Review Tumbal Proyek, Banyak Missleading

Adiyasa PrahendaFilm1 month ago1.9K Views

Review Tumbal Proyek

Layar.id – Sebenarnya film ini mau jadi apa? Horror proyek tumbal, drama keluarga, thriller investigasi, zombie terror, sampai sentuhan klenik bercampur simbol religi semuanya lempar atau masukkan ke satu wadah bernama Tumbal Proyek. Pertanyaannya, apakah semua campuran itu berhasil bikin film terasa segar atau justru kehilangan arah? Berikut review Tumbal Proyek dari kami.

Ceritanya bermula dari rasa penasaran atas kematian misterius ayahnya di sebuah proyek pembangunan jembatan terpencil, Yuda (Kiesha Alvaro) nekat membawa ibu dan adiknya tinggal dekat lokasi proyek demi mencari jawaban. Namun penyelidikan itu perlahan membuka sesuatu yang jauh lebih gelap: dugaan praktik pesugihan proyek yang melibatkan pengorbanan nyawa pekerja hingga teror supranatural yang mulai mengincar keluarganya.

Premis Menarik, Tapi Ceritanya Kehilangan Kendali

Review film Tumbal Proyek

(sumber: Dee Company)

Sebagai debut panjang Jero Point sebagai sutradara, sebenarnya ada banyak hal yang patut diapresiasi. Secara teknis, Tumbal Proyek tidak terasa seperti karya filmmaker pemula. Atmosfer proyek konstruksi terasa cukup meyakinkan, tensi horornya sesekali bekerja, dan visual filmnya punya ambisi yang terlihat jelas.

Masalahnya mulai terasa ketika JeroPoint tidak mampu menjaga fokus ceritanya sendiri.

Awalnya, Tumbal Proyek terlihat ingin menjadi thriller misteri tentang kematian pekerja dan praktik tumbal proyek. Setup ini sebenarnya cukup menarik karena dekat dengan urban legend yang sering terdengar di Indonesia. Namun, seiring berjalan cerita, film mulai melompat terlalu jauh ke berbagai arah. Kaya ritual pengorbanan, kesurupan massal, body horror, sampai nuansa zombie apocalypse yang terasa datang begitu saja.

Perubahan tonal seperti ini bukan hal buruk kalau bangunnya secara konsisten. Sayangnya, di Tumbal Proyek, transisi antar elemen terasa terlalu mendadak sehingga ketegangan yang sempat terbangun justru pecah oleh kebingungan. Penonton pun akan bertanya-tanya, sebenarnya ancaman utama film ini apa?

Ketika Detail Cerita Justru Mengganggu Immersion

(sumber: Dee Company)

Masalah lain muncul dari beberapa detail penulisan yang terasa kurang matang.

Salah satunya adalah hubungan ayah Yuda yang memang memiliki hubungan dengan perempuan lain di proyek. Mengingat film cukup menampilkan simbol dan elemen religius Kristen/Katolik sebagai bagian penting narasi, absennya penjelasan mengenai konteks hubungan ini terasa mengganggu. Apakah ini perselingkuhan, manipulasi, atau memang bagian dari konflik karakter? Mereka tidak berikan ruang penjelasan yang cukup sehingga malah terasa seperti detail yang menggantung.

Hal serupa juga muncul dalam penggunaan simbol religius tertentu. Ketika simbol agama digunakan sebagai bagian penting atmosfer horor, penonton tentu akan mempertanyakan seberapa jauh riset dan pemahaman film terhadap makna simbol tersebut. Sayangnya, beberapa penggunaan simbol terasa lebih seperti perangkat visual horor dibanding elemen yang benar-benar punya fungsi naratif.

Kiesha Alvaro Tampil Kurang Meyakinkan

Di antara seluruh pemain, penampilan Kiesha Alvaro justru terasa paling tidak stabil. Ada beberapa momen emosional yang seharusnya menjadi titik berat cerita, tetapi delivery dialog dan respons emosinya belum selalu terasa meyakinkan. Dialek serta pembawaan karakternya juga terkadang terasa belum benar-benar menyatu dengan dunia film.

Sebaliknya, Karina Suwandi dan Callista Arum justru tampil lebih konsisten dan mampu memberi bobot emosional yang lebih kuat di tengah cerita yang cukup berantakan.

Visual Gore Jadi Nilai Jual Utama

(sumber: Dee Company)

Kalau ada satu aspek yang benar-benar berhasil dijual Tumbal Proyek, jawabannya ada di visual gore. Film ini tidak ragu memperlihatkan sisi brutal dari konsep “tumbal proyek” dengan efek yang cukup mengganggu secara visual. Bahkan di beberapa titik, elemen body horror justru terasa lebih menarik dibanding perkembangan ceritanya sendiri.

Kesimpulan

Tumbal Proyek adalah film dengan ambisi besar dan ide yang sebenarnya menarik, terutama karena mengangkat mitos tumbal proyek yang dekat dengan masyarakat Indonesia. Sayangnya, terlalu banyak elemen yang ingin mereka masukkan membuat film ini kehilangan fokus. Saat thriller investigasi berubah menjadi horor chaos tanpa transisi yang kuat, pengalaman menontonnya ikut terasa goyah.

Untuk ukuran debut, Jero Point menunjukkan potensi yang cukup menjanjikan. Namun di saat yang sama, Tumbal Proyek terasa seperti film yang terlalu ingin melakukan banyak hal sekaligus tanpa benar-benar menguasai semuanya.

Rating: 5.5/10

Karya yang dimuat ini adalah tanggung jawab penulis seperti yang tertera, dan tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi layar.id.

Loading Next Post...
Follow
Sidebar Search Trending
Popular Now
Loading

Signing-in 3 seconds...

Signing-up 3 seconds...