Review The Smashing Machine, Belajar Kalah dari Mark Kerr

Adiyasa PrahendaFilm Barat9 months ago531 Views

Review The Smashing Machine

Layar.id – Jika ingin tahu seberapa besar makna dari kata “mengalah”, belajarlah dari Mark Kerr. Begitulah kira-kira gambaran yang ingin disampaikan Benny Safdie lewat karya terbarunya, The Smashing Machine. Film ini mengisahkan perjuangan berat dan perjalanan karier naik-turun dari sosok Mark Kerr. Mengapa kisahnya menarik? Simak ulasan review The Smashing Machine berikut ini.

Mark Kerr adalah sosok yang unik dan penuh kontras. Di satu sisi, ia merupakan veteran sekaligus pelopor dunia MMA di ajang UFC dan Pride Championship. Namun di sisi lain, ia harus berjuang melawan kecanduan obat penenang serta menghadapi hubungan pribadi yang rumit dengan kekasihnya, Dawn. Kisah hidup Kerr membuat film ini terasa lebih dari sekadar biopik olahraga.

Cerita Pastinya Umum

Review The Smashing Machine

Kisah seperti ini sebenarnya sudah sering ditemukan dalam kehidupan pegulat dan atlet pada era tersebut. Seperti kecanduan obat-obatan hingga konflik rumah tangga. Namun, di tangan Benny Safdie semua itu disajikan dengan sudut pandang yang berbeda.

Tantangan terbesar film ini mungkin terletak pada pengenalan olahraga MMA kepada penonton Indonesia. Banyak yang belum mengenal siapa Mark Kerr, padahal ia adalah salah satu pelopor olahraga full-contact ini. Di luar itu, film ini juga menyoroti dinamika hubungan antara Dawn dan Mark yang menjadi inti emosional dari cerita, terutama ketika konflik mereka memengaruhi performa Kerr di ajang Pride Championship.

Benny Safdie menampilkan perbandingan yang menarik antara kehidupan pribadi dan profesional Kerr. Sayangnya, fokus film terasa kurang seimbang, terutama di bagian pertandingan besar dan konflik dengan Dawn menjelang final Pride Championship. Meski begitu, sisi emosional film ini tetap terasa kuat dan natural, walau di beberapa bagian kisahnya terkesan berputar.

Peran The Rock Solid

Dwayne “The Rock” Johnson tampil luar biasa. Gestur tubuhnya, ekspresi wajah, dan penjiwaan karakternya membuat penonton benar-benar percaya bahwa ia adalah Mark Kerr. Apalagi dengan rambut botak dan postur khasnya, kemiripannya dengan Kerr terasa sangat nyata.

Begitu pula dengan Emily Blunt yang berperan sebagai Dawn Staples. Aktingnya solid dan penuh emosi, membuat penonton ikut merasakan frustrasi dan konflik batin yang dialami karakternya. Sementara itu, Ryan Bader yang memerankan Mark Coleman, teman sekaligus rekan Kerr di UFC, juga tampil menonjol dan memperkuat kesan realistis film ini.

Secara keseluruhan, jajaran pemeran benar-benar memberikan performa akting yang mengesankan, terutama The Rock yang berhasil menunjukkan sisi rapuh di balik sosok kuatnya.

Sinematografi Transisi Milenium

Salah satu aspek paling menarik dari film ini adalah sinematografinya. Gaya visual yang ditampilkan benar-benar membawa penonton ke era transisi akhir 1990-an hingga awal 2000-an. Gambaran suasana Jepang pada masa itu terasa autentik dan memukau. Nuansa visual yang khas membuat film ini memiliki karakter yang kuat sekaligus nostalgik.

Secara keseluruhan, The Smashing Machine merupakan karya epik dari Benny Safdie yang berhasil memadukan drama personal dengan intensitas dunia MMA. Meski ada beberapa bagian yang terasa tidak seimbang, film ini tetap layak diapresiasi.

Skor akhir The Smashing Machine: 8/10.
Sebuah kisah tentang perjuangan, pengorbanan, dan arti mengalah yang sesungguhnya dari seorang Mark Kerr.

Karya yang dimuat ini adalah tanggung jawab penulis seperti yang tertera, dan tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi layar.id.

Loading Next Post...
Follow
Sidebar Search Trending
Popular Now
Loading

Signing-in 3 seconds...

Signing-up 3 seconds...