Tinggal Meninggal, Gema, Antara Teman dan Orang Tua

Adiyasa PrahendaFilm7 months ago410 Views

Film Tinggal Meninggal

Layar.id – Mungkin bagi sebagian orang, Gema adalah sosok paling aneh. Namun satu sisi, Gema sendiri merasa kalau ia adalah orang yang punya berbagai macam skenario di kepala. Entahlah, echo chamber di tengah Open Office sebuah Creative Agency yang dipimpin oleh Tjokro dan beberapa tim seperti Kerin, Danu, Adriana, Ilham dan Naya. Inilah Tinggal Meninggal, sebuah konsep baru dari Kristo untuk menemukan jati diri seorang ADHD di tengah dunia yang sepertinya belum bisa memaklumi karakter orang dengan ADHD tersebut.

Memang film ini menempatkan Gema sebagai bukan sekedar nama, melainkan berfungsi sebagai pantulan kata, berikan ruang buat perasaan yang memang tenggelam oleh tawa atau terlipat oleh ombak pekerjaan tiada henti. Namun, kenapa karakter Gema oleh Omara Esteghlal ini begitu menarik? Kita bahas dulu karakter Gema di Tinggal Meninggal dan seberapa relate orang seperti mereka ini ada di sekitar kita.

Pertama, Atensi dari Karakter

Pertama, soal atensi yang berbeda dari beberapa sudut karakter. Mungkin kita melihat Gema sebagai tokoh utama selalu berkomunikasi ke penonton. Padahal ia sendiri merencanakan itu dengan sosok anak kecil yang merupakan sosoknya sendiri.

Kemudian sosok lain seperti Danu yang mencoba berbohong lewat liburan dan Naya yang memang lebih condong ke arah ya sudahlah. Dan Kerin yang ngemong ke Gema. Perlihatkan semua karakter ini possible punya traits berbeda. Namun, Gema sendiri berbeda, ia seperti hiperaktif dan lakukan hal yang buat orang aneh. Yes, Gema sering “ngomong sendiri”, mudah terdistraksi, atau tampak hiperaktif. Semua ini bisa terbaca lewat lensa ADHD.

Bukan berarti stigma ini beneran bikin orang dengan ADHD itu punya sifat buruk. Bahkan bukan stigma, tetapi bagaimana otak mereka bekerja dan mudah rentan jenuh ketika berhadapa dengan rangsangan berlebih dan tuntutan multitasking.

Penelitian menunjukkan bahwa orang dengan ADHD cenderung melaporkan tingkat kesepian lebih tinggi dan lebih mudah kewalahan di setting kerja yang menuntut fokus berkelanjutan—sebuah kondisi yang sering hadir di agensi kreatif (studies on ADHD and loneliness). Maka wajar bila perilaku humoris dan cepat di film terasa seperti strategi bertahan—masking yang menutup kecemasan munculkan performa “berfungsi”. (Bowlby & Ainsworth; studi meta tentang ADHD dan kesepian)

Tinggal Meninggal pun terlihat jelas kalau kegiatan di dalam dunia Agency Creative itu sendiri terpancar jelas. Layar, ritme adegan cepat dan monolog lebih sering. Membuat film ini bisa hadirkan humor yang buat orang biasa lucu banget. Tapi buat orang ADHD akan sangat relate dan seperti cermin saja, melihat Gema dan kita adalah satu kesatuan.

Kedua, Gema Harus Dealing dengan Situasi

Kedua, Melihat budaya kantor Agensi sendiri memperlihatkan bagaimana tuntutan kreatif selama 24/7. Kemudian adanya produktivitas dan kegamangan emosional dari Gema itu sendiri.

Karena itu, lelucon dan jokes sendiri sampai gaya berpakaian sendiri malah jadi mata uang sosial di tengah situasi burnout tersebut. Satu sisi, produktivitas sendiri jadi nilai yang jamak tanpa ada KPI yang tepat alias semu. Studi-studi tentang budaya kerja kreatif menunjukkan bahwa beban kerja tinggi, jam panjang, dan minimnya dukungan emosional meningkatkan risiko stres dan burnout.

Apalagi bagi mereka yang punya kemungkinan neurodivergent. Ketika empati kalah cepat oleh KPI, “teman kerja” jadi rekan tugas, bukan pendengar. (riset workplace mental health; Hung & Kembaren 2024-type findings)

Ketiga, Rumah Cuma Ruang Transaksional

Ketiga, rumah sebagai ruang transaksional. Gema tumbuh dalam keluarga yang fungsinya lebih praktis: aturan, nafkah, logistik—bukan tempat untuk menumpahkan perasaan.

Dalam istilah psikologi perkembangan, pola asuh semacam ini—kasih sayang rendah dengan kontrol tinggi—sering disebut affectionless control.

Dampaknya adalah anak belajar menekan ekspresi, menginternalisasi bahwa emosi tidak membawa respons; lama-lama terbentuk model diri yang rapuh dan kecenderungan menghindar dalam hubungan intim. Attachment theory (Bowlby/Ainsworth) memberi kerangka baru dalam hubungan. Terutama avoidant, dalam perasaan muncul ketika kebutuhan emosional sering diabaikan, menghasilkan perilaku “mandiri” yang sebenarnya menyamarkan kesepian. (Otani et al., Jeon & Park; Bowlby/Ainsworth)

Keempat Saat Kepergok Semua Berubah

Keempat, peran Gema sendiri adalah Echo Chamber dari semuanya. Pas adegan di lift, rasanya membuka tabir kalau Gema ini membuka semua hal. Mulai dari Danu bohong soal liburan ke luar negeri. Kemudian, Ilham ternyata Keponakan Pak Cokro dan Pak Cokro dengan imajinasi liar tentang nyokapnya Gema.

Semuanya punya perasaan yang bisa diproses, mungkin namanya reflective listening. Tapi, semuanya itu tidak akan ada pemicunya apabila sebuah lingkungan keluarga dari kecil dan pertemanan di kantor itu semata pure karena ingin diperhatikan. Namun terkadang menjadi Gema adalah kita yang selalu kesepian dan ingin orang sekitar mendengar apa kata kita. Namun apa daya, segala cara sampai tergila pun bisa bilang adalah cara yang beneran bikin gila.

Karya yang dimuat ini adalah tanggung jawab penulis seperti yang tertera, dan tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi layar.id.

Loading Next Post...
Follow
Sidebar Search Trending
Popular Now
Loading

Signing-in 3 seconds...

Signing-up 3 seconds...