
Layar.id – Buat kamu yang suka sama visual gotik yang ajaib, Netflix baru saja merilis film animasi stop-motion keren berjudul I Am Frankelda (judul aslinya Soy Frankelda).
I Am Frankelda jadi film fitur stop-motion pertama yang diproduksi total di Meksiko. Proyek ambisius ini digarap oleh sutradara bersaudara Arturo dan Roy Ambriz, plus dimentori oleh Guillermo del Toro.
Proses produksinya memakan waktu sekitar 3,5 tahun, dengan fase animasi intens selama lebih dari dua tahun. Produksinya juga dikenal sangat kompleks karena menggabungkan berbagai teknik, mulai dari stop-motion manual, animasi tradisional, cut-out, hingga elemen live-action.
Film I Am Frankelda menceritakan tentang seorang penulis berbakat di Meksiko abad ke-19 bernama Frankelda yang kerap diabaikan karena karya-karyanya dianggap terlalu gelap dan tidak sesuai dengan selera orang-orang di sekitarnya. Meski terus ditekan untuk berhenti menulis, ia memilih bertahan dan tidak menyerah pada suaranya sendiri.
Hidupnya berubah ketika ia terseret ke dalam alam bawah sadarnya, tempat di mana semua makhluk dari cerita yang ia tulis menjadi nyata. Di sana, Frankelda bertemu Herneval, seorang pangeran yang terjebak di antara mimpi dan mimpi buruk, yang kemudian membimbingnya menghadapi kekacauan antara dunia fiksi dan realitas yang mulai runtuh.
Di tengah ancaman tersebut, muncul sosok penulis gelap bernama Procustes bersama para pengikutnya yang berusaha menguasai keseimbangan kedua dunia. Sementara itu, hubungan Frankelda dan Herneval semakin dalam, namun juga membawa konsekuensi emosional yang rumit.
Untuk menyelamatkan kedua dunia, Frankelda harus menghadapi ketakutan terdalamnya, menerima kekuatan imajinasinya, dan menentukan nasibnya sendiri sebelum karyanya berubah menjadi mimpi buruk yang tak terkendali.

Poster film I Am Frankelda (sumber: Netflix)

Sutradara I Am Frankelda (sumber: @lapiz_cero_/Instagram)
Dalam wawancara dengan Variety (11/6/2026), sutradara Arturo dan Roy Ambriz menyebut I Am Frankelda sebagai karya yang sangat personal. Bahkan, sebagian besar cerita film ini lahir dari pengalaman mereka sendiri sebagai kreator.
Keduanya mengungkap bahwa mereka sering mendapat penolakan saat mencoba mewujudkan proyek film mereka sendiri. Banyak pihak yang meragukan kemampuan mereka dan bahkan menyarankan untuk meninggalkan mimpi tersebut. Pengalaman itu kemudian mereka tuangkan ke dalam karakter Frankelda yang berjuang untuk tetap didengar sebagai seorang penulis, meski terus ditekan oleh lingkungan sekitar.
Proyek I Am Frankelda awalnya berkembang dari serial Frankelda’s Book of Spooks yang tayang di Cartoon Network Latin America pada 2021. Setelah serialnya sukses, proyek ini sempat direncanakan sebagai special 30 menit. Namun dalam proses pengembangan, ceritanya berkembang terlalu besar hingga akhirnya diubah menjadi film layar panjang.
Setiap karakter dibuat dengan pendekatan manual, mulai dari cetakan resin, sculpting, hingga kostum yang dijahit tangan. Bahkan setelah masuk tahap digital seperti 3D printing, proses akhir tetap dikerjakan secara fisik untuk menjaga tekstur khas stop-motion.
Desain dunia film ini juga terinspirasi dari ilustrasi klasik abad ke-19, termasuk karya Gustave Dore, yang dikenal dengan gaya visual gelap dan monumental.
Dikutip dari The Wrap (15/6/2026), kedua sutradara menyebut Guillermo del Toro berperan sebagai mentor yang memberikan feedback, membantu proses distribusi, serta mendukung pengenalan proyek ini ke Netflix.
Buat kalian yang mau nonton, I Am Frankelda tayang di Netflix mulai 12 Juni 2026.






