Review Materialist, Antara Memilih Si Kaya atau Si Miskiin?

Adiyasa PrahendaFilm Barat11 months ago1.5K Views

Sinopsis Materialist

Layar.id – Dalam hidup, sering muncul pertanyaan klasik: kalau harus memilih pasangan, lo bakal pilih yang mapan secara finansial atau yang sederhana tapi penuh perasaan? Secara logika, kebanyakan orang mungkin akan condong ke pilihan pertama. Lewat Materialists, Celine Song mencoba membongkar cara pikir itu lewat drama romantis yang memancing perdebatan.

Setelah Past Lives (2023), Celine Song kembali bermain di wilayah relasi tiga orang. Bedanya, konflik di Materialists terasa lebih frontal dan eksplisit. Kali ini, Dakota Johnson berada di tengah pilihan dua pria dengan latar ekonomi dan pendekatan cinta yang sangat berbeda: Pedro Pascal dan Chris Evans.

Cerita: Cinta, Logika, dan Pilihan Hidup

Lucy adalah seorang mak comblang profesional yang terbiasa menilai cinta lewat data dan logika. Ironisnya, hidup cintanya sendiri justru berantakan. Ia pernah menjalin hubungan dengan John, lalu bertemu Harry, sosok mapan yang datang di waktu yang “tepat” secara rasional.

Konflik utama film ini bukan soal siapa yang lebih baik, tapi bagaimana seseorang memaknai cinta dan masa depan. Apakah stabilitas finansial cukup untuk membangun hubungan jangka panjang, atau perasaan yang kuat tetap punya tempat meski tanpa jaminan hidup nyaman?

Celine Song cukup berani menghadirkan dilema yang terasa dekat dengan realitas banyak orang. Namun, di sisi lain, cerita ini juga menyisakan celah yang bisa memicu perdebatan penonton. Beberapa keputusan karakter terasa mengundang pertanyaan, meski jawabannya sengaja diserahkan kembali ke interpretasi masing-masing penonton.

Karakter dan Akting: Menarik tapi Terlalu Ideal

Review Materialist

Dakota Johnson tampil solid sebagai Lucy, karakter perempuan yang terkesan percaya diri, tapi rapuh saat harus berhadapan dengan pilihannya sendiri. Pedro Pascal dan Chris Evans sama-sama hadir dengan karisma kuat, mewakili dua tipe pasangan yang sering jadi bahan perbandingan di dunia nyata.

Review Film Materialist

Sayangnya, dinamika ketiganya terasa terlalu ideal. Semua karakter tampak “terlalu sempurna”, sehingga konflik yang dibangun kadang terasa lebih imajiner daripada realistis. Film ini seolah ingin menyederhanakan pesan: kalau lo suka seseorang, ya jalani saja, tanpa terlalu banyak pertimbangan hidup.

Pendekatan ini bisa terasa romantis bagi sebagian penonton, tapi bagi yang mencari realisme emosional ala Past Lives, Materialists mungkin terasa kurang membumi.

Sinematografi: New York yang Jujur

Review Materialist

Secara visual, Materialists menampilkan New York dengan cara yang lebih manusiawi. Kota ini tidak digambarkan glamor atau penuh kemewahan, melainkan sebagai ruang hidup para hopeless romantic yang sedang mencari makna hubungan.

Celine Song kembali menunjukkan kemampuannya membingkai kota sebagai bagian dari emosi karakter. New York di film ini bukan sekadar latar, tapi ikut berbicara soal kesepian, harapan, dan pilihan hidup.

Materialists adalah film yang lebih memancing diskusi daripada memberi jawaban pasti. Ceritanya relevan, temanya dekat dengan realitas modern, meski eksekusinya kadang terasa terlalu ideal dan tidak sepenuhnya realistis.

Nilai akhir Layar.id: 7/10.

Wajib nonton? Bisa jadi, terutama kalau lo ingin film yang bisa jadi bahan debat panjang!

Karya yang dimuat ini adalah tanggung jawab penulis seperti yang tertera, dan tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi layar.id.

Loading Next Post...
Follow
Sidebar Search Trending
Popular Now
Loading

Signing-in 3 seconds...

Signing-up 3 seconds...