
Layar.id – Pertama kalinya menonton Serial VIDIO dengan judul Roman Dendam. Sebuah serial aksi pertama dengan koreo yang sesungguhnya simpel dan cerita yang memang penuh dengan pesan. Tomi Dewo seperti menyisipkan sebuah arti dari Roman Dendam, kalau semua orang bisa dendam ke siapapun itu pembunuh keluarga dekatnya. Namun, bukan itu yang kami bahas, melainkan sebuah pesan dari review Roman Dendam kali ini.

Sebenarnya sih kita mau bahas bagaimana serial ini punya potensi kuat bahas hal tabu yang tak pernah ada di serial aksi lainnya. Ibaratnya Drama Opera Sabun sendiri sangat jarang bahas beginian. Atau mungkin inilah bangkitnya serial aksi yang kita tunggu?

Sebenarnya seberapa complicated kalau kita ikutin dari episode pertama. Tapi, tiga episode awal sendiri sudah menjelaskan siapa saja dan kenapa mereka bisa saling bunuh. Bahkan di episode kedua sangat gamblang sekali penjelasan soal siapa sosok dibalik pembunuhan wartawan ini.
Hal inilah yang membuat karakter seperti Barli dan Tiana sendiri jadi kuat sekali. Belum lagi presence dari Rei dan Benny sendiri masih belum terkuak motifnya. Namun, saya notice banget karakter Komaruddin ini lebih punya porsi besar di cerita.
Karena itu, kehadiran Tiana dan Barli atau Rama sendiri adalah kekuatan dari serial ini. Keduanya memang dapat bantuan dari Jalu dan Ceker. Harus nonton lanjutannya seh, karena banyak sekali alur cerita yang belum tahu endingnya seperti apa.
Harapannya seh jalur ceritanya tidak bertele-tele atau terlalu banyak filler seperti serial detektif atau aksi lainnya. Karena serial ini sudah jelas arahnya kemana dan motifnya. Sangat berpotensi punya daya tarik besar sekali.

Beneran ini, Abimana selalu saja berikan kesan berbeda. Aktingnya di Serigala Terakhir saja sudah bikin terkesima. Kalau ini malah kesannya jauh lebih bagus dan matang. Jadi sosok pembunuh bayaran berdarah dingin namun punya empati dan pikiran bahwa ini semua jebakan.
Kemudian, Tiana perankan oleh Tatjana Saphira sendiri berikan kesan berbeda. Sebenarnya range emosi Tatjana saat perkelahian itu lebih powerful lagi dan sebisa mungkin hindari koreo berlebihan deh. Namun, overall masih dalam kadar bagus banget.
Sedangkan Agus Kuncoro dan Faradina Mufti punya porsi yang pas. Bahkan dominasi mereka berdua sebenarnya bisa jadi filler saat keduanya muncul. Sepatutnya sih, Agus Kuncoro harus punya porsi lebih besar di episode berikutnya neh.
Faradina mungkin jadi pilihan tepat untuk menutupi bagian Abimana yang tidak akan bisa dia cover lagi. Apalagi Tatjana sendiri adalah korban dari masalah besar ini. Harusnya seh lebih seru kalau mereka bertiga seandainya gigit balik sosok tersebut.
Oh iya, lupa mention Kiki Narendra adalah Serigala Berbulu Domba! Beneran sebagus itu jadi orang jahat dengan topeng orang baik.

Ya ukuran sebuah produksi serial sendiri sudah oke banget. Tidak perlu set dengan biaya besar dan juga bisa saja gunakan beberapa lokasi yang familiar dengan cerita keseharian kita. Inilah kunci utama agar lebih relate dengan penonton saat ini.
Belum lagi beberapa set juga tergolong unik dan jauh berbeda dari kebanyakan serial TV. Menariknya seh, beberapa kali shooting di pasar yang sempit itu bikin kita mikir apakah ini lebih more humble daripada serial TV lainnya? Atau more realism daripada serial TV lainnya? Namun saat ini masih mendekati kok dari apa yang Tommi Dewo mau juga.
Jadi kesimpulannya adalah dari sinematografi sampai akting terus cerita sendiri okelah tapi pembuktiannya adalah di episode akhir. Sementara ini, kita kasih nilai 7.5/10 dulu deh untuk review roman dendam! Dan Roman Dendam Tayang di Vidio setiap Jumat jam 7 Pagi!






