
Layar.id – Film animasi karya anak bangsa dari Visinema Studios berjudul “JUMBO” tayang di bioskop mulai Lebaran 2025! Sebelumnya, film JUMBO telah menggelar berbagai screening dan Review Jumbo mulai dari closed screening, special screening, hingga press screening mereka sebelum rilis. And let me tell you, WE ALL LOVED IT!
Kali ini, tim Layar.id akan memberikan review JUMBO. Film yang memakan waktu produksi selama 5 tahun sejak pandemi COVID-19 serta membawa 400 kreator lokal Indonesia. Film JUMBO menjadi film animasi Indonesia pertama yang tayang di 17 negara!
SPOILER ALERT! Artikel ini akan mengandung spoiler demi kebutuhan review Jumbo, ya.

Highlight utama dalam film JUMBO adalah karakter Don dan buku dongengnya yang berjudul Pulau Gelembung. Sejak trailer film JUMBO rilis, banyak penonton yang berspekulasi kalau latar ceritanya JUMBO berlangsung di sekitar tahun 2000-an. Jadi, Don ini masih termasuk generasi milenial, Gengs.

Tanda-tanda kemilenialan itu juga terlihat dari arsitektur bangunan, permainan anak-anak, sampai benda-benda elektronik yang ada di sekitar Don. Radio tangkai, anak-anak yang main kasti, sampe sarung alias jubahnya yang cuma bermotif kotak-kotak polos! Tahun segini mah, motif sarung udah macem-macem, gak sih?
Penggunaan buku dongeng sebagai media bercerita juga nunjukin perbedaan generasi yang cukup lebar. Kalau di tahun dua ribu belasan, media storytelling udah mulai berganti ke versi digital. Misalnya, seperti video animasi atau storytelling bergambar lewat Youtube.

Bagi Don sendiri, buku dongengnya adalah aset paling penting dalam upaya Don unjuk gigi. Tapi, siapa sangka kalau buku yang sangat dijaga sama Don, justru jadi boomerang terhadap hubungan Don dengan kawan-kawannya?
Dari Review JUMBO, kali ini berani menyentuh isu-isu kompleks yang, kalau di mata sebagian orangtua, mungkin terkesan seperti hal remeh-temeh. Coba inget-inget lagi, apa momen buruk yang pernah terjadi di masa kecil kalian dan cuma dapet closure dengan kalimat “Namanya juga anak-anak!”?
Actually, no. JUMBO memberikan gambaran besar terkait isu-isu yang kerap kita temukan di lingkaran pertemanan anak-anak: perundungan, balas dendam, duka, bahkan trauma masa lalu. Kisah Don yang jadi sasaran empuk bagi temen-temennya, terutama Atta, bahkan membongkar dua sisi yang lagi-lagi terlihat kayak cerita anak-anak biasa. Tapi, nggak cuma itu!

Karakter Atta yang antagonis adalah saksi bahwa kompleksitas hidup ngaruh banget sama pola didik dan asuhan seorang anak. Terutama kalau orangtuanya sudah nggak ada. Menariknya, setiap karakter di cerita JUMBO rata-rata nggak tumbuh bareng sosok orangtua mereka. Tapi, kenapa perkembangan karakternya bisa sangat berbeda? Inilah yang jadi kupasan serta insight bermakna dalam film JUMBO.
Atta memang nakal. Tapi saat sudah di rumah, Atta bukanlah anak yang sama dengan Atta yang dagunya terangkat tinggi di lapangan kasti. Kok bisa, ya? Kalian tonton sendiri, deh di film JUMBO!~
Yang pasti, cara para kreator membuka satu-satu kisah di balik tiap karakter sangatlah sederhana dan ramah anak. Dari pahit sampai ke manisnya. Namun, dinamika kehidupan yang tersaji tetap menggambarkan kerasnya dunia anak-anak dalam usia mereka meski masih sangat kecil.

Four thumbs up for this one. Film JUMBO bener-bener ngajarin kalau yang namanya tatakrama itu sangat-amat penting.
Salah satunya adalah JANJI ITU HARUS DITEPATI! Poin ini merupakan salah satu poin yang paling mencuat di antara sejumlah amanat lainnya. Karena ingkar janji, hubungan Don dan orang-orang di sekitarnya jadi rusak. Karena berjanji, Don bisa dapat apa yang jadi keinginannya. Dan karena mengingat janji juga, Don berhasil memperbaiki segala kesalahannya.
Kata “tolong, terima kasih, dan maaf” selalu saya temukan dalam percakapan antara Don, Meri, Mae, dan Nurman. Bahkan dari karakter antagonis seperti Atta terhadap abangnya, Acil, juga tidak luput kata “terima kasih” di dialog mereka.

Ada satu adegan yang sangat menarik bagi saya. Adegan saat Don, Mae dan Nurman bertemu dengan Meri. Karena Meri adalah sesosok hantu, Don yang penasaran banget iseng-iseng coba ngetes apakah Meri bisa disentuh dengan tangannya.
Tapi, Mae langsung menyembur, menegur Don dengan kalimat yang kurang lebih berbunyi, “Gak boleh pegang-pegang, izin dulu!”
Mengingat anak-anak emang suka iseng, terutama saat mereka bereksplorasi, kadang sentuhan-sentuhan yang dirasa “penasaran” itu sebenarnya nggak berbuah baik. Atau tak jarang, sebenarnya tidak sopan. Contoh kecil dari interaksi antara Don-Meri-Mae memberi pesan yang sangat keras: selalu minta izin sebelum menyentuh yang bukan kepunyaanmu!

