
Layar.id – Film “No Other Land” adalah sebuah dokumenter yang mendapat penghargaan Best Documentary Feature Film di 97th Academy Awards. Dokumenter ini adalah karya sutradara Basel Adra yang adalah merupakan seorang aktivis, pengacara dan jurnalis asal Palestina. Basel menciptakan dokumenter No Other Land bersama Hamdan Ballal, Yuval Abraham dan Rachel Szor.

Yang menjadi isu utama, film ini menyoroti genosida yang terjadi pada wilayah Palestina sejak bertahun-tahun lamanya. No Other Land merekam bagaimana warga Palestina melawan kekerasan, tekanan, dan segala serangan militer Israel atas nama keadilan negara.
Seorang aktivis muda asal Palestina bernama Basel Adra amat menolak keras “penggusuran” oleh tentara militer Israel di Masafer Yatta, sebuah region di West Bank. Suara penolakan dan perlawannya berkali-kali ia lakukan sejak kecil. Dokumenter ini menunjukan kehidupan Basel sejak ia masih anak-anak (atau remaja awal) hingga ia beranjak dewasa.

Berawal sejak ia kecil, Basel merekam semua kerusakan akibat serangan militer Israel di tanah Palestina. Sepanjang dokumenter, sang sutradara menunjukkan bukti pada dunia, bagaimana tentara Israel datang berbondong-bondong dengan buldoser dan tank untuk meruntuhkan rumah-rumah warga.
Aksi penggusuran ini bertujuan untuk membuat lapangan militer khusus area tembak. Namun, salah satu sorotan besar adalah momen saat Basel berteman dengan Yuval. Seorang jurnalis Yahudi Israel yang membantunya merekam semua bukti nyata untuk dokumenternya.

Basel dan Yuval justru berhubungan dengan ketat. Meskipun itu, keduanya tetap menghadapi sebuah tantangan besar dalam kondisi kehidupan masing-masing.
Basel yang terus menghadapi opresi dan kekerasan, sementara Yuval merasakan kebebasan dan keamanan dalam setiap geraknya.

Dokumenter No Other Land telah menjalani masa produksi pada tahun 2019 sampai 2023. Beneran sih, keberaniannya Basel untuk membuat dokumenter ini—terlebih, dengan taruhan nyawanya sendiri—nggak ada tandingannya.
Saat menerima penghargaan Oscar, Adra selaku sutradara utama menjelaskan bahwa dokumenter No Other Land benar-benar menunjukan realita keras yang terjadi pada warga Palestina selama puluhan dekade.
“Sekitar dua bulan lalu, aku baru saja menjadi seorang ayah. Dan harapan untuk putriku adalah semoga ia tidak akan harus menjalani hidup seperti hidupku sekarang. Hidup dalam ketakutan, kekerasan, rubuhan rumah, dan gusur paksa yang menjadi hidup dan makanan sehari-hari komunitasku di bawah penjajahan Israel,” jelas Adra.
Namun, satu pesan besar dalam winning speech Adra adalah, “Kami mengajak seluruh dunia untuk mengambil langkah serius dalam menghentikan ketidakadilan dan penghapusan etnis terhadap rakyat Palestina.”

Sementara itu, co-director Yuval Abraham yang merupakan warga Israel, menyatakan bahwa pembuatan film ini berbasis pada persatuan Palestina dan Israel yang sama-sama berhak kebebasan.
“Ketika aku melihat Basel, aku melihat saudaraku. Tapi, kita tidak sama. Kita hidup di bawah rezim di mana aku bebas di bawah hukum sipil, sedangkan Basel hidup di pantauan hukum militer yang menghancurkan hidupnya—dan ia tidak bisa mengontrolnya,” ungkap Yuval.
Seluruh perjuangan Basel dan kru dokumenternya untuk membawa bukti besar pada dunia mengenai genosida di Palestina berbuah manis dengan kemenangannya di Oscar 2024. Tetapi, sejatinya, hadiah terbaik untuk seluruh kru No Other Land dan warga Palestina adalah kebebasan mereka dari penjajahan militer Israel.

From the river to the sea, Palestine will be free. ♡






