Layar.id – Film tentang hubungan antara fans dan penyanyi sudah sering muncul di layar. Tapi Shaka oh Shaka mencoba masuk ke wilayah yang berbeda. Adaptasi dari Wattpad karya Jocelyn Suherman ini tidak sekadar menjual fantasi romantis. Melainkan, hubungan tumbuh pelan, sempat indah dan perlahan retak lalu mati karena waktu, keadaan dan pilihan hidup. Itulah Review Shaka oh Shaka.
Di situlah daya tarik utamanya. Shaka oh Shaka bukan film yang sibuk memanjakan penonton dengan romansa instan. Sebaliknya, film ini justru terasa seperti sebuah hubungan yang dibangun sedikit demi sedikit. Lalu biarkan melemah dengan cara yang lebih manusiawi. Mungkin itu sebabnya film ini terasa lebih realistis bila bandingkan adaptasi Wattpad lainnya. Mungkin ada yang terlalu nyaman bermain di wilayah wish fulfillment.
15 Tahun yang Tidak Pernah Benar-Benar Stabil

Cerita berpusat pada Oxtella Ardialova alias Ocel, seorang fans yang tanpa disangka masuk ke orbit Shaka Antares, penyanyi yang sedang naik daun. Dari situ, hubungan mereka berkembang dan berjalan dalam rentang waktu 15 tahun. Ini bukan kisah cinta yang langsung meledak, melainkan hubungan yang bergerak melalui fase-fase yang berbeda, mulai dari tumbuh, menikmati momen manis, lalu masuk ke masa layu, dan akhirnya berakhir.
Yang menarik, film ini tidak membuat keretakan hubungan mereka terasa seperti drama tempelan. Ada rasa bahwa hubungan itu memang sudah dibangun sejak awal dengan fondasi yang rapuh, lalu perlahan dihantam oleh banyak hal sekaligus. Orang ketiga, keluarga, gaya hidup, dan tekanan hidup menjadi faktor yang ikut mendorong mereka ke titik akhir.

Di sini, Shaka oh Shaka terasa cukup berani. Film ini tidak memilih jalur romansa aman yang biasanya berhenti di “mereka akhirnya bersama”. Justru sebaliknya, film ini tertarik pada proses sebuah hubungan saat mulai kehilangan bentuk. Dan itu membuatnya lebih berkesan.
Adaptasi Wattpad yang Tidak Terjebak di Fantasi Murah

Salah satu nilai lebih film ini adalah caranya membawa materi Wattpad ke layar tanpa terasa terlalu “Wattpad banget” dalam arti yang klise. Bukan berarti film ini tidak romantis. Justru tetap romantis, tapi dengan pendekatan yang lebih membumi. Interaksi antara Ocel dan Shaka terasa lebih natural, tidak ada yang terlalu mengawang, dan itu yang bikin hubungan mereka lebih mudah dapat kepercayaan.
Dinna Jasanti juga terlihat berusaha memasukkan seluruh lapisan hubungan selama 15 tahun itu ke dalam satu film. Memang ada risiko di sana, karena rentang waktunya panjang dan emosi karakternya harus berubah berkali-kali. Tapi justru situlah letak tantangannya. Film ini mencoba menunjukkan bahwa cinta tidak selalu berhenti di fase jatuh cinta. Kadang ia harus hidup bersama rutinitas, perbedaan arah hidup, dan keputusan-keputusan yang tidak bisa mereka batalkan.
Hasilnya, film ini terasa lebih menarik daripada sekadar mengikuti pola drama romantis yang sudah sering dipakai. Bahkan ketika beberapa bagian terasa padat, pendekatan ini tetap memberi kesan bahwa filmnya sedang mengejar sesuatu yang lebih emosional ketimbang sekadar manis.
Akting Arla Ailani dan Kiesha Alvaro Jadi Penopang Utama

Kalau ada yang paling mengangkat film ini, jawabannya ada di dua pemeran utamanya. Arla Ailani tampil meyakinkan sebagai Ocel. Ada emosi yang terasa hidup, terutama saat karakter ini harus menunjukkan bahwa cinta bukan hanya soal bertahan, tapi juga soal menerima kenyataan yang tidak selalu menyenangkan. Arla membuat karakternya terasa punya beban, bukan cuma jadi figur romantis.
Kiesha Alvaro juga cukup solid sebagai Shaka Antares. Ia memang belum menunjukkan seluruh lapisan emosi secara maksimal, tapi saat masuk ke fase musik dan penampilan panggung, ia punya aura yang kuat. Ada momen ketika kehadirannya terasa sangat pas untuk peran seorang musisi yang sedang berada di puncak, dan itu membantu film ini tetap punya daya tarik visual sekaligus emosional.
Chemistry keduanya menjadi alasan utama mengapa hubungan Shaka dan Ocel tetap terasa hidup sampai akhir. Tanpa chemistry ini, filmnya bisa jatuh jadi kisah romantis biasa yang mudah terlupakan.
Visual, Pacing, dan Perputaran Waktu yang Cukup Efektif
Satu hal lain yang patut kami apresiasi adalah cara film ini mengatur pacing. Dengan durasi sekitar dua jam, Shaka oh Shaka tidak terasa terlalu panjang. Perpindahan waktu selama 15 tahun memang cukup ambisius, tapi film ini cukup berhasil membuatnya tetap mengalir.
Visualnya juga membantu membangun mood. Film ini tidak terlalu sibuk pamer gaya, tetapi cukup rapi dalam menjaga nuansa romantisnya. Hasilnya, penonton masih bisa mengikuti dinamika cerita tanpa merasa dipaksa mengejar perkembangan hubungan yang terlalu cepat.
Kesimpulan
Shaka oh Shaka adalah salah satu adaptasi Wattpad yang berhasil keluar dari jebakan romansa instan. Film ini lebih tertarik pada hubungan yang benar-benar tumbuh, kemudian pelan-pelan layu, dan akhirnya mati dengan konsekuensi yang terasa nyata. Itulah yang membuatnya lebih berkesan.
Memang ada bagian yang terasa padat dan tidak semuanya benar-benar sempurna, tetapi keberanian film ini untuk membumikan romansa membuatnya menonjol. Dengan akting utama yang kuat, pacing yang cukup terjaga, dan pendekatan cerita yang lebih realistis, Shaka oh Shaka pantas disebut sebagai salah satu adaptasi Wattpad yang paling punya karakter.
Rating Review Shaka oh Shaka: 7.5/10