
Layar.id – Setelah sukses lewat Waktu Maghrib (2023), sutradara Sidharta Tata kembali menyiapkan film horor terbaru berjudul Slaughterground (Hujan Kematian). Meskipun dalam tahap pengembangan, proyek ini sudah curi perhatian industri film internasional.
Itu karena premis supernatural tidak biasa dan sekaligus prestasi penting di ajang Network of Asian Fantastic Films (NAFF) 2026 merupakan bagian dari Bucheon International Fantastic Film Festival (BIFAN) di Korea Selatan.

Slaughterground mengusung genre supernatural survival horror dengan latar Indonesia pada tahun 1966. Ceritanya mengikuti perjalanan seorang ibu dan anak tirinya yang terjebak di sebuah wilayah terkutuk.
Ancaman terbesar datang setiap kali hujan turun. Alih-alih air, langit justru menurunkan kawanan belalang mematikan yang mengubah hujan menjadi bencana. Keduanya harus bertahan hidup, mengesampingkan konflik pribadi, dan menemukan jalan keluar sebelum badai berikutnya kembali membawa kematian.
Premis tersebut menjadi salah satu daya tarik utama film ini karena memadukan horor supranatural dengan elemen survival yang jarang diangkat dalam perfilman Indonesia.

Film ini merupakan adaptasi dari komik Locust, karya Iskandar Salim. Dengan pembaca lebih dari 1 juta kali.
Dengan materi cerita yang sudah memiliki basis penggemar. Versi filmnya harapannya mampu menghadirkan skala horor yang lebih besar sekaligus mempertahankan atmosfer mencekam dari versi komiknya.
Slaughterground produseri oleh Ajish Dibyo dan Pramudya Andika bersama Annisa Adjam sebagai co-producer.
Proyek ini produksi oleh Aftersun Creative bekerja sama dengan Nuon Film, Kosmik, Kebon Studio, dan Spasi Moving Image.
Sementara itu, Sidharta Tata sendiri terus memperkuat reputasinya sebagai salah satu sutradara horor Indonesia yang konsisten menghadirkan karya berkualitas. Setelah meraih lebih dari 2,4 juta penonton lewat Waktu Maghrib, ia juga membawa Respati ke BIFAN dan Ikatan Darah melakukan world premiere di Fantastic Fest, Austin, Amerika Serikat.

Meski belum memasuki tahap produksi, Slaughterground sudah mencatat pencapaian penting di tingkat internasional.
Proyek ini menjadi salah satu dari 12 proyek terpilih di NAFF Project Market 2026 setelah melewati proses seleksi dari 258 proposal yang berasal dari 47 negara. Selama mengikuti rangkaian acara, tim produksi juga menjalani puluhan pertemuan bisnis dengan calon investor, distributor, hingga mitra ko-produksi internasional.
Pada malam penganugerahan NAFF Awards. Slaughterground berhasil membawa pulang tiga penghargaan sekaligus, yaitu Abnormal Studios VFX Award, Mocha Chai Laboratories Post Production Award, dan Hive Filmworks Inc. Cash Award.
Dukungan tersebut akan membantu proses efek visual, pascaproduksi, hingga pendanaan agar film ini dapat segera memasuki tahap produksi.
Menanggapi pencapaian tersebut, tim produser menyatakan penghargaan ini menjadi dorongan besar untuk mengembangkan Slaughterground dengan standar kreatif dan produksi yang lebih tinggi, sekaligus membuka peluang kolaborasi internasional agar kisah yang berakar dari Indonesia dapat menjangkau penonton di berbagai negara.
Keberhasilan di BIFAN menjadi langkah awal bagi perjalanan Slaughterground. Saat ini Aftersun Creative bersama seluruh tim produksi masih membuka peluang kerja sama dengan investor, sales agent, dan mitra ko-produksi internasional sebelum film memasuki proses syuting.
Dengan premis yang unik, adaptasi dari komik populer, serta dukungan industri internasional sejak tahap pengembangan, Slaughterground (Hujan Kematian) menjadi salah satu film horor Indonesia yang paling menarik untuk dinantikan dalam beberapa tahun ke depan.






