
Layar.id – Kalau ingin melihat bagaimana sebuah dedalu mampu mengubah hidup seseorang, atau bagaimana obsesi seorang lelaki bisa melampaui batas logika demi hidup bersama perempuan idamannya, Obsession karya Curry Barker menawarkan gambaran yang mengganggu. Lewat film debutnya ini, Barker menghadirkan horor yang tidak sekadar mengandalkan sosok gaib, tetapi juga sisi paling gelap dari obsesi manusia. Begini review Obsession!
Ceritanya bermula ketika Bear menyukai Nikki, tetapi kesulitan mengungkapkan perasaannya. Alih-alih mendekatinya secara wajar, Bear memilih jalan berbeda dengan membeli dedalu agar Nikki mencintainya tanpa syarat. Premisnya terdengar sederhana, tetapi justru menjadi pembeda dari kebanyakan film horor. Sayangnya, sebagai film horor pertama Curry Barker, masih ada beberapa hal yang terasa kurang maksimal.

Kelemahan terbesar film ini ada pada ritmenya. Curry Barker terlalu lama mengeksplorasi hubungan romantis antara Bear dan Nikki sebelum benar-benar memperlihatkan dampak mengerikan dari dedalu yang digunakan Bear. Seolah-olah ia sengaja memberi penonton ruang menikmati fase “bulan madu” mereka sebelum perlahan membawa cerita ke arah yang jauh lebih kelam.
Pendekatan tersebut memang membuat perubahan emosi terasa lebih kontras. Namun, durasinya yang cukup panjang membuat ketegangan utama sedikit terlambat muncul. Padahal, efek dedalu dan perubahan perilaku Nikki merupakan daya tarik terbesar yang ditawarkan film ini.
Di sisi lain, Barker juga menyisipkan sejumlah adegan yang terasa mengganggu karena memperlihatkan bagaimana obsesi perlahan menggantikan cinta. Bear tidak lagi sekadar ingin dicintai Nikki, melainkan ingin menguasai seluruh hidupnya. Sarah yang diam-diam memiliki perasaan terhadap Bear pun justru lebih banyak menunjukkan kepeduliannya kepada Nikki, meski alasan di balik sikap tersebut tidak pernah dijelaskan secara gamblang.

Justru di situlah kekuatan Obsession. Curry Barker tidak menjelaskan semua hal secara langsung. Ia membiarkan penonton menyusun sendiri kepingan-kepingan cerita hingga babak ketiga. Film ini juga tidak mengandalkan hantu atau jumpscare sebagai sumber ketakutan. Sebaliknya, teriakan Nikki yang meminta pertolongan justru menjadi momen paling menyayat sekaligus paling menyeramkan. Horor terbesar dalam Obsession bukan berasal dari entitas gaib, melainkan obsesi manusia yang menghapus kehendak bebas orang lain.

Penampilan Inde Navarrette menjadi salah satu kekuatan utama film ini. Ia mampu membangun dua sisi karakter Nikki dengan sangat meyakinkan. Dalam satu momen Nikki masih tampak hangat dan penuh kasih, tetapi di momen lain ekspresi dan gesturnya berubah begitu drastis hingga membuat penonton mempertanyakan apakah ia masih menjadi dirinya sendiri.
Megan Lawless juga tampil mencuri perhatian sebagai Sarah. Karakternya memang tidak mendapat porsi sebesar Nikki, tetapi berhasil menghadirkan rasa putus asa sekaligus kepedulian yang terasa tulus. Sarah menjadi salah satu karakter yang paling mudah mendapatkan simpati penonton.
Sementara itu, Cooper Tomlinson dan Michael Johnston juga memberikan performa yang solid. Keduanya berhasil memperlihatkan karakter yang berada di antara penyangkalan, rasa bersalah, dan sisi gelap yang perlahan muncul seiring berkembangnya cerita.

Secara visual, Obsession memang tidak tampil berlebihan. Namun justru kesederhanaan itu menjadi kekuatannya. Pengambilan gambar di sudut-sudut rumah yang gelap, area parkiran yang sepi, hingga kemunculan Nikki dalam komposisi gambar yang sederhana mampu membangun rasa tidak nyaman secara perlahan.
Dominasi warna gelap, abu-abu, dan cokelat semakin memperkuat atmosfer muram yang ingin dibangun Curry Barker. Film ini tidak mengandalkan efek visual berlebihan, tetapi membiarkan pencahayaan dan ruang kosong menciptakan tekanan psikologis yang terasa konsisten sepanjang film.
Pada akhirnya, Obsession bukan sekadar film horor tentang dedalu atau ritual mistis. Film ini justru membedah bagaimana obsesi dapat mengubah cinta menjadi hasrat untuk memiliki seseorang sepenuhnya. Ketika kehendak bebas seseorang mulai dirampas atas nama cinta, di situlah horor sesungguhnya muncul. Dan karena terasa begitu dekat dengan kenyataan, rasa tidak nyaman yang mereka tinggalkan Obsession justru bertahan jauh lebih lama setelah film berakhir.
Pada akhirnya, Obsession membuktikan bahwa horor tidak selalu lahir dari hantu atau jumpscare. Curry Barker justru menghadirkan ketakutan melalui obsesi yang perlahan menghapus kehendak bebas seseorang. Meski ritme ceritanya terasa lambat di awal, konsep yang kuat, akting para pemain, dan atmosfer yang mencekam membuat Obsession layak menjadi salah satu horor psikologis yang patut kalian tonton. Nilai: 8,5/10.






