
layar.id – Kalau Emily selama ini dikenal sebagai mantan karyawan terbaik yang layak menjadi tangan kanan Miranda Priestly, maka The Devil Wears Prada 2 justru membalik pertanyaan itu: apakah Emily benar-benar sosok yang paling tepat di mata Miranda? Di titik inilah film ini terasa menarik, karena ia tidak lagi sekadar berbicara soal fashion, melainkan juga soal kuasa, ambisi, dan perubahan wajah industri media modern.
Di tengah skeptisisme terhadap sekuel yang datang dua dekade setelah film pertamanya, The Devil Wears Prada 2 ternyata menawarkan sesuatu yang lebih relevan dari yang banyak orang kira. Film ini bukan cuma soal busana mahal, runways, atau pertarungan ego di balik editorial mode. Ada lapisan yang lebih besar: bagaimana industri media hari ini berjuang untuk bertahan di tengah tekanan investor, sumber daya yang makin kecil, dan tuntutan untuk tetap menghasilkan keuntungan tanpa kehilangan identitas.
Dalam konteks itu, film ini terasa sangat dekat dengan realitas. Dunia yang dulu glamor kini tampak lebih rapuh. Tidak ada lagi ruang untuk romantisasi berlebihan. Semua orang dipaksa efisien, cepat, dan serba pragmatis. Dan justru di situlah The Devil Wears Prada 2 menemukan kekuatannya.

Secara naratif, film ini memperlihatkan Andy Sachs yang kembali ke Runway sebagai feature journalist. Dari sana, cerita bergerak ke pertemuan dengan narasumber bernama Sasha Barnes, yang membuka banyak lapisan baru dalam konflik yang dibangun film ini. Di saat yang sama, Emily hadir sebagai sosok yang jauh lebih tajam, pendendam, dan berkuasa di tempat kerja lamanya.
Peralihan fokus ini membuat film terasa segar. Ia tidak lagi menempatkan Miranda semata sebagai pusat kekuasaan, tetapi justru mengajak penonton melihat bagaimana struktur industri itu sendiri berubah. Ada rasa frustrasi yang terus mengiringi cerita: ke mana Runway akan pergi, siapa yang masih peduli pada visi, dan siapa yang sebenarnya cuma bertahan karena sistem belum benar-benar runtuh.
Tokoh Jay Ravitz dengan rencana ekstremnya untuk memangkas Runway hingga menyisakan satu departemen juga mempertegas hal itu. Di titik tersebut, film ini bukan hanya bicara soal konflik personal, tetapi juga soal perusahaan yang perlahan kehilangan arah.

Dari sisi akting, film ini punya banyak momen solid. B.J. Novak sebagai Jay Ravitz tampil sangat mencuri perhatian. Ia memerankan karakter itu dengan dingin, licin, dan penuh kontrol, sehingga setiap kemunculannya terasa mengancam. Setelah cukup lama lebih banyak bekerja di balik layar, Novak kembali membuktikan bahwa ia masih punya taji sebagai aktor.
Meryl Streep dan Anne Hathaway juga tetap menjadi daya tarik utama. Ada dinamika menarik di antara keduanya, seolah-olah mereka kini berdiri di titik yang berbeda tetapi sama-sama memahami kerasnya dunia yang mereka tempati. Sementara itu, Emily Blunt tampil paling berlapis. Ia jauh lebih kejam, lebih tegas, tetapi di saat yang sama tetap memperlihatkan kerentanan dalam usahanya mencari validasi. Itu yang membuat penampilannya terasa kuat! Karena ia tidak sedang bermain aman.

Secara visual, film ini juga terasa berbeda. New York tidak lagi menjadi satu-satunya pusat perhatian. Ada nuansa yang lebih modern, dengan sentuhan teknologi, subway yang terasa lebih mutakhir, dan perpindahan latar ke Milan serta Lake Como yang memberi kesan bahwa fashion masih punya akar kuat di Eropa.
Beberapa lokasi baru seperti Hamptons juga memberi energi berbeda pada film ini. Bahkan pemilihan ruang ekonomi di pesawat terasa seperti statement bahwa status dan kelas sosial kini tidak lagi bisa dibaca sesederhana dulu. Dunia Miranda pun ikut mengalami penurunan kelas ketika budget bukan lagi sesuatu yang bisa ditopang dengan mudah.

Pada akhirnya, Review The Devil Wears Prada 2 menunjukkan bahwa film ini bukan sekadar sekuel nostalgia. Ia mencoba bicara lebih besar dari itu: tentang media, kekuasaan, vendor yang ingin terlihat visioner, dan dunia fashion yang makin sulit menemukan relevansi baru. Tidak semua penonton mungkin akan suka dengan arah ceritanya, tetapi justru di situlah film ini punya identitas.
Buat saya, The Devil Wears Prada 2 adalah film yang lebih cerdas daripada yang banyak orang duga, meski tidak sepenuhnya akan jadi favorit semua orang. Nilainya? 7/10.






