
Layar.id – Apa sih dari film yang terlihat jelas mirip dengan Film Religi atau Film keluarga? Itulah yang terjadi di Rumah Tanpa Cahaya. Sebuah Film keluarga Religi dengan kisah penuh dengan rasa unik dan nyaman. Pertanyaannya, apakah ia senyaman itu? Begitulah Review Rumah Tanpa Cahaya kali ini.
Ceritanya dari keluarga Qomar dengan Nurul. Mereka punya kedua anak, pertama Samsul dan kedua Azizi. Keduanya memang saling bantu satu salam lain. Namun, bencana datang dan mengubah semua kisah mereka. Penasaran review kali ini? Simak berikut ini.

Sebenarnya dari segi cerita Odi Harahap sendiri berikan treatment berbeda. Namun, dari segi supervisi, seharusnya Dedi Mizwar punya kesan berbeda. Namun, inilah yang terjadi dalam film Rumah Tanpa Cahaya. Pesan yang mereka mau itu adalah sosok ibu yang selama ini jadi tumpuan mereka.
Saat ibu Nurul tidak ada apa yang terjadi? Semuanya chaos dan beneran bikin orang kelimpungan. Namun, itu baru satu. Segala cara mereka lakukan namun satu sisi inilah yang bikin mereka bertiga sadar bahwa tanpa ibu atau perempuan mereka akan rapuh.
Dari sisi inilah kita bisa melihat betapa rapuhnya para lelaki dalam satu rumah. Meskipun kesannya ini lebih cocok jadi pembelajaran bahwa anak dan bapak itu saling bahu membahu untuk keluar dari masalah ini.
Kemudian, munculnya Aura dalam cerita ini agak sedikit belok cerita lebih ke arah yang sebenarnya kalau mau nangkap kaya “Anda cari instant, Maka Tuhan Ambil juga dengan Instant.” Itulah yang mau coba perlihatkan, meskipun jatuhnya sih terlalu gamang di segi cerita.
Tapi, momen saat belanja dengan Ibu Nurul adalah momen paling menusuk hati dan penuh dengan rasa tidak enak sekali. Serasa air mata mau tumpah saja.

Donny Damara dan Ira Wibowo adalah Cast terbaik dari segi apapun. Penyampaian pesan dan juga elogi dari emosional mereka pun terasa sekali. Donny Damara adalah bukti kalau ia bisa tampilkan karakter yang benar-benar hampa dan kosong.
Kedua anak mereka, Samsul oleh Ridwan Ghany beneran bisa kasih aura berbeda. Sedangkan Azizi oleh Lavicky Nicholas ini rasanya kaya punya kesan berbeda dari kakaknya. Meskipun ini semua bisa jadi pembelajaran kalau sosok ibu akan jadi penyangga bagi mereka berdua.
Namun, Dea Annisa sendiri malah perlihatkan kesan berbeda. Aktingnya jauh berkelas dan pastinya punya pesan tersirat sekali dalam setiap emosi yang ia keluarkan.
Kemunculan Ence Bagus pun malah jadi komedi tersendiri, satu sisi juga sosok Dedy Mizwar sendiri malah muncul di sebuah iklan.

Inilah tantangan dari film dengan budget minimal tapi rasanya tuh kaya film. Hasilnya ada karya tulus dari akting para pemeran. Sedangkan sinematografi sendiri rasanya kaya biasa dan sederhana. Tidak terlihat megah tapi ngena.
Jadi inilah jawabannya, Film ini lebih sederhana namun banyak sekali pesannya. Jadi kita bisa dapat angka 9/10 deh!






