Review Devil Wears Prada (2004): Integrity Over Career

Isaura SalsabillaFilm Barat1 year ago503 Views

Review Devil Wears Prada

Layar.id – Jadi junior personal assistant editor-in-chief sebuah majalah ternama di dunia fashion? Siapa yang nggak mau? Itulah nasib yang menimpa seorang gadis bernama Andrea—in short, Andy—yang baru aja lulus dari Northwestern University. Tapi, jadi personal asisten buat bos yang nggak dia kenal sama sekali bukanlah suatu pembuka jalan yang mulus. At least, itulah yang terjadi dalam review film chick-flick tahun 2006, berjudul Devil Wears Prada.

Film yang membintangi Anne Hathaway bersama Meryl Streep, Emily Blunt, dan Stanley Tucci ini selalu masuk rekomendasi film comedy-drama yang WAJIB masuk watchlist. Kenapa? Berikut adalah review Devil Wears Prada dari Layar.id, sekaligus alasan kenapa kalian wajib nonton film ini.

Plot Review

Andy on THE Runway

Review Devil Wears Prada

Sejak awal film, Devil Wears Prada menunjukkan sisi berbeda dari seorang Andrea Sachs. Di saat cewek-cewek lain sangat up-to-date sama tren fashion terkini, Andrea alias Andy justru pake sweater kemana-mana. High heels? That’s not really her thing. Rambut juga seadanya aja, gak pakai styling-styling. Muka pun polos kinclong tanpa sapuan make up.

Ntah ini nasib baik atau konyol buat Andy yang nggak melek fashion sama sekali. Doi justru keterima kerja sebagai junior personal assistant untuk seorang editor-in-chief di sebuah majalah ternama. Majalah Runway, dengan lead editor-nya yang bernama Miranda Priestly.

Perihal karakter Miranda Priestly, banyak teori-teori yang mengatakan kalau Miranda adalah sebuah contoh dari para lead editor majalah fashion yang ada di dunia nyata. Kayak Anna Wintour, misalnya.

Andy yang tampil sangat seadanya ketemu sama Miranda, salah tau pionir utama dalam dunia fashion. Kebayang gak sehuru-hara apa kerjaan Andy di sana? Teleponnya bunyi tiap lima menit. Sikap Miranda seenaknya banget sama Andy—dari ngelempar tas dan coat secara sembarang ke meja Andy sampai nge-cancel pesenan makanan yang Andy kejar-kejar dalam waktu 15 menit doang.

Belum lagi asisten pertamanya, Emily, yang tingkahnya 11-12 sama bosnya. Bahkan satu kantor Runway itu isinya bagai kloningan Miranda, tetapi versi karyawan aja. Ada juga Nigel, art director majalah Runway yang akhirnya ngebantu Andy buat makeover demi nyenengin si Bos.

What a nightmare—tapi, banyak orang yang rela bergulat demi posisinya Andy. Kenapa? Karena bekerja setahun sama Miranda aja bakal ngebuka banyak banget kesempatan bagus buat bawahannya. Belum lagi, kita sebagai karyawannya bisa dapet berbagai kado atau sample produk (baju, aksesoris, make up) gratis dari berbagai desainer ternama di New York, bahkan seluruh dunia.

Ngerti, kan, kenapa nama Miranda Priestly itu berpengaruh banget di dunia fashion?

Integrity Over Career

Kalau ada salah satu pelajaran paling besar yang bisa kita petik dari film Devil Wears Prada, maka jawabannya adalah: BEKERJALAH DENGAN INTEGRITAS.

Sepanjang film, kita bisa ngeliat gimana karakter Andy mulai shifting dari seorang teman, pacar, bahkan perempuan yang apa adanya dan outgoing terutama pas sama temen-temennya, jadi seorang yang supersibuk. Tapi, sejak Andy bekerja sebagai asisten, kayaknya nyaris nggak ada sisa-sisa Andrea yang sebelumnya.

Saking sibuknya Andy, doi nggak sempet—bahkan, nggak bisa, ngeluangin waktu untuk orang-orang terdekatnya. Mulai dari pacarnya, dari temen-temennya, sampai akhirnya Andy mulai sedikit banyak micro-cheating sama orang lain.

Andy kayak kehilangan kepribadiannya yang dulu, terlena sama pekerjaannya yang sedikit-banyak ngasih love and hate relationship sama bosnya.

