
Layar.id – Horor Indonesia sendiri beberapa tahun kali ini semakin sering berakar pada mitos dan budaya lokal. Dan kali ini Lastri Arwah Kembang Desa berikan jalur berbeda dari film horor lainnya. Dengan nuansa horor yang mengingatkan pada film era 1990-an dan awal 2000-an. Melihat set lokasi sampai ceritanya pun terasa membumi. Namun, konflik utama mereka terlihat ambisius sampai akhirnya kehilangan fokus. Begini Review Lastri Arwah Kembang Desa.
Menceritakan berpusat pada Lastri, seorang kembang desa yang harus hidupnya hancur karena masalah keturunan. Terus Turenggo menceraikannya dan harus berpaling ke Atmi. Namun, film ini membuka kenyataan pahit dari Turenggo yang membuat Lastri menuntut balasan ke orang yang punya relasi kuasa.

Melihat dari atas kertas pun bagi kami film ini menawarkan apa yang sebenarnya sudah tidak pernah hdir di layar bioskop. Mulai dari konsep cerita dengan selipan komedi terus tersambung dengan entitas tersebut.
Namun sisi lain, rangkaian Plot Twist ini memang bikin cerita sulit ketebak sekali. Di atas kertas, rangkaian plot twist tersebut memang membuat cerita sulit ditebak. Namun di sisi lain, film terasa terlalu padat dengan berbagai konflik yang terus berdatangan.
Soal pengkhianatan rumah tangga, stigma buruk terhadap perempuan dan kekerasan seksual. Menjadikan film ini cukup banyak angkat masalah pelik di kehidupan masyarakat yang selama ini tertutupi oleh hectic-nya dunia.
Kemudian, soal masalah hubungan ayah dan anak ini cukup pelik dan pastinya banyak sekali dalam sau rangkaian cerita penting. Alih-alih menjadikan konflik ini sebagai bahan bakar. Malah sebagian konflik justru membuat fokus cerita terpecah sehingga dampak emosionalnya tidak selalu tersampaikan dengan maksimal.
Padahal, fondasi drama yang dibangun sebenarnya cukup menarik. Sayangnya, film lebih memilih menumpuk berbagai konflik dan plot twist dibandingkan memperdalam dampak emosional dari setiap pengungkapannya.
Di sisi lain, Lastri Arwah Kembang Desa cukup berhasil membangkitkan nuansa horor klasik Indonesia. Tata artistik dan visualnya menghadirkan nostalgia film maupun FTV horor era 1990-an hingga awal 2000-an dengan kualitas produksi yang lebih modern.
Sisipan humor juga hadir sebagai jeda di tengah cerita. Beberapa adegan terasa efektif mencairkan suasana, meski di momen tertentu justru membuat intensitas horor yang sedang dibangun sedikit kehilangan momentumnya.

Dari sisi penampilan pemain, almarhum Gery Iskak menjadi salah satu kekuatan terbesar film ini. Karismanya membuat setiap kemunculannya terasa penting dan berhasil memperkuat atmosfer cerita. Hana Saraswati juga tampil solid dengan membawa perubahan emosi Lastri dari sosok yang terluka hingga berubah menjadi arwah penuh amarah.
Sayangnya, kekuatan keduanya belum sepenuhnya imbangi para pemain pendukung. Beberapa karakter terasa kurang berkembang sehingga tidak semua konflik mampu memberikan dampak emosional yang sama kuat.

Pada akhirnya, Lastri Arwah Kembang Desa berikan upaya menarik untuk hidupkan kembali formula horor klasik Indonesia. Dengan atmosfer yang tepat pun berhasil membangun rasa nostalgia yang sekarang ini sulit sekali kita temukan.
Namun, ambisi ini terlalu banyak konflik dan plot twist sepertinya buat cerita ini kehilangan fokus di sejumlah bagian. Namun, tetap menawarkan pengalaman unik dan dan penonton sangat suka dengan bagian dalam film ini.
Jadi Review Lastri Arwah Kembang Desa kita kasih angka 7/10 deh!






