
Layar.id – Apa kalian percaya kalau sekte kanibal itu masih ada di abad ke 21? Gimana kalo ternyata salah satunya masih berlaku di Indonesia? Film Labinak siap menyajikan perspektif horror yang uncommon dari point of view sebuah sekte kanibalisme bernama Bhairawa. Labinak sudah tayang di bioskop sejak 21 Agustus 2025.
Kali ini, tim Layardotid akan memberikan review terkait film Labinak. Artikel ini akan mengandung spoiler demi kebutuhan penulisan, ya!

(sumber: Anami Films)
Mungkin bisa kita bahas dari premis filmnya dulu. Film Labinak mengisahkan tentang seorang guru honorer bernama Najwa yang tinggal bersama anaknya, Yanti. Meski keduanya selalu bersikap positif, namun kondisi ekonomi mereka sebenarnya udah di ujung tanduk.
Saat mereka lagi di kondisi yang mencekik, Najwa justru dapet sebuah tawaran menarik dari sebuah yayasan bernama Payung Emas untuk bekerja di sana. Demi memberikan Yanti hidup yang lebih baik, akhirnya Najwa menerima tawaran itu.
Tapi siapa sangka kalau mereka justru jatuh ke sarang kanibal? Tidak ada makan siang gratis!

(sumber: Anami Films)
Salah satu poin yang jadi “Sindiran” dalam film Labinak adalah para penguasa yang kerap mengeksploitasi orang-orang di bawah kasta mereka karena power yang sangat besar atau dalam hal ini berbentuk uang dan privilege. Meski Payung Emas menolong Najwa dan Yanti dari kemiskinan, tapi nyawa mereka jadi taruhan besar untuk segala kemewahannya.
Scene meja makan saat Yanti mendapat kudapan special dari keluarga Payung Emas juga jadi contoh bahwa nggak ada makan enak yang gratis. It’s either you gained it, or you paid for it. Najwa dan Yanti tetap harus berusaha untuk keluar karena mereka cuma punya dua pilihan. Memakan atau dimakan.

(sumber: Anami Films)
Film Labinak turut menyorot bentuk pengorbanan seorang ibu untuk anak sematawayangnya. Terutama karena Najwa digambarkan sebagai seorang ibu tunggal, dan Yanti adalah anak satu-satunya. Najwa akan ngelakuin apapun untuk Yanti, bahkan mengorbankan rasionalismenya setelah berpindah rumah ke salah satu unit gratis dari Payung Emas.
Hal ini dikarenakan Najwa udah ngeliat tanda-tanda aneh setelah pindah ke rumah baru. Orang waras mah bakal ketakutan dan cabut, kan? Namun, Najwa sendiri juga nggak punya banyak pilihan. Demi kelancaran hidup mereka, ia harus menahan diri untuk menetap bersama Najwa di rumah aneh tersebut. Huhuhu..
Meski konsepnya menarik banget, namun tetap ada kekurangan yang cukup mengganggu saat nonton film Labinak. Beberapa adegan keliatan awkward, mulai dari segi akting dan dialognya. Penggunaan dialog semiformal agak merusak esensi horror yang diberikan, terutama di beberapa adegan bersama keluarga Payung Emas. Mungkin karena pembentukkan karakternya sesuai sama umur, kali ya? YTTA.~
Chemistry antara beberapa karakter juga kelihatan rada “nahan”. Mengingat beberapa dari anggota keluarga Payung Emas sudah kenal sama Najwa, yang ada di bayangan kami adalah keakraban khusus yang terjalin antara sang Guru dengan yayasan. Tapi, plot ceritanya terkesan kayak diada-adain demi memperkuat kedudukan yayasan tersebut.
At the end of the day, chemistry Yanti dan Najwa menyelamatkan keseluruhan film Labinak. Fyuuh!
Film Labinak adalah sebuah film horror yang mengambil tema menarik, yaitu tentang sebuah sekte kanibalisme bernama Bhairawa. Praktik kanibalisme ini dipercaya sebagai sebuah resep panjang umur dengan memakan daging manusia.
Buat kalian yang mau nonton, kami sarankan kosongkan perut dulu ya. Soalnya film ini lebih menyungsung unsur disturbing yang bikin mual ketimbang horror setan yang mengagetkan. Silakan kupas sendiri kisah Najwa dan Yanti di rumah baru mereka dan masa lalu kelam yang terus mengikuti jejak keduanya.
Layardotid memberikan skor 3/5 untuk Labinak.






