Review Backrooms, Liminal Space dan Trauma Mendalam

Adiyasa PrahendaFilm Barat4 hours ago49 Views

Review Backrooms

Layar.id – Tidak banyak film yang berani mengadaptasi fenomena internet dan tetap mencoba menawarkan sesuatu yang berbeda. Backrooms adalah salah satunya. Terinspirasi dari creepypasta dan video viral karya Kane Parsons, film ini tidak sekadar menjadikan lorong kuning dan ruangan kosong sebagai alat menakut-nakuti penonton. Sebaliknya, Backrooms justru lebih tertarik mengeksplorasi rasa kesepian, obsesi, dan tekanan psikologis yang muncul ketika seseorang terjebak di tempat yang seolah tidak memiliki akhir.

Cerita film ini berpusat pada eksperimen milik A-Sync, sebuah perusahaan yang berhasil menciptakan ruang liminal dengan struktur yang terus berkembang tanpa batas. Ketika Clark masuk ke dalam ruang tersebut, ia menemukan sesuatu yang jauh lebih mengerikan daripada sekadar labirin tak berujung. Ruangan itu perlahan menjadi refleksi dari ketakutan, trauma, dan kondisi mental para karakter yang terjebak di dalamnya.

Ceritanya Beneran Berbeda

Chiwetel Ejiofor di Backrooms

Chiwetel Ejiofor (sumber: IMDb/A24)

Di sinilah Backrooms menunjukkan identitasnya. Bagi penonton yang mengharapkan survival horror penuh monster dan aksi kejar-kejaran, film ini mungkin terasa berbeda dari ekspektasi. Fokus utamanya bukan pada ancaman fisik, melainkan bagaimana karakter menghadapi tekanan psikologis yang terus menghantui mereka. Ruangan kosong yang terlihat sederhana justru menjadi sumber ketegangan utama sepanjang film.

Pendekatan tersebut membuat Backrooms terasa lebih sesak dibandingkan menyeramkan. Banyak momen yang sengaja membangun rasa tidak nyaman melalui keheningan, lorong yang tidak berujung, serta ketidakpastian mengenai apa yang sebenarnya menunggu di balik setiap sudut. Film ini memahami bahwa terkadang ketakutan terbesar datang dari imajinasi penonton sendiri.

Renate Reinsve Contoh Kekuatan dari Film

Renate Reinsve di Backrooms

Renate Reinsve (sumber: A24)

Dari sisi akting, Renate Reinsve tampil sebagai salah satu elemen terkuat dalam film. Ia berhasil membawa beban emosional karakternya dengan meyakinkan dan membuat setiap konflik terasa personal. Sementara itu, Chiwetel Ejiofor menghadirkan sosok yang perlahan kehilangan kendali atas dirinya sendiri. Meski porsinya terasa berkurang menjelang akhir cerita, penampilannya tetap memberikan fondasi emosional yang kuat. Kehadiran Lukita Maxwell juga membantu memberikan dinamika tambahan di tengah suasana film yang cukup muram.

Visual Kekuatan Utamanya

Film Backrooms

film Backrooms (2026) (sumber: IMDb/A24)

Namun kekuatan terbesar Backrooms tetap berada pada visualnya. Film ini berhasil menerjemahkan konsep liminal space ke layar lebar dengan sangat efektif. Lorong-lorong kosong, ruangan yang tampak belum selesai dibangun, hingga pencahayaan yang terasa tidak alami menciptakan atmosfer yang membuat penonton terus merasa gelisah. Bahkan ketika tidak ada apa pun di layar, film ini masih mampu membuat penonton menunggu sesuatu yang buruk akan terjadi.

Backrooms mungkin bukan film creepypasta yang paling menakutkan dalam arti tradisional. Namun, ia menawarkan pengalaman horor yang lebih psikologis dan atmosferik. Film ini memanfaatkan rasa asing terhadap ruang yang seharusnya familiar, lalu mengubahnya menjadi sumber kecemasan yang terus menghantui hingga kredit penutup bergulir.

Film Backrooms kita kasih rating: 8/10

Karya yang dimuat ini adalah tanggung jawab penulis seperti yang tertera, dan tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi layar.id.

Loading Next Post...
Follow
Sidebar Search Trending
Popular Now
Loading

Signing-in 3 seconds...

Signing-up 3 seconds...