Review Si Paling Aktor, Komedi Tanpa Pondasi

Adiyasa PrahendaFilm2 months ago281 Views

Layar.id – Film Si Paling Aktor sebenarnya punya premis yang cukup menjanjikan untuk Perfilman Indonesia. Mengangkat kisah figuran medioker yang terjebak dalam situasi kriminal dan terpaksa jadi “aktor beneran” di dunia nyata. Sutradarai oleh Ody C. Harahap, film ini seperti ingin jadi action-comedy dengan sentuhan satire industri film.

Masalahnya adalah, film ini beneran masih kebingungan mau jadi apa. Antara komedi, Aksi atau sekedar menyindir situasi industri Film terutama Perfilman Indonesia film ini tidak pernah benar-benar memutuskan mau jadi apa. Antara komedi, aksi, atau sindiran tentang kerasnya hidup para aktor figuran tapi semuanya mau masuk dalam satu frame.

Jadi kita bahas semua di bawah ini.

 

Cerita Sendiri Banyak Miss Ketimbang Hit

Maksudnya begini, alur cerita okelah menarik dengan cerita perjuangan Gilang plus kesotoyannya dan keras kepala-nya. Namun, satu sisi juga penggambaran figuran ini jauh dari kata oke dan tidak memperlihatkan karakter film komedi itu.

Okelah, hal paling miss di film ini adalah beberapa fakta pendukung dalam karir Gilang. Pertama kursus barista untuk sekedar adegan berikan kopi. Hal ini terungkap dari perdebatan dengan Sutradara yang sebenarnya bisa lebih lucu lagi. Selain itu, masalah terberat adalah timing komedi dengan punchline yang beneran berantakan sekali. Parahnya lagi, Jourdy seperti lupa kapan kalimat punchline itu keluar di waktu tepat. Alhasil, komedinya pun jadi turn-off sekali.

Kemudian, bumbu jokes saat aksi beladiri ini bisa lebih natural dan perlihatkan Gilang misalkan kesakitan atau malah di adegan berikutnya sama Yayan Ruhiyan dia balas lagi sampai gigi-nya copot atau tangannya terkilir. Jadinya lebih banyak gimmick komedi akan muncul di film ini bukan.

Kemudian, motif kriminalnya ini harusnya lebih serius namun di film ini malah tidak jelas sama sekali. Cenderung bermain aman dan terkesan kurang nyaman. Padahal ya, tujuan kejahatan dari film ini malah justru bisa jadi justifikasi dari apa sih alasannya sampai culik mereka bertiga.

Dan ada pola dialog repetitif yang selalu berulang di film ini antara satu profesi ke profesi lainnya itu beneran bikin orang bertanya. Ini fokusnya kemana sih, si figuran ini kok bisa semua apa dia generalist atau cuma sekedar belajar doang.

Dari situlah, kesannya ini film maunya Full Komedi ataupun Full Action jadinya ambil tengah saja, maunya Comedy Action. Itupun juga komedi-nya banyak miss ketimbang hit.

Jourdy Pranata Kurang Mendalami

Sebenarnya masih ada waktu buat mendalami dunia komedi. Terutama Jourdy sendiri cocok banget bermain di film komedi action. Namun, skenario dan penempatan punchline ini lho yang bikin komedinya jadi susah dapat.

Contoh saja, saat Danang jadi sutradara rasanya punya lemparan jokes yang bisa saja Jourdy mau timpalin sesuai dengan skrip. Namun, kembali lagi persoalan timing ini sepatutnya jadi concern baru untuk filmmaker dan comedy consultant.

Belum bicara penggunaan dwi bahasa oleh Verdy Soelaiman dan juga David Nurbianto sendiri malah bikin bingung kita. Karena motif penculikan sampai penebusan itu jadinya hanya filler untuk mempertebal tujuan penculikan tersebut.

Kemudian Beby Tsabina dan Kevin Julio ini seharusnya punya motif tersendiri apakah memang karakternya seperti sutradara paling sulit menerima figuran kaya begitu. Atau dari Beby Tsabina pun juga bisa buat gimmick komedi yang sebenarnya lebih dari sekedar permainan kata doang.

Visual Sepi Sekali

Justru ini Film komedi seharusnya banyak properti yang bisa mendukung aksi komedi Gilang. Mulai dari bentuk properti sampai ada suara yang beneran bisa orang tertawa. Dan ini tidak terjadi di film ini. Beneran sepi dan sunyi tidak ada apa-apa yang bisa bikin orang ketawa.

Malah cenderung bermain aman supaya bisa mengangkat nama Gilang meskipun kesannya ini kaya film komedi setengah matang.

Pada akhirnya, Si Paling Aktor merupakan film dengan ide paling menarik dan beda. Tapi eksekusi-nya itu tanpa arah yang jelas. Akhirnya berujung komedinya gagal kena semua, aksinya tidak cukup intens, dan dramanya tidak pernah benar-benar terbangun dari awal. Sebenarnya ini film mau jadi kumpulan sketsa atau hanya fragmen film dari berbagai genre tapi tidak bisa menyatu.

Jourdy Pranata sebenarnya punya potensi di ranah komedi action, tapi kembali lagi ini masalah naskah dan timing yang presisi akan mengurangi performa-nya tak bisa maksimal sekali.

Hasil akhirnya? Bukan film yang benar-benar buruk, tapi juga jauh dari kata memorable. Sebuah konsep yang seharusnya bisa jadi pilihan alternatif dan menyegarkan pun tidak semenarik itu.

Skor: 6/10.

Karya yang dimuat ini adalah tanggung jawab penulis seperti yang tertera, dan tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi layar.id.

Loading Next Post...
Follow
Sidebar Search Trending
Popular Now
Loading

Signing-in 3 seconds...

Signing-up 3 seconds...