
Layar.id – Guru, Kerusuhan dan masih banyak lagi masalah di Indonesia terutama kisah Dystopia. Antara satu dengan lainnya itulah yang membuat perpecahan ini terus berlanjut. Namun, itu semua ada di sebuah cerita Pengepungan di Bukit Duri. Sebuah karya dari Joko Anwar tentang keresahannya atas beberapa hal, pertama pendidikan, kedua isu rasial dan terakhir pengabdian sebagai guru. Lantas, apa sih yang melatarbelakangi film ini? Inilah review Pengepungan di Bukit Duri atau The Siege at Thorn High.

Joko Anwar sendiri dalam Press Conference-nya mengatakan kalau masalah di Indonesia sendiri itu bisa pecah karena sangat tipis sekali atau mudah sekali tersulut orang Indonesia tersebut. melihat situasi dan juga masalah Indonesia ini sendiri tidak bisa selesai, otomatis ya Joko Anwar membuat sebuah film action thriller dengan cerita anak sekolah.
Okelah, kaya apa sih ceritanya? Simak dulu berikut review dari setiap bagian tersebut.

Sembah sujud deh sama penceritaan dari Joko Anwar. Entah kenapa, fierce banget dan beneran di luar nalar ini seh. Soalnya, apa yang Joko Anwar tulis sendiri bikin semua orang bisa rasakan. Mulai dari bullying sampai masalah struktural dan kerusuhan. Terutama masalah traumatik terhadap suku dan apapun itu. Sehingga tidak ayal ini film beneran suguhin semuanya. Bahkan kami pun sampai terhenyak dan diam sejenak. Tidak ada ampun kami seperti dapat hantaman setiap detiknya oleh Joko Anwar.
Beneran sih, kali ini kami sendiri punya kesan berbeda. Act pertama sampai ketiga pun menunjukkan kalau mereka ini sebenarnya sama saja. Bahkan isu yang mereka angkat pun jadi relate dengan apa yang akan terjadi di Indonesia. Mungkin seh, tapi jangan sampai karena efeknya beneran menakutkan sekali dan sepertinya ini bakalan jadi film dengan trauma issue yang bakalan jadi omongan.
Sebenarnya baru kali ini kami seperti kena tonjok dari berbagai macam posisi. Entahlah, ini jadi bagian menarik sih, okelah nilainya 8,5/10!

Sebenarnya baru lihat dystopian imajiner ala Joko Anwar. Mulai dari kejadian kerusuhan sampai bagaimana Pub bar bawah tanah untuk para kelompok minoritas. Belum lagi pertempuran di sekolah yang beneran intense, semuanya ini beneran Joko Anwar bawa ke level berbeda.
Mulai dari set sampai pergerakan kamera dengan One Shot Take seolah ini semua begitu cepat terjadi. Belum lagi, adegan perkelahian intens saling menghunus satu sama lainnya. Entahlah ini membawa kita ke masa kejayaan The Raid dengan koreografi fight yang begitu kuat dan luwes sekali.
Sebenarnya sih, ada satu hal yang agak mengganjal, soal properti mobil sendiri. Dari 2009 ke 2027 sendiri timeline-nya ini begitu unik. Tidak ada sama sekali mobil listrik yang berseliweran! Lantas, apa ini sebenarnya period correct atau ya agak sulit mencari mobil listrik? Rasanya sih kesulitan mencari mobil listrik yang relevan membuat film ini kesannya agak jumping dari sisi set tempat.
Selain itu, sekolah Duri sendiri seperti sekolah lama yang terlihat sekali spooky dan kembali ke era 2000-an awal. Mungkin saja abang Joko Anwar membawa ini ke arah Indonesia kalau chaos ya begini hasilnya. Tapi overall oke kok dengan kami beri nilai 8/10.

Tidak usah ragukan Omara Esteghlal adalah pemenang di film ini! Aktingnya jadi Jeffri beneran bisa membawa kita takut akan kehadirannya. Bukan Jeffri yang kita kenal petantang petenteng bawa anak buah gede. Tapi lebih dari itu, ia membawa trauma besar dibalik kenakalannya.
Tapi salutnya seh, totalitas Omara di film ini beneran bikin semua orang takjub sekali. Sampai tepok jidat kita dibuat oleh seorang Omara Esteghlal ini. Selain itu ada Satine Zaneta yang kembali nakal dan berhasil bikin kesel orang. Terus Fatih Unru memang menurun bakatnya dari almarhum Yayu Unru.
Kemudian Morgan Oey kembali membuktikan kalau ketakutan dan trauma sebagai minoritas itu beneran ada! Bahkan terbawa sampai kita dewasa lho trauma masa lalu kelam itu. Rasanya sih semua pesan terdeliver dengan baik dan juga semua pemain punya andil kuat di film ini. Itulah yang bisa jadi pilihan tepat buat bang Joko Anwar. Nilainya berapa? kita kasih 9/10 terutama buat Omara!

Omara berikan kemampuan maksimal menjadi seorang penjahat namun satu sisi ia punya masa lalu kelam akibat dari kekejaman orang-orang yang membuat ibunya itu trauma. Namun satu sisi, pencarian keponakan dari Morgan Oey sendiri alias Edwin ini apakah berlanjut dan satu lagi balas budi itu ada dan pastinya orang yang menolong Edwin kembali.
Sedangkan kami sendiri setelah berpikir keras bisa berikan angka 8.5/10 deh! Soalnya masih banyak teka-teki yang kudu dicari dan apakah ini ada hubungannya dengan kondisi negara saat ini? Sebuah keresahan akan masalah yang ada saat ini bisa saja meletus begitu saja. Jadi Review Pengepungan di Bukit Duri? Bagus deh!






