Review Crocodile Tears, Hubungan Dysfunctional Ibu dan Anak

Adiyasa PrahendaFilm Indonesia1 month ago2.3K Views

Layar.id – Kalau film seperti ini benar-benar tayang, perdebatan rasanya bakal panjang dan tidak ada ujungnya. Sebab hubungan anak dan ibu memang selalu jadi tema yang relevan sepanjang masa. Tapi bagaimana jadinya kalau hubungan itu justru kita bawa ke wilayah yang gelap, absurd, dan sama-sama berbahaya? Inilah Review Crocodile Tears versi kami.

Sebenarnya, film ini lebih banyak memperlihatkan karakter hubungan ibu dan anak dalam bentuk yang jauh dari kata fungsional. Namun, apa sebenarnya yang disebut fungsional dalam sebuah keluarga? Pertanyaan itu justru menjadi salah satu inti yang membuat film ini menarik untuk dibahas.

Cerita yang di Luar Nalar

Tumpal Tampubolon tampaknya memang suka menulis cerita yang penuh tanda tanya. Lewat Crocodile Tears, ia menghadirkan kisah yang mengambil filosofi hubungan seorang ibu dan anak buaya sebagai metafora dari relasi yang mereka bangun.

Di dalam hubungan Mama dan Johan, ada lapisan proteksi yang terasa sangat kuat. Seolah ada konsep “protective mother” yang terus membayangi, tetapi film ini juga diam-diam memaksa penonton bertanya: sampai di mana batas perlindungan seorang ibu? Apakah hubungan ibu dan anak memang harus selalu saling terhubung tanpa jeda, atau justru ada titik di mana perlindungan berubah menjadi kontrol?

Di sisi lain, hubungan Johan dan Arumi terasa jauh lebih hangat dan natural. Johan gambarkan sebagai orang yang tulus, sementara Arumi pun terlihat punya ruang untuk merasakan hal yang sama. Sayangnya, kehadiran Mama justru membuat atmosfer itu jadi tidak nyaman. Tingkah lakunya membangun rasa ganjil yang terus mengganggu, dan itu membuat film ini sulit ditebak arahnya.

Banyak hal dalam film ini mungkin sulit dijelaskan dengan sederhana. Tapi justru di situlah kekuatannya. Crocodile Tears sukses membuat penonton merasa bingung sekaligus takjub pada saat yang sama.

Marissa Anita dan Yusuf Mahardika Jadi Kunci

Yang paling mengangkat film ini adalah permainan akting para pemain utamanya. Marissa Anita tampil sangat meyakinkan sebagai sosok ibu. Ia bukan sekadar memerankan karakter “mama”, tetapi benar-benar menghadirkan aura keibuan yang terasa kuat dan menekan.

Yusuf Mahardika juga tampil solid. Ia mampu mengikuti ritme permainan Marissa Anita dengan baik, sehingga interaksi keduanya terasa hidup dan punya bobot emosional. Di sisi lain, Zulfa Maharani hadir sebagai antitesis yang efektif. Kehadirannya memberi keseimbangan sekaligus mempertegas benturan dalam relasi yang memang sudah tidak sehat sejak awal.

Visual yang Berani dan Punya Karakter

Dari sisi produksi, Crocodile Tears juga patut dapat apresiasi. Tumpal Tampubolon tampaknya tahu betul bagaimana membangun ruang yang terasa nyata dan punya identitas. Rumah yang mereka bangun khusus untuk film ini, lalu hancurkan setelah proses syuting selesai, menunjukkan keseriusan produksi yang tidak main-main.

Lokasi seperti penangkaran buaya dan Bukit Hyundai juga memberi lapisan visual yang menarik. Penggunaan lokasi nyata membuat film ini terasa lebih hidup dan punya tekstur yang kuat. Ada keberanian untuk tidak bermain aman, dan itu terasa jelas di layar.

Kesimpulan

Crocodile Tears adalah film dengan pendekatan relasi disfungsional yang unik, aneh, dan berani. Ia bukan film yang nyaman ditonton, tapi justru di situlah daya tariknya. Untuk Review Crocodile Tears, kami kasih nilai 6.8/10.

Karya yang dimuat ini adalah tanggung jawab penulis seperti yang tertera, dan tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi layar.id.

Loading Next Post...
Follow
Sidebar Search Trending
Popular Now
Loading

Signing-in 3 seconds...

Signing-up 3 seconds...