Andy and Her Ownself

Dari berbagai kejadian itu, Andy jadi belajar sebuah pukulan besar: kerjaannya yang “katanya” adalah sebuah dream job dan pemasukannya besar itu nggak sebanding sama ngorbanin hubungannya dengan orang-orang terkasih.

Namun, di sisi lain, apa yang Andy lakukan emang being professional aja, nggak sih? Sebagai seorang asisten dari lead editor terpenting di industri fashion, HP-nya harus nyala 24/7. Pacarnya, Nate, lama-lama enek sama sifat Andy yang berubah.

Dulunya, Andy ngeliat cewek-cewek modis itu sebagai sesuatu lelucon. Eh sekarang… Andy jadi salah satu dari cewek-cewek yang dulu ia “ledekin”. Itu juga yang membuat Nate enek dan kesal sama Andy.

Tapi, nggak sedikit juga orang-orang yang berkomentar kalau Nate seharusnya bisa lebih ngertiin kesibukannya Andy. Bahkan, di bagian ending pun Nate dan Andy udah baikan lagi. Tetep aja, kayaknya emang dari awal Nate nggak cocok sama Andy yang terlalu jauh sama pekerjaannya.

Apalagi, lepas dari Nate, Andy langsung spend the night in sama seorang laki-laki bernama Christian Thompson, seorang penulis, demi imingan posisi besar di sebuah publisher redaksi. Nggak banget deh, Ndy…

“You’d be an IDIOT no to HIRE her!”

Review The Devils Wear Prada

Ending dari film Devil Wears Prada nggak mengecewakan sama sekali. Dari perubahan karakter Andy yang nge-makeover hidupnya supaya fit into Runway’s shoes, closure Andy dan Miranda di Paris, sampai Andy yang berani menghiraukan telepon dari bosnya sendiri.

Awalnya, Andy ngerasa kalau Miranda nggak adil sama temennya sendiri, Nigel. Tapi, Miranda justru ngingetin Andy kalau Andy juga nggak beda jauh sama Miranda dengan ngambil “jatah”-nya Emily untuk ikut Miranda ke Paris. Padahal, Paris adalah impian terbesar Emily.

Namun, lagi-lagi, kalau kita lihat… Andy tuh nggak punya pilihan! Alias posisinya saat itu udah serbasalah. Lewat film doang, kita-kita yang udah kerja juga pasti tau kalo apapun yang Andy lakukan adalah bentuk profesionalitas dan rasa eager untuk membuktikan kualitasnya ke Miranda.

Setelah itu, Andy yang nyadar kalau hidupnya udah nggak bener lagi akhirnya meninggalkan Miranda dan resign.

Beberapa waktu setelahnya, Andy dapet interview di suatu redaksi koran. Ketika editornya minta referensi kerja Andy dari Miranda, Miranda justru bilang kalau Andy adalah asistennya yang paling buruk.

Dan kalau Andy sampe nggak lolos, maka sang editor adalah rekruiter teridiot sedunia.

Overall Review

Film Devil Wears Prada nggak pernah sekalipun, nge-mention merk “PRADA” di percakapan atau salah satu scene mereka. Namun, visual representation merk Prada berada di tas milik Miranda pada adegan pertama dan keseluruhan pilihan fashion pribadinya.

Karenanya, “Devil” alias si Setan dalam film ini yaitu Miranda, jadi representasi di judulnya yaitu “Devil Wears Prada”. Haha, smart move! Tapi, siapakah yang jadi penjahat sesungguhnya? Ternyata pacar dan sahabatnya adalah orang paling jahat. Karena mereka maunya hanya akses saja atau malah cuma bisa manasin Andy kalau Miranda itu jahat banget. So, Who is the Devil now?

Devil Wears Prada adalah sebuah film comedy drama yang ringan dan cocok jadi cerminan besar para karyawan-karyawati yang mungkin lagi nyari arah kehidupan mereka pada bidang kerja. Sebesar apapun kerjaan kamu, seprofesional apapun kamu dalam bekerja, tetap utamakan satu hal: integritas.

Hidup glamor dan konsumtif emang nggak untuk semua orang, salah satunya yang kayak Andy. Tapi, ada yang lebih mahal daripada tas branded seharga 30 juta dollar: personal values.

 

Layar.id memberikan skor 8/10 untuk Review Devil Wears Prada.

Karya yang dimuat ini adalah tanggung jawab penulis seperti yang tertera, dan tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi layar.id.

Loading Next Post...
Follow
Sidebar Search Trending
Popular Now
Loading

Signing-in 3 seconds...

Signing-up 3 seconds...