
Layar.id – Film Backrooms adalah horor sci-fi besutan studio A24 yang digarap oleh sutradara muda Kane Parsons yang sebelumnya dikenal lewat proyek viral di YouTube.
Adaptasi ini mengangkat konsep ruang liminal yang sudah lebih dulu populer di internet, lalu dikembangkan menjadi narasi film panjang dengan skala produksi yang jauh lebih besar.
Film Backrooms menceritakan tentang kemunculan sebuah pintu misterius di ruang bawah tanah sebuah showroom furnitur yang memicu serangkaian kejadian yang tidak dapat dijelaskan secara logika.
Cerita kemudian mengikuti seorang pemilik toko furnitur bernama Clark yang sedang menghadapi masalah pribadi dan tekanan hidup, termasuk kondisi emosional yang tidak stabil serta urusan pekerjaan yang semakin memburuk. Di saat bersamaan, berbagai gangguan aneh mulai terjadi di area tokonya, dari masalah listrik yang tidak wajar hingga tanda-tanda keberadaan ruang tersembunyi di dalam bangunan.
Di sisi lain, seorang terapis bernama Dr. Mary Kline juga terlibat dalam upaya memahami kondisi Clark yang semakin membingungkan. Situasi berkembang ketika fenomena di toko tersebut mengarah pada sesuatu yang berada di luar batas realitas yang dikenal, membuka kemungkinan adanya ruang lain yang selama ini tidak pernah disadari keberadaannya.
Baca juga: Review film Backrooms

Poster film Backrooms (sumber: A24)

Sutradara dan Pemeran Backrooms (sumber: @selashiloni/Instagram)
Mengutip wawancara bersama Variety dan IndieWire, Kane Parsons menjelaskan bahwa ketertarikannya pada dunia film sudah tumbuh sejak lama melalui internet. Ia dikenal sebagai kreator yang sangat “online”, belajar visual effect secara otodidak sejak usia sangat muda, bahkan mulai bereksperimen dengan animasi sebelum akhirnya mengembangkan proyek Backrooms di YouTube. Pendekatan ini membuatnya melihat film bukan hanya sebagai seni, tetapi juga sebagai proses teknis yang mirip problem solving.

Chiwetel Ejiofor (sumber: A24/LA Times)
Konsep Backrooms sendiri berakar dari fenomena creepypasta dan thread internet yang viral pada 2019, yang menggambarkan ruang-ruang kosong tak berujung dengan atmosfer tidak nyaman.
Kane Parsons kemudian mengembangkan interpretasi versinya sendiri melalui serial YouTube, sebelum akhirnya diadaptasi menjadi film layar lebar. Ia menegaskan bahwa tidak ada satu versi “resmi” dari Backrooms, karena konsep ini pada dasarnya lahir dari budaya internet yang terbuka dan terus berkembang.

Renate Reinsve (sumber: A24/LA Times)
Perjalanan Kane Parsons menuju film ini juga tidak melalui jalur konvensional. Ia sempat berada di persimpangan antara melanjutkan untuk kuliah atau menerima tawaran industri film, sebelum akhirnya memilih fokus pada proyek Backrooms setelah mendapat dukungan dari A24. Dalam prosesnya, ia juga mendapat bimbingan dari sejumlah nama besar di industri, yang membantunya menerjemahkan visi dari dunia digital ke layar lebar.

Kane Parsons (sumber: A24/LA Times)
Meski kini berada di industri film besar, Kane Parsons tetap mempertahankan pendekatan kreatifnya. Ia bahkan memiliki dokumen lore tebal untuk semesta Backrooms, namun sengaja tidak membebani penonton dengan terlalu banyak penjelasan. Menurutnya, cerita tetap harus bisa diakses penonton baru tanpa kehilangan ruang untuk teori dan interpretasi dari komunitas penggemar.
Film Backrooms dijadwalkan tayang di bioskop Indonesia pada 10 Juni 2026. Film ini sudah lebih dulu tayang di Amerika Serikat pada 29 Mei 2026.