Anak-anak memang belum lekat dengan konsep consent, terutama karena mereka belum cukup umur. Namun, meminta izin saat mencari tahu tentunya lebih menyenangkan—sebatas meminta izin untuk masuk kamar atau meminjam barang orang lain. Dengan mengedepankan consent, kamu akan dinilai sebagai anak yang sopan.
A win-win solution, kan?
Saatnya kita Review Jumbo terutama Geng JUMBOOO! Geng yang terbentuk dari satu anak ksatria ndut, satu pengembala kambing, satu mother of the group, satu makhluk halus, dan satu jagoan neon. Wuih, lengkap bener, ya.

Karakter Don adalah karakter anak yang realistis: bersemangat, gemesin, dan sadar nggak sadar, cukup egois. Tapi, untuk sifat yang terakhir ini berhubungan erat dengan upaya Don untuk melawan perundungan teman-temannya. Don punya ambisi kuat untuk membutikan kalau dirinya lebih dari sekadar anak gendut yang lelet!
Semuanya terbukti dari ide-ide Don yang cemerlang dan pertunjukan pentasnya yang sukses besar. Tapi, keegoisan Don—yang mana menurut saya, meskipun tidak baik tapi sangat manusiawi—nggak membantu pertemanannya berjalan mulus.
Di antara semua karakter, Don adalah karakter yang sukses bikin love and hate relationship sama sosoknya. Dari awal cerita yang menarik simpati, beranjak ke momen saat tingkah Don justru bikin keselnya, lalu rasanya bangga saat Don dan temen-temennya berhasil mengungkap plot twist besar di akhir cerita JUMBO!

Next up, Meri. Sesosok hantu yang manis, kadang pasrah, tapi pendiriannya kuat. Kehadiran Meri tuh kayak minum air putih setelah makan es krim dengan banyak banget topping! Tentu yang saya maksud sebagai es krim dengan topping segunung tuh ya kesatuan Don-Nurman-Mae. Karakter Meri adalah karakter yang paling dewasa di antara semua anak-anak. Karena Meri, Don dan kawan-kawannya berhasil menyatukan pikiran dan berbaikan seperti sediakala.
Eits, meski “halus” dan lembut, Meri tuh jahil juga, lho! Meri seneng banget ngerjain temen-temennya pakai kekuatan sihir dari tangannya. Emang bener yang namanya hantu di mana-mana pun sama aja.

Nurman adalah karakter yang unik banget. Seorang anak kecil yang kemana-mana diikutin kambing! Tapi di antara semua karakter, saya paling simpati sama Nurman. Lagi-lagi, karena Nurman nggak tumbuh bersama orangtuanya. Namun, semua kesedihan itu nggak kelihatan dari senyuman Nurman yang cengar cengir sepanjang film.
Btw, Nurman punya tiga mbek yang rada-rada kayak superstar. Liat aja potongan rambutnya!

Lalu, ada Mae—yang kalau kata Graciella Abigail selaku pengisi suaranya—si mother of the group Geng Jumbo! Bener, sih. Kalau Nurman atau Don mulai iseng, nggak fokus sama misi (anjay), atau bahkan berantem, Mae yang jadi penengah di antara mereka. Dari ngomel-ngomel sampai celetuk sedihnya tuh beneran keibuan banget. Meskipun galak, karakter Mae adalah karakter yang bersemangat dan nggak segan untuk menegur teman-temannya saat mereka berbuat salah.
Kalau Meri ngingetin dengan kalem, maka Mae ngingetin dengan alarm. Alias lebih vokal!

Terakhir, Atta yang jadi plot twist terbesar di cerita JUMBO. Suka banget sama treatment karakter ini, karena trailer-nya JUMBO nggak ngasih cela sama sekali buat behind story karakter Atta! Atta punya seorang kakak bernama Acil. Kehadiran Acil adalah turning point besar bagi Atta di akhir, sekaligus membawa Geng Jumbo pada suatu petualangan yang superseru!
Satu kalimat buat karakter ini: Atta deserves better.

Lima tahun produksi film animasi JUMBO nggak sia-sia sama sekali. Dari segi visual, animasi, dan detail, film JUMBO sanggup menyaingi gaya animasi internasional. Warna-warna yang cerah dan mencolok bikin mata saya hepi banget selama nonton. Persis gambar-gambar di buku dongeng!
Selain itu, detail-detail kearifan lokal yang tersaji juga menghibur banget. Bahkan, dari tekstur rambut dan kulit yang segitu detailnya. Personally, saya suka banget sama gaya rambutnya Mae yang bermodel curly. Warna kulit karakternya pun khas anak-anak yang suka main di lapangan: sawo matang.
Beberapa hal yang turut menarik perhatian saya adalah permainan panjat pinang, gerobak cendol, proyek jalanan, telepon umum, tumpukan teh botol, kawat tembok, rumah dempet.. sampai ke nama-nama toko yang masih menggunakan sebutan lama. Kapan lagi coba ada tulisan WARUNG BERKAH atau CENDOL WA2N di film animasi?

Dari segi plot, karakter, dan visual animasi yang cantik banget, tim Layar.id memberikan skor 9/10 untuk Review JUMBO. Beneran deh, nggak akan rugi nonton film ini di bioskop! Very recommended.
JUMBO tayang mulai Lebaran 2025. Udah tau kan, THR-nya mau dipakai buat apa? Yup, beli tiket nonton film JUMBO!~






