
Layar.id – Malam 3 Yasinan ini beneran mengulas masalah dari pemilik Pabrik Gula. Kekuasaan, tidak boleh ada kesalahan dan lain-lain. Semua itu harus sempurna di mata seseorang. Padahal mah, masalahnya itu sebenarnya bukan aib namun buat mereka jadi sebuah aib yang mengorbankan seluruh keluarga. Sungguh menyakitkan dan seram sekali filmnya! Inilah Review Malam 3 Yasinan.

Ceritanya sih ada anak kembar perempuan. Namun, satu sisi suaminya ini punya istri kedua punya anak laki-laki. Namun, kembar ini rasanya banyak sekali perbedaan. Bandingkan dengan yang lain memang penerusnya itu sosok anak laki ini. Nah, apa yang terjadi? Sudahlah simak dulu berikut ini.
Entah kenapa, dari cerita soal kutukan hari ketiga. Malah ceritanya ambil soal masalah hubungan antar saudara. Sebenarnya sih, masalah peliknya itu ada beberapa bahkan cerita Baskara sendiri malah jadi pelengkap tanpa ada dukungan apapun. Itupun juga sepertinya cocok dengan pemeran Baskara sendiri.
Namun, sosok Ari sendiri rasanya kaya punya sesuatu yang beneran tidak jelas kenapa ia bisa meninggalkan kedua istrinya. Kemudian alasan dari seorang Opa Hendra pun juga tidak bisa kasih kekuatan kemana Ari dan apakah ia sakit. Itulah yang membuat keduanya sangat bertolak belakang.
Terus, Samira dan Sara ini kan kembar namun ada beberapa hal yang sebenarnya masih bisa kita gali lebih lanjut. Apalagi soal polemik hubungan kedua istrinya itu lho. Sumpah, kalau ngomongin soal harga diri keluarga rasanya ini agak janggal.
Itu saja dulu bagaimana pola cerita-nya pun terlalu sederhana tapi rasanya kaya banyak plot hole yang masih bisa angkat kisah dari keluarga ini. Meskipun penjelasan di endingnya pun agak terasa banyak yang penuh.

Bukan kritikan pedas tapi Hamish Daud ini seperti lupa atau memang gayanya kaku banget. Cocok dengan karakter Baskara tapi seperti lupa perannya ini tidak kaku banget. Entah kenapa, nyaris tidak punya ekspresif kecuali saat marah.
Kemudian, akting menawan Shaloom pun menunjukkan ini anak bisa bermain di dua karakter berbeda. Meskipun aktingnya masih butuh penyesuaian. Tapi, inilah wujud tantangan yang bisa mereka kerjakan dan juga menariknya ini bisa berduet dengan ibunya, Wulan Guritno. Profesional dan sangat menawan!
Piet Pagau sendiri berani tampil apik sebagai Opa Hendra. Beliau menunjukkan kapabilitasnya meskipun memang jarang sekali melihat beliau tampil di film-film manapun. Dan beberapa nama lainnya yang beneran bisa bikin kita kaya okelah aktingnya.

Konsep jelas tahun 80-an namun dari segi desain dan gambar pun seperti era modern. Inilah yang bikin film ini bisa keterima dengan mudah. Sisanya sih normatif tidak ada gebrakan apapun yang bikin kita pusing kepala.
Okelah review Malam 3 Yasinan kali ini kita kasih 6.8/10 deh!






