Review A Normal Woman (2025). Perempuan Bisa ini dan itu!

Isaura SalsabillaFilm Indonesia10 months ago715 Views

Layar.id – Kalau otak dan tubuh udah nggak sinkron, apa yang terjadi? Bisa kita saksikan dari kisah seorang wanita karir yang hidup dalam tekanan penjara duniawi. Film A Normal Woman yang membintangi Marissa Anita sebagai Milla memberikan contoh dampak stress dan ekspektasi tinggi terhadap seseorang, terkhususnya para perempuan. Sudah tayang di Netflix sejak 24 Juli 2025 dan kali ini, Layardotid akan memberikan review A Normal Woman versi kami.

Film ini menyajikan sebuah phsycological drama yang epik. Spoiler alert, artikel ini mungkin mengandung spoiler demi kebutuhan penulisan, ya!

Rumah Mewah x Suami Idaman + Mertua Dominan = Penjara

Some things are too good to be true. Mungkin itulah hal pertama yang saya lihat dari sosok Milla di film A Normal Woman. Kehidupan berada yang dijalanin sama Milla sebenernya nggak seindah yang terlihat di kamera.

Looks like power couple, but actually not. Dari awal lumayan kesal sama suami Milla, Jonathan, yang ngetek banget sama mamanya, Liliana alias mertuanya Milla. Namun, seiring film—masih dengan rasa kesel yang sama, obviously—saya lama-lama ngerti kenapa Jonathan bisa bereaksi segitunya.

Suasana rumah yang nampak mewah juga nggak membantu sama sekali. Yang saya lihat hanya rumah yang besar dan gelap. Mungkin karena karakter-karakternya juga nggak sehidup kelihatannya di layar kaca. Persis dengan pesan yang disampaikan sama sutradaranya saat press conference kalau rumah Jonathan dan Milla memang didesain seolah-olah “penjara”.

Di sisi lain, Liliana sebagai mertua sukses bikin menantunya stress. Ekspektasi lagi, tekanan lagi, ikut campur lagi. Namun, Liliana sendiri punya alasan kenapa perilakunya seperti itu. Semuanya berhubungan dengan besannya—Novi, ibu Milla—dan masa lalu Milla.

Jadi, kalo kalian ngeliat ada sosialita yang hidupnya serba idaman, mungkin bisa kita pikir-pikir lagi…

Tekanan Sosial Pada Perempuan, Gimana Cara Keluarnya?

Review A Normal Woman

A Normal Woman. (L to R) Widyawati as Liliana, Marissa Anita as Milla, Mima Shafa as Angel, Dion Wiyoko as Jonathan in A Normal Woman. Cr. Courtesy of Netflix © 2025

Film A Normal Woman mengajarkan bentuk “healing” yang berbeda bagi karakter utamanya. Milla sebagai perempuan dengan tuntutan sosial yang tinggi, akhirnya bisa keluar dari lingkaran setan dari rumah Jonathan.

Cara Milla melalui semua tekanan itu adalah dengan menerima masa lalunya. Apapun yang terjadi pada Milla adalah bentuk defensive dari tubuhnya. Ketika mulut tidak berbicara, maka tubuh Milla yang berteriak minta tolong.

Masalah lain terlihat dari karakter Erika, sahabat kecil Milla. Erika hidup dengan bayang-bayang “menikah dengan suami kaya” yang terpatri padanya sejak kecil. Bahkan ketika ia melihat kesempatan itu, Erika langsung maju.

Namun, Erika nggak semerta-merta mendapat apa yang ia mau. Hal ini menafsirkan bentuk “ekspektasi” lain pada karakter Erika. Ibaratnya, kalo lo mau punya gelimangan harta, ya lo harus kerja keras untuk dapetin semuanya. Maksud “kerja keras” adalah Erika harus ngelewatin tekanan sosial yang besar seperti apa yang Milla rasakan.

Cause wearing a pretty dress and a designer necklace nggak langsung bikin seseorang jadi naik titel, kan?

Paling Muda dan Paling Aware

Menarik banget ya. Karakter paling muda di film A Normal Woman yaitu Angel (Mima Shafa), anak Milla sendiri, justru jadi karakter paling favorit saya di film ini. Di sebuah rumah penuh orang dewasa, cuma Angel yang sane enough untuk membantu sang ibu di gemparan penjara orang kaya.

Angel sendiri nggak larut dari sasaran netizen. Katanya kurang cantik lah, kurang inilah, kurang itulah. Ada gila-gilanya juga sampe neneknya nyuruh Angel untuk permak muka. Lagi-lagi, tekanan sosial terhadap perempuan. Huft!

Lumayan frustasi nontonin semua karakter dewasa di film A Normal Woman justru kalah sama Angel yang masih remaja. Kek, rasanya pengen teriakin, “Get your minds together!” ke semua orang di situ bahwasanya ada seseorang yang butuh pertolongan—Milla.

Sebenarnya Mima Shafa sendiri adalah anak dari Mona Ratuliu dan Indra Brasco. Bahkan ini film perdana Mima dalam karir aktingnya. Meskipun, lebih banyak menyuarakan Mental Health, namun Mima sendiri pernah merasakan jadi bagian dari sistem mental health yang selama ini kita rasakan.

Hal ini mengingatkan saya pada betapa mental health awareness merupakan topik yang paling sering dibahas sama generasi muda. Mungkin penempatan karakter Angel dengan kesadaran mental yang tinggi adalah salah satu bentuk representasi anak muda di sebuah film psikologi. Thumbs up!

Overall Review

Film A Normal Woman menyajikan sebuah cerita psikologis dengan balutan drama dan thriller. Namun, pesan besar tentang tuntutan sosial, terkhususnya bagi perempuan, sangat kental dalam film ini. Ketika seseorang menolak untuk terbuka, maka tubuh lah yang akan menjadi media bicaranya.

Salah satu film yang harus masuk watchlist Netflix kalian. Tim Layardotid memberikan skor 8/10 untuk Review A Normal Woman. Sudah tayang di Netflix sejak 24 Juli 2025.

Karya yang dimuat ini adalah tanggung jawab penulis seperti yang tertera, dan tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi layar.id.

Previous Post

Next Post

Loading Next Post...
Follow
Sidebar Search Trending
Popular Now
Loading

Signing-in 3 seconds...

Signing-up 3 seconds...