
Layar.id – Film Cinta Tak Seindah Drama Korea dari Imajinari sudah tayang di bioskop! Yeaaay~ Film Cinta Tak Seindah Drama Korea (CTSDK) menyajikan drama romantis yang terisi dengan sentuhan komedi dan ketegangan. Persis banget sama emosi-emosi yang hadir saat kita lagi nonton drakor! Karena itu, kali ini tim Layar.id akan memberikan review untuk film Cinta Tak Seindah Drama Korea.
Sebelum memulai review, tulisan ini akan mengandung spoiler. Jadi, mohon untuk menyesuaikan, ya!~

Dalam press conference CTSDK, sutradara sekaligus penulisnya yairu Meira Anastasia menyatakan bahwa CTSDK banyak mengambil treatment ala drakor yang emotional rollercoaster-nya kental banget. Jadi, film ini tuh bukan cuma tentang cinta-cintaan doang!
CTSDK pada dasarnya menceritakan tentang Dhea, seorang gadis yang mendapat kejutan berlibur ke Korea dari pacarnya, Bimo. Liburan itu ia jalani bersama Kikan dan Tara, dua sahabat Dhea sejak SMA.
Tapi, sesampainya di Korea, Dhea justru bertemu dengan masa lalunya, Julian. Di sisi lain, ternyata hadiah liburan dari Bimo adalah salah satu rencana Bimo untuk melamar Dhea di Korea. Namun, sebelum Bimo melamar Dhea, rupanya ada rahasia kelam yang disembunyikan Bimo terkait kematian orangtua Dhea.

Kalau ada deskripsi yang tepat untuk CTSDK, maka itu adalah: Ngorea Banget! Film dengan sentuhan ala drakor yang menyungsung tema girl’s girl memang sejatinya paling sempurna kalau dibuat dari kacamata sutradara perempuan. Kalau saat nonton CTSDK kamu merasa cheesy, emosi, gregetan, lucu, atau haru akan keseluruhan filmnya, maka film ini bisa dikatakan SUKSES!
Salah satu poin yang menjadi favorit adalah bagaimana Meira Anastasia mencampurkan nuansa lokal sekaligus cipratan drama Korea ke film CTSDK. Isu-isu yang diangkat juga relatable, membuat ceritanya tidak semuluk-muluk plot drakor. Justru, karena relatable, unsur “realita”-nya makin terasa dan makin menyentuh hati.
Bayangin di satu geng ada ibu 3 anak, single fighter, dan bride to be. Tapi semuanya bersatu karena hal yang sama: liburan dan personal problem. Dhea yang otw menikah, malah ketemu sama masa lalunya setelah bertahun-tahun. Tara yang SWAG alias single-woles-anti-galau, tapi jadi kepincut brondong setelah ada isu berat dari Jakarta. Kikan yang ingin rehat sebentar dari tugasnya mengurus suami & anak, ternyata menyimpan rasa minder yang dalam karena kurangnya waktu untuk mencintai hidup sendiri.
Dhea adalah karakter yang kalem dan penuh pertimbangan. Namun, sisi kelabilan Dhea terlihat saat ia bertemu lagi dengan Julian. On another note, rasanya seperti melihat tumpukan salju yang lembut mulai melebur di musim semi. Dhea yang penggambarannya tenang, malah sangat aktif saat sedang bersama Julian. Sisi humane karakter Dhea yang jarang didapat dari karakter-karakter drakor—khususnya lead female, beneran nunjukin kalau cinta itu tak seindah drama Korea.
Karakter Tara yang menjunjung tinggi single life, menyoroti kerealistisan perempuan matang yang banyak perhitungan. Mau nikah? Tunggu mapan dulu. Mau cari pasangan? Harus yang bisa sama-sama provide dan ngertiin. Selagi belum ada yang bisa menyamakan mindset Tara, being single is NOT a problem! Tapi pada akhirnya… Tara justru kepincut sama yang masih muda, belum mapan, dan pastinya belum tentu bisa provide kebutuhan material Tara. Hehehe.~
Terakhir, karakter Kikan. Seorang ibu tiga anak yang sangat berjiwa muda, sekaligus memancarkan aura motherhood yang superkentel. Meski sudah bersuami, Kikan memendam kegelisahan karena hubungannya dan suami yang serasa “lewat masa” setelah ia melahirkan. Kikan adalah gambaran dari para emak-emak pencinta drakor dan idol. Bukan cringe, tapi justru lucuuu banget! Karakter Kikan ini salah satu heart of the film, honestly speaking.
Tapi, salah satu adegan yang paling membekas adalah ketika Kikan kepikiran untuk melakukan operasi plastik untuk memperbaiki hubungannya dengan sang suami. Turns out, kekhawatiran Kikan itu hanya sepenuhnya ada di kepalanya. Namun, adegan tersebut memberikan perspektif sekaligus contoh dari girl’s girl-nya Dhea dan Tara sebagai teman suportif bagi Kikan. “Kalau mau ngelakuin, lakukan atas kemauan lo sendiri, bukan orang lain,” begitu salah satu dialog pada adegan tersebut.

Oh, ya. CTSDK juga menyorot beberapa momen dari sisi Negara Ginseng. Misalkan, seperti ahjumma (nenek) owner Korean BBQ tempat Julian dulu bekerja. Ada juga beberapa shot di gedung lama Hybe dan dorm lama boyband BTS. Scene-scene yang lebih dramatis semuanya terjadi di Namsan Tower dan love-lock garden. Bahkan, ada beberapa adegan yang melibatkan café event K-Pop yang seru.
Wah, buat kalian penggemar K-Pop dan K-Drama, rasanya bener-bener kayak napak tilas, deh!
Kalau dibilang CTSDK adalah film dari cewek untuk cewek, setuju juga sih. Ceritanya mengangkat isu-isu yang sangat kental dengan perempuan. Gencetan untuk menikah, cari pasangan green flag, perubahan fisik setelah melahirkan, masalah keluarga yang toxic… pokoknya banyaaak banget.
Harapannya, film CTSDK bisa jadi penghiburan sekaligus jalan keluar bagi kalian yang sedang berada di posisi Dhea, Kikan, atau Tara ya, girls.

Eits, bukan berarti yang cowok-cowok juga less shining, ya!~ Karakter Julian dan Bimo berhasil membawa drama dalam CTSDK ke arah yang lebih menegangkan. Setiap kali Bimo dan Julian muncul, ada rasa greget yang seakan melambai-lambai di kepala saya.
Rasanya klepek-klepek tiap ngeliat Julian yang kalem dan Bimo yang sangat soft. Tapi, karena Julian ini ketemunya saat Dhea sudah pacaran, agaknya gemes juga. Kayak pengen nyorakin, “KENAPA GAK DARI DULU, WOI?!” tapi kan tidak bisaaa!
Di sisi lain, sifat Bimo yang soft dan kelewat dominan sedikit banyak membawa ketidaknyamanan. Seolah, sewaktu-waktu Bimo akan mencaplok Dhea. Tahu kan, rasanya kalau ada orang yang kelewat baik, kitanya jadi curiga gimanaaa.. gitu?
Julian adalah gambaran dari pria-kalem-yang-super-manis, sedangkan Bimo memaparkan pesona-pria-matang-nan-greenflag. Tapi, apakah masih manis kalau ketemu sama tukang ghosting bertahun-tahun? Apakah masih mau menikah sama orang yang rupanya jadi akar dari seluruh masalah keluargamu?
Mungkin, kita memang belum sepenuhnya mengenal orang terdekat kita.
CTSDK membawa pesan yang sangat vokal di plotnya: sehijau-hijaunya sifat seseorang, pasti ada merahnya. Seburuk-buruknya masalah yang kamu pegang, sahabat itu jadi tempat terbaik untuk cerita.
Tim Layar.id memberikan skor 9/10 untuk ke-cheesy-an, perdramaan, dan keharuan yang terkandung dalam film Cinta Tak Seindah Drama Korea. Apakah film ini khusus untuk para penikmat kekoreaan aja? Nggak juga! CTSDK adalah teman untuk kalian yang sedang mencari hiburan, keceriaan, dan pastinya… pesan untuk selalu mencintai diri sendiri.
Saksikan film Cinta Tak Seindah Drama Korea, mulai 5 Desember 2024 di seluruh bioskop Indonesia.
“Jangan pernah putus asa. Apapun masalah yang kalian hadapi, akan ada jalan keluar. Semua orang pasti punya masalah, tapi gimana cara kita menghadapinya adalah yang terpenting.”
– Meira Anastasia, Cinta Tak Seindah Drama Korea.






