
Layar.id – Waralaba 28 Days Later akhirnya masuk ke fase paling ekstrem lewat film terbaru berjudul 28 Years Later: The Bone Temple. Hampir tiga dekade setelah Rage Virus menghancurkan peradaban, film ini menunjukkan satu hal yang jauh lebih meresahkan, manusia yang selamat justru berkembang ke arah yang makin aneh, fanatik, dan berbahaya.
Disutradarai Nia DaCosta dan ditulis Alex Garland, film ini tidak sekadar melanjutkan kisah zombie. 28 Years Later: The Bone Temple memperluas dunia pasca-apokaliptik dengan konflik yang lebih kompleks, di mana ancaman terbesar bukan lagi wabah, melainkan cara berpikir manusia yang kehilangan arah dan empati.
Melanjutkan kisah Spike yang kini beranjak dewasa, dunia yang ia hadapi telah berubah drastis. Rage Virus memang belum sepenuhnya lenyap, tetapi para infected bukan lagi musuh utama. Ancaman sesungguhnya datang dari sesama manusia.
Peradaban yang runtuh melahirkan kelompok-kelompok baru dengan aturan ekstrem dan ideologi menyimpang. Salah satunya adalah sebuah kultus mengerikan yang membangun tempat pemujaan bernama The Bone Temple atau Kuil Tulang, simbol fanatisme terhadap kematian dan kehancuran nilai kemanusiaan.
Di sisi lain, Dr. Ian Kelson terlibat dalam sebuah “hubungan” berbahaya dengan eksperimen yang berpotensi membawa konsekuensi besar bagi masa depan dunia. Dua jalur cerita ini berjalan paralel, memperlihatkan bagaimana harapan dan kegilaan tumbuh dari sumber yang sama.

Ralph Fiennes – Pemeran 28 Years Later: The Bone Temple (sumber: Sony Pictures Releasing)

Sekte the Jimmys (sumber: Sony Pictures Releasing)
Salah satu sorotan utama film ini adalah kembalinya Cillian Murphy sebagai Jim, tokoh ikonis dari 28 Days Later. Kehadiran Jim disebut berfungsi sebagai penghubung emosional, sekaligus jembatan menuju kelanjutan cerita di film ketiga. Meski bukan pusat cerita, kemunculannya punya bobot penting bagi arah waralaba ini.
Kamu bisa nonton film 28 Years Later: The Bone Temple di bioskop Indonesia mulai 14 Januari 2026.






