
Layar.id – Kalau saja ada tiga kata yang bisa menggambarkan Masters of the Universe, mungkin jawabannya adalah nostalgia, lucu, dan menghibur. Film ini tidak berusaha menjadi tontonan superhero yang gelap atau penuh drama berat. Sebaliknya, ia justru menghidupkan kembali semangat petualangan khas He-Man yang selama puluhan tahun cintai para penggemarnya.
Bukan hanya mengandalkan nostalgia, film ini juga mencoba memperkenalkan dunia Eternia kepada generasi baru dengan cara yang lebih ringan dan mudah kalian nikmati. Inilah dia review Masters of the Universe.

(sumber: Sony Pictures Releasing)
Bagi penggemar lama, cerita yang tersaji di sini tentu tidak akan terasa asing. Kemunculan Skeletor, konflik perebutan Eternia, hingga perjalanan Adam yang terlempar ke Bumi masih mengikuti fondasi cerita yang sudah dikenal sejak serial animasi maupun adaptasi live action terdahulu.
Secara garis besar, film ini memang tidak menawarkan sesuatu yang revolusioner. Bahkan bisa bilang alurnya cukup sederhana dan mudah ketebak. Namun justru dari situlah kekuatannya.
Alih-alih sibuk mengubah lore atau menghadirkan interpretasi baru yang terlalu rumit, film ini fokus menjadi petualangan yang menyenangkan untuk semua kalangan. Penonton baru tidak akan kesulitan mengikuti ceritanya, sementara penggemar lama tetap mendapatkan banyak momen nostalgia yang terasa akrab.
Humor menjadi senjata utama film ini. Banyak adegan yang sengaja mereka buat ringan dan menghibur, terutama ketika Adam harus meyakinkan orang-orang bahwa dirinya adalah pewaris kerajaan Eternia. Situasi yang sebenarnya klise itu justru terasa menyenangkan berkat dialog dan interaksi karakter yang mengalir dengan baik.
Belum lagi sosok Skeletor yang tampil sebagai ancaman utama sekaligus sumber komedi. Karakternya masih mempertahankan sifat over-the-top khas versi animasi, lengkap dengan berbagai komentar dan lelucon yang terkadang terasa cringe, tetapi justru mengundang tawa.

(sumber: Sony Pictures Releasing)
Salah satu hal yang paling menyenangkan dari film ini adalah bagaimana seluruh karakter mampu berbagi porsi dengan baik. Tidak ada sosok yang terasa terlalu dominan hingga menenggelamkan karakter lain.
Hubungan antar karakter terbangun cukup natural sehingga interaksi mereka terasa hidup sepanjang film. Hasilnya, dunia Eternia terasa seperti sebuah petualangan besar yang benar-benar dihuni oleh karakter-karakter yang saling terhubung.
Menariknya, justru Skeletor menjadi salah satu pusat perhatian. Penampilan Jared Leto menghadirkan versi Skeletor yang teatrikal, kocak, sekaligus tetap memiliki aura penjahat yang ikonik. Ia sukses mencuri banyak momen sepanjang film.

(sumber: Sony Pictures Releasing)
Dari sisi visual, Masters of the Universe tidak mencoba menghilangkan identitas klasiknya. Desain kostum, lingkungan, dan berbagai elemen dunia Eternia masih terasa dekat dengan materi sumber yang selama ini penggemar kenal.
Pilihan tersebut membuat film ini terasa lebih autentik Bila membandingkn dengan sekadar melakukan modernisasi secara berlebihan. Hasilnya adalah sebuah dunia fantasi yang masih mempertahankan nuansa klasik, namun tetap bisa diterima oleh penonton masa kini.
Masters of the Universe mungkin bukan film dengan cerita paling kompleks atau paling inovatif tahun ini. Alurnya cukup sederhana dan banyak mengikuti formula yang sudah dikenal sejak lama. Namun film ini memahami betul apa yang membuat He-Man dicintai selama puluhan tahun.
Dengan humor yang konsisten, karakter-karakter yang menyenangkan. Visual yang menghormati akar klasiknya, serta rasa nostalgia yang kuat. Masters of the Universe berhasil menjadi tontonan keluarga yang menghibur dari awal hingga akhir. Bagi penggemar lama, film ini adalah perjalanan pulang ke Eternia. Sementara bagi generasi baru, ini adalah pintu masuk yang menyenangkan untuk mengenal dunia He-Man.
Rating film Masters of the Universe: 8/10






