Review Antara Mama, Cinta dan Surga Bikin Bingung

Adiyasa PrahendaFilm Indonesia4 months ago891 Views

Layar.id – Jikalau Film tentang Batak itu sering tayang, mungkin kita bisa maklum. Tapi bagaimana dengan kisah pergumulan seorang anak yang ingin jadi pendeta namun harus jadi PNS oleh Ibu-nya atau mamaknya. Itulah Review Antara Mama, Cinta dan Surga.

Sebenarnya apa makna dari Film ini dan kenapa harus ada Nomensen yang jadi kekuatan? Sebuah pertanyaan yang sebenarnya bisa lebih dari itu. Serta, apakah bisa mewujudkan semuanya? Itulah beberapa hal yang jadi pertanyaan yang sebenarnya jadi masalah. Apakah mungkin ini jadi sebuah film yang hangat?

Cerita Penuh Layer Tapi Tidak Ada Ujungnya

Sepertinya Agustinus Sitorus ini suka kompleksitas hubungan keluarga batak dalam menentukan apa pekerjaan dari anak-anak mereka. Padahal ya, dari awal soal perjuangan seorang anak bungsu untuk menjadi seorang pendeta mungkin akan sangat menyentuh ketimbang masalah jadi PNS atau tidak.

Kalau mau perjelas, nommensen ini hadir ke Bernard tujuannya apa. Apakah memang harus jadi gembala ataukah memang jadi pelayan tuhan di bidang tertentu. Tentu saja, ini masalah terbesar kalau orang non Batak kurang paham dan berakhir dengan perdebatan panjang.

Namun, masalah di cerita ini ada di babak kedua dan terakhir, yang mana terlalu drama dan ujungnya jadi makin banyak kebingungan antara penonton. Kecuali, bagian tertentu yang sebenarnya lebih emosional tapi rasanya kok agak hampa saja.

Selebihnya sih masih oke namun beberapa bagian agak terkesan draggy banget untuk ukuran film regional.

Akting Oke Tapi ya

Aktor senior seperti Dharty Manullang terus munculnya Cok Simbara jadikan film ini lebih berwarna. Kemudian, masalah utama ada di Annete Delliecea dan Aldi Maldini. Keduanya ini sudah bagus chemistry-nya tapi sekilas jadi harus ikuti alur cerita yang membuat hubungan mereka dalam berakting itu lebih bagus.

Kemudian ada Dominique Sanda yang terlihat lebih menjiwai sebagai Amangboru. Meskipun Dharty Manullang sendiri lebih emosional namun sekali lagi seperti ada perasaan yang sulit untuk bereaksi lebih natural sebagai mamak batak.

Cok Simbara, mungkin adalah satu dari sekian aktor di film ini yang lebih bisa menunjukkan aktingnya meskipun kembali lagi ini masalahnya ada di script yang beneran sesulit itu menerangkan bagaimana transfer emosi ke penonton.

Visual Tetap Sama

Mengandalkan panorama dari Danau Toba dan Sekolah Pendeta HKBP di Siantara seolah jadi senjata dari film ini. Tapi apakah bisa mengangkat cerita? Bisa banget tapi ya balik lagi belum bisa jadi pilihan kecuali bisa memberikan kesan kalau di Siantara ini ada yang menarik.

Tapi yang jelas, Danau Toba memang menawan cuma bisa tidak mengangkat tampilan  tapi juga hal lain di sekitar Toba mungkin saja tampil di film-film lainnya.

Jadi nilainya untuk Film ini kita kasih angka 6.5/10 deh

Karya yang dimuat ini adalah tanggung jawab penulis seperti yang tertera, dan tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi layar.id.

2 Votes: 1 Upvotes, 1 Downvotes (0 Points)

Loading Next Post...
Follow
Sidebar Search Trending
Popular Now
Loading

Signing-in 3 seconds...

Signing-up 3 seconds...