi lagi berhubungan sama laut). Bolehkah ngarep sedikit supaya Midnight Serenade tampil di panggung beneran? We never know, tapi stay tuned aja!~
Oke, dari segi plot, karakterisasi dan sinematografi, Layar.id memberikan skor untuk 7/10 buat film review Perayaan Mati Rasa.
Personal opinion, film ini bakal lebih nampol kalau nontonnya bareng sama keluarga. Karena kemarin saya nonton sendirian, saya berniat balik lagi ke bioskop buat nonton Perayaan Mati Rasa bareng kakak atau adik saya.
Jangan lewatin keseruan Perayaan Mati Rasa di bioskop ya. Tayang mulai 29 Januari 2025!






