Review Dhurandhar: The Revenge, Harusnya Bisa Lebih Padat!

Adiyasa PrahendaFilm3 months ago410 Views

Layar.id – Dhurandhar mungkin jadi Film India Full-Blown Action yang tayang di Indonesia. Responnya pun sangat positif dan banyak penonton yang penasaran dan di India sana pun sampai membludak semua penonton yang penasaran dengan ceritanya. Nah inilah Review Dhurandhar paling kritis!

Ceritanya sendiri mengisahkan seorang agen intelijen dari India untuk memasuki wilayah Pakistan. Meskipun Hamza Ali sendiri mengenalkan diri sebagai sosok dari suku di Pakistan. Namun, kedekatannya dengan organisasi teroris, membuat ia bisa menyusup ke para mafia di sebuah wilayah bermana Lyari. Tapi, apakah premis cerita ini yang bisa mengangkat film action tersebut? Kita bahas dari beberapa Chapter cerita yang ada.

Cerita Terbagi ke 8 Babak Bikin Bingung

Pada Chapter 1, film membuka dengan misi penyelamatan sandera pesawat Air India di wilayah Pakistan. Adegan ini sebenarnya cukup menjanjikan sebagai pembuka political thriller, namun motivasi di balik operasi tersebut tidak dijelaskan secara kuat, sehingga terasa hanya sebagai setup tanpa fondasi.

Masalah mulai terlihat di Chapter 2 ketika cerita langsung berpindah ke tokoh utama, Hamza Ali, tanpa pembangunan karakter yang memadai. Perjalanan yang ditampilkan terasa terlalu panjang dan lebih berfungsi sebagai visual daripada memperkuat ketegangan atau informasi. Selain itu, jaringan agen di Lyari hanya disinggung secara tipis, padahal aspek ini krusial dalam genre espionage.

Chapter 3 mulai memperjelas target operasi dan memperkenalkan konflik yang lebih konkret, termasuk porsi villain yang lebih dominan. Namun, proses infiltrasi yang terlalu mudah justru mengurangi ketegangan, seolah konflik bisa berjalan tanpa risiko berarti.

Chapter Berikutnya Tidak Kalah Menarik

Secara keseluruhan, tiga chapter awal terasa seperti membuka potensi besar tanpa benar-benar membangun fondasi karakter dan konflik dengan kuat. Bahkan pada Chapter 4 hingga 6, cerita sebenarnya bisa lebih padat dan lebih fokus pada konflik politik antara Rehman Dakait dan Jameel Jamali, yang justru menjadi bagian paling menarik dari film ini.

Intrik politik dan strategi Hamza dalam mengadu domba kedua pihak menunjukkan potensi espionage yang solid. Sayangnya, elemen tersebut tertutupi oleh drama percintaan yang tidak terlalu relevan. Selain itu, motivasi di balik beberapa kejadian penting, seperti insiden yang menimpa Rehman Dakait, terasa menggantung dan kurang terjelaskan.

Belum lagi soal Mayor Iqbal hadir tanpa ada bridging sama sekali perannya di film ini apakah cuma makelar atau memang Intelijen ISI Pakistan yang punya akses ke para teroris. Padahal ini faktor kuat kenapa ia muncul dan alasannya apakah mencari penyusup sampai ke akarnya. Itu saja belum bisa gambarkan apakah ia sendiri memang punya tujuan lain di ISI untuk menyerang India dengan terorisme.

Pada akhirnya, film ini memiliki ide besar, namun kurang fokus dalam eksekusi. Dengan struktur yang lebih ringkas dan penekanan pada elemen espionage, cerita sebenarnya bisa terasa jauh lebih kuat.

Akting Kurang Dapat

Pendekatan emosional yang terlalu dominan justru menggeser fokus film dari konflik intelijen ke drama personal. Akibatnya, ketegangan utama tidak berkembang optimal. Padahal, konflik bisa lebih kuat jika difokuskan pada kegagalan analisis dari pihak intelijen yang berdampak langsung pada keputusan di lapangan.

Selain itu, beberapa karakter pendukung seperti Amma dan para agen lapangan tidak mendapatkan ruang pengembangan yang memadai. Dalam struktur film espionage, karakter-karakter ini seharusnya berfungsi sebagai jangkar bagi tokoh utama dalam membangun strategi dan membaca situasi. Minimnya eksplorasi membuat dinamika operasi terasa kurang hidup.

Di sisi lain, porsi konflik antara Rehman Dakait dan lingkarannya juga terasa kurang solid. Resistensi yang dibangun terlihat dangkal karena posisinya lebih berfungsi sebagai target, bukan sebagai kekuatan yang benar-benar mampu mengimbangi ancaman dari Chaudhary Aslam. Padahal, secara performa karakter Rehman Dakait justru memiliki potensi yang lebih kuat! Bila membandingkan dengan antagonis utamanya.

Visual Bagus dan Megah

Ini keunggulan Dhurandhar dan bisa jadi contoh kalau penempatan Film Espionage itu bisa berwarna dan juga ikutin kemauan dari cerita. Hasilnya adalah visual dari aksi yang beneran terlihat nyata dan brutal. Serta bisa megah dan indah dalam satu film.

Sayangnya, masih banyak yang harus diperbaiki termasuk bagaimana latar belakang kisah dan juga beberapa set tempat ada di India juga.

Kesimpulannya, Dhurandhar sendiri bisa selesai tanpa harus ada The Revenge. Meskipun akan banyak pengorbanan dari segi cerita karena balik lagi, tidak semua negara bisa menonton lebih dari 2 jam bahkan sampai 4 jam untuk sebuah film. Review Dhurandhar kali ini cukup fair, kita kasih angka 7.8/10!

 

Karya yang dimuat ini adalah tanggung jawab penulis seperti yang tertera, dan tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi layar.id.

Loading Next Post...
Follow
Sidebar Search Trending
Popular Now
Loading

Signing-in 3 seconds...

Signing-up 3 seconds